Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Dinamainya Pulau Bromo

Muhammad Helmi • Kamis, 2 Juni 2022 | 15:35 WIB
JEMBATAN GANTUNG: Jembatan ini membuka daerah terisolir Pulau Bromo di Kecamatan Banjarmasin Selatan.
JEMBATAN GANTUNG: Jembatan ini membuka daerah terisolir Pulau Bromo di Kecamatan Banjarmasin Selatan.
JEMBATAN Pulau Bromo di Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan menarik banyak pengunjung. Saban akhir pekan, jembatan gantung sepanjang 164 meter dengan desain roller coaster itu berubah menjadi tempat wisata. Tidak hanya bagi warga Kota Banjarmasin, tapi juga warga daerah tetangga.

Mengesampingkan jembatan yang menghubungkan Kampung Ujung Benteng dan Jalan Halinau itu, banyak yang bertanya-tanya, mengapa dinamai Pulau Bromo? Sejarawan dari Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengatakan, penamaan Pulau Bromo merupakan toponim yang tidak pernah dijumpai dalam nama-nama kampung di seantero Banjarmasin. Dari risetnya, ini berkaitan dengan kapal keruk yang menjadi alat pembuatan Antasan Bromo (antasan berarti kanal atau terusan).

Catatan sejarah tentang Antasan Bromo memang minim. Padahal antasan ini dikeruk setelah masa kemerdekaan, era 60-an. "Tujuannya menunjang jalur aktivitas pelayaran dan perdagangan untuk Pelabuhan Banjarmasin yang eksis pada masa pemerintahan Presiden Soekarno," jelasnya. Kala itu, Pelabuhan Martapura Lama atau lazim disebut Pelabuhan Banjarmasin berada di penghujung kejayaannya. Dalam buku 'Kalimantan Selatan 1963-1968' ditulis tentang kawasan sekitar pelabuhan yang memiliki alur berkelok-kelok.

"Permukiman penduduk di kedua tepian sungai kian padat. Ini, menyebabkan kapal-kapal besar mengalami kesulitan untuk memasuki pelabuhan," ujarnya Untuk mempersingkat jarak menuju Pelabuhan Martapura Lama dan menghindari kelokan sungai yang tajam, pada 1960 dibuat sebuah terusan yang menghubungkan Sungai Barito dengan Sungai Martapura. Dari catatan Indonesian Shipping Directory yang terbit tahun 1974, disebutkan bahwa pada 1960-1961 dibangun sebuah kanal pendek sepanjang 500 meter dengan kedalaman 6 meter.

Kanal itulah yang menjadi cikal bakal Pulau Bromo.Berkat antasan ini, jarak pelayaran dari Sungai Barito menuju Pelabuhan Martapura Lama bisa dipangkas sekitar seperempat jam. Sisi lain, pengerukan Antasan Bromo sebenarnya menandai rencana pembangunan pelabuhan baru. Terbukti, setahun kemudian pada 1961 mulai dibangun pelabuhan yang lebih modern di Sungai Barito.
Pembangunan pelabuhan itu rampung tahun 1965 yang kemudian diberi nama Pelabuhan Trisakti.

Antasan Bromo membantu perpindahan kapal di Pelabuhan Lama dan Pelabuhan Trisakti. Mana kala diperlukan untuk mengatasi kekurangan tempat untuk tambatan kapal. Lantas, mengapa nama Antasan Bromo berubah menjadi Pulau Bromo? Menurut Mansyur, pertama, antasan umumnya adalah istilah dalam Suku Banjar yang berarti mahantas (jalan pintas). Disebut antasan sekalipun, pengerukannya memakai teknologi yang terbilang baru untuk eranya. Bukan teknologi tradisional.

Setelah pengerukan, kawasan itu berubah bentuk layaknya sebuah pulau. Menelusuri legenda, Bromo berasal dari nama Brahma. Gunung yang dianggap suci oleh masyarakat Suku Tengger di Jawa Timur. Satu di antara gunung bera i aktif di Tanah Jawa. Mansyur lantas berpendapat, terdapat dugaan mengapa wilayah ini dinamakan Pulau Bromo. Menjelang pembukaan antasan ini tahun 1960-1961, diperbantukan kapal keruk bernama Bromo untuk menambah kedalamannya. Kapal keruk ini dibeli tahun 1952 oleh pemerintah Orde Lama.

Kapal keruk itu menjadi fasilitas Pelabuhan Nusantara I area pelabuhan Tanjung Priok yang ditetapkan sebagai Perusahaan Negara. Pembelian kapal keruk memang selalu menjadi prioritas Orla. Bahkan dituangkan dalam Keputusan Presiden (Keppres) No 108 Tahun 1961. Total, Pelabuhan Tanjung Priok memiliki 11 kapal keruk. Yakni Bromo, Semeru II, Singgalang, Tambora X dan lainnya. Umumnya menggunakan nama gunung-gunung.

Tugasnya mengeruk alur-alur pelayaran, kolam pelabuhan dan lokasi lain yang memerlukan jasa keruk. "Dari beberapa kapal keruk milik Pelabuhan Tanjung Priok, Kapal Keruk Bromo itulah yang beroperasi di Banjarmasin," ujarnya. "Menurut masyarakat setempat, kapal ini kerap sandar di sekitar lokasi pengerukan. Akhirnya masyarakat mengenal nama antasan itu sebagai Pulau Bromo," ucapnya. Namun, sampai sekarang belum ditemukan data. Apakah ada keputusan resmi pemerintah untuk penamaan pulau tersebut. Belakangan, Pulau Bromo membantu perekonomian Banjamasin. Ketika dibuka, diikuti dengan berdirinya beberapa pabrik kayu di sekitarnya. (war/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Pulau Bromo #Wisata Kalsel