----
Senin, 18 April 2022 sekitar pukul 17.05 Wita, sebuah bangunan ruko bertingkat 3, dengan 3 blok (pintu) di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, ambruk.
Ambruknya bangunan tersebut telah memakan korban jiwa: lima orang meninggal dunia, karena tertimpa reruntuhan.
Ruko sendiri dibangun tahun 2012, kemudian sejak 2015 disewa oleh ritel modern: Alfamart sebanyak 2 blok/pintu, dan 1 bloknya lagi difungsikan sebagai toko sparepart alat berat.
Ambruknya ruko di Jalan A Yani Km 14 itu menjadi perhatian sejumlah pihak. Termasuk Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) Komda Kalimantan Selatan.
HATTI merupakan salah satu wadah berkumpulnya para tenaga ahli yang kompeten di bidang Geoteknik (salah satu cabang bidang ilmu teknik sipil yang berhubungan tentang kemampuan tanah menahan beban di atasnya, dan lain-lain yang juga berhubungan dengan interaksi tanah serta gaya/beban yang bekerja di atasnya untuk konstruksi).
Ketua HATTI Kalsel, DR.Ing.Ir., Yulian F Arifin, MT mengatakan, mencermati prisitiwa ambruknya bangunan ruko bertingkat 3 di Kecamatan Gambut beberapa waktu yang lalu itu, maka HATTI Kalsel merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam menganalisa dugaan awal penyebab keruntuhan tersebut ditinjau dari aspek Geoteknik.
Dia menyebut, sebelum terjadinya ambruk, bangunan Alfamart memang sudah menunjukkan gejala-gejala yang diduga kuat pemicunya akibat struktur bawah (pondasi) yang sedang bermasalah.
Gejala-gejala tersebut ujar dia, nampak jelas terlihat sejak 2019. Yakni berupa retakan diagonal pada salah satu sisi dinding bangunan tersebut yang bersambungan dengan retaknya balok bawah/slof pondasi. Hal ini bisa dilihat melalui Google Street View.
"Kemudian adanya salah satu sisi permukaan lantai 1 blok Alfamart yang bergelombang dan lepasnya beberapa pasangan keramik lantai, yang terlihat dari rekaman CCTV sebelum ambruk," katanya.
Lanjutnya, gejala lainnya adalah bunyi seperti retakan (crack) yang cukup keras yang diduga berasal pada elemen struktur atas. Kondisi ini berlangsung hampir setiap hari sejak H-14 sebelum terjadinya ambruk. "Ini berdasarkan saksi mata atas nama Bapak Dayat, warga yang bertetangga dengan bangunan ambruk," ujarnya.
Selain itu, gejala lainnya adalah telah miringnya bangunan tersebut sebelum ambruk berdasarkan pengamatan visual. "Sumbernya dari saksi mata warga di seberang jalan dan google street view 2019," beber Yulian.
Berdasarkan gejala-gejala kerusakan atau kemiringan bangunan tersebut, dia menyampaikan, HATTI Kalsel dapat menyatakan bahwa struktur bawah bangunan ruko yang telah ambruk tersebut sedang bermasalah pada saat itu dan pada saat sebelumnya.
Ditambahkannya, berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh salah satu anggota HATTI Kalsel di lapangan, serta berdasarkan analisis dokumentasi visual terhadap beberapa elemen struktur atas bangunan ruko tersebut sesaat setelah terjadinya ambruk, telah memberi petunjuk bahwa sebagian besar elemen struktur atas berupa kolom tidak mengalami keruntuhan tekan (sebagian besar yang nampak visual kolom tersebut hanya mengalami keruntuhan tarik).
"Kondisi ini menurut HATTI Kalsel diduga bahwa telah terjadinya deformasi yang mengakibatkan displacement pada elemen-elemen struktur bangunan. Utamanya pada joint balok-kolom, atau joint balok-pelat lantai/pelat dak," tambahnya.
Dijelaskan Yulian, fenomena displacement pada joint elemen struktur ini terjadi karena ada pemicunya, yaitu peristiwa differential settlement pada masing-masing joint reaksi pondasi bangunan ruko bertingkat tersebut.
