Radar Banjarmasin melakukan penelusuran lapangan untuk melihat langsung seperti apa kondisi jalanan di daerah.
Dimulai dari kondisi jalan provinsi di Kabupaten Kotabaru. Kondisi jalan dari Tanjung Serdang, Desa Salino, Kecamatan Pulau Laut Tengah, menuju ke Lontar, Kecamatan Pulau Laut Barat, yang berjarak sekitar 75 kilometer. Kondisinya masih saja memprihatinkan. Sebab ada beberapa desa yang jalannya masih berlubang dan becek.
Diantaranya, di ruas jalan di sekitar Desa Semaras, Kecamatan Pulau Laut Barat, kondisi jalan sangat memprihatinkan. Kalau hujan sangat membahayakan. Karena kondisi jalan becek dan licin.
Kalau kurang hati-hati bisa terperosok ke lubang ketika melewati di jalan tersebut. Dari Pantauan Radar Banjarmasin, kondisi jalan yang rusak karena memang tekstur jalannya yang lembek. Dan pengaruh hujan yang terus turun.
Agus, warga Desa Semisir yang sering ke Lontar mengatakan, jalanan seperti ini bukan hal yang aneh lagi. Karena dirinya mengaku sudah terbiasa.
Ditanya penyebab kerusakan jalan, Agus mengatakan, jalanan ini memang diperbaiki tapi nanggung. “Gara gara diperbaiki nanggung, harinya hujan terus. Ditambah lagi banyak angkutan yang bermuatan berat melewatinya setiap hari,” ungkapnya.
Warga lainnya, Ucok, mengaku sebagian jalan menuju Lontar dari Tanjung Serdang sekarang sudah mulai baik. Tapi tidak semuanya, karema masih ada jalanan yang rusak dan membahayakan bila musim hujan.
Menurutnya, kalau menggunakan sepeda motor masih bisa memilih jalan supaya tidak kena lubang. Namun, kalau menggunakan mobil sangat berisiko.
“Kalau naik sepeda motor lebih nyaman milih jalan. Tapi bila menggunakan mobil saran saya jangan menggunakan mobil kecil. Kasihan, bisa tersangkut,” jelas Ucok.
***
Bergeser ke arah hulu sungai, tepatnya di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, terdapat dua jembatan di jalan utama trans Kalimantan yang mengkawatirkan. Pertama, Jembatan Kapuh di Desa Barikin, Kecamatan Haruyan. Oprit jembatan menurun, kemudian aspal hancur. Pengendara harus hati- hati jika melintas.
Kedua, Jembatan Sungai Rangas di Desa Sungai Rangas, Kecamatan Labuan Amas Selatan. Jembatan ini mengalami penurunan yang menyebabkan jembatan dan oprit tidak sejajar. Alhasil, jembatan bergelombang. Kondisi ini sudah terjadi sejak awal 2021.
Tak hanya itu, seratusan lubang menganga menghiasi ruas jalan dari Hulu Sungai Tengah (HST) menuju Hulu Sungai Utara (HSU). Panjang jalan ini sekitar 18-20 kilometer. Puluhan rambu lalu lintas terpampang di sepanjang jalan rusak.
Ada tiga titik kondisi jalan yang rusaknya parah. Pertama, di Desa Pamangkih, kontur jalan bergelombang dan aspal sudah rusak. Titik rusak kedua di Desa Binjai Pirua, bahkan warga sempat menambal jalan secara swadaya dengan semen. Namun tak bertahan lama karena sekarang sudah rusak lagi. Titik jalan rusak paling parah ada di Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara.
Desa ini berbatasan langsung dengan HSU. Kondisi jalan bergelombang, dan banyak aspal yang ambles. Di beberapa titik sudah tak beraspal. Diperparah dengan jalan bergelombang. Para pengendara harus ekstra hati-hati jika melintas, apalagi supir truk bermuatan.
Jika oleng