Berdasarkan analisis pendekatan perhitungan asumsi beban dan tipe-tipe pondasi galam yang umum digunakan pada bangunan-bangunan ruko sepanjang jalan A.Yani (Banjarmasin-Kabupaten Banjar), dia menyampaikan, HATTI Kalsel dapat menyatakan, apabila bangunan ruko bertingkat 3 berukuran relatif besar dan berat berpondasi tiang cerucuk kayu galam dengan panjang berkisar L=4 hingga 7m yang hanya mengandalkan daya dukung friksi (sementara lapisan tanah pendukungnya sangat lunak yang relatif tebal) adalah tidak akan pernah mencapai nilai diffential settlement di bawah nilai L/300 yang dipersyaratkan menurut SNI 8460 Tahun 2017.
Menurutnya, adanya differential settlement yang signifikan nilainya maka akan menghasilkan beban eksentrisitas, yang hal ini berkontribusi pada besarnya nilai deformasi pada elemen struktur atas yang dihasilkan, yang kemudian joint elemen struktur atas tersebut mengalami displacement, dan pada akhirnya joint mengalami lepas (keruntuhan tarik).
Apabila dilihat dari bentuk visual bangunan ruko 3 lantai pada kondisi sebelum ambruk (sumber : google street view, 2019), Yulian menyebut, bangunan bertingkat tersebut memiliki perbedaan besaran panjang bentang pada arah melintang dan memanjang yang cukup signifikan.
Hal itu kata dia, secara analisis struktur atas memungkinkan terjadinya variasi distribusi besaran beban yang signifikan pada masing-masing joint yang akan diakomodasi oleh masing-masing pondasi (sementara tipe pondasi biasanya dibuat sama untuk seluruh joint, dan kemungkinan pada variasi besaran beban maksimum yang terjadi belum diakomodasi sepenuhnya oleh desain elemen struktur bawah/pondasi yang ada).
"Kondisi inilah yang mengakibatkan adanya differential settelement yang signifikan pada masing-masing joint pondasi yang hanya mengandalkan gaya friksi (jepitan tanah) pada lapisan tanah sangat lunak yang cukup tebal, sementara elemen struktur atas yang ada belum tentu mampu mengakomodasi deformasi dan displacement yang besar akibat differential settlement yang melebihi dari nilai persyaratan teknis," katanya.
Berdasarkan informasi saksi mata, yakni pemilik warung nasi itik Tenda Biru, bahwa pada saat bangunan mau ambruk, bunyi retakan (crack) sangat nyaring terjadi lebih lima kali. Kemudian disusul dan didahului kejadian (seperti) amblasnya bangunan pada sisi kiri (sudut pandang dari jalan A Yani) bersamaan dengan lantai 2 dan 3 (blok sisi kanan) yang bergerak dan menimpa bangunan sisi kiri sebelumya serta menimpa sebagian bangunan warung nasi itik tenda biru.
"Keadaan ini menurut analisis awal HATTI Kalsel dapat dinyatakan bahwa kemungkinan besar blok bangunan sisi paling kiri (toko sparepart alat berat) dan blok tengah bangunan ruko telah mengalami kegagalan daya dukung pondasi (saat ambruk), maupun differential settlement yang telah mencapai besaran maksimumnya," ungkap Yulian.
Namun, untuk memperkuat dugaan-dugaan itu, menurutnya masih perlu dilakukan penyelidikan secara menyeluruh.
Kepada para perencana dan pelaksana pembangunan, dia menyampaikan, HATTI Kalsel menyarankan agar dalam mendesain pondasi bangunan harus berpedoman pada SNI 8460 Tahun 2017 tentang Persyaratan Perancangan Geoteknik.
"HATTI Kalsel sangat membuka ruang untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, dan berkontribusi dari segi keilmuan serta kompetensinya untuk mencegah agar kejadian serupa tidak terulang kembali pada masa mendatang," pungkasnya. (ris/by/ran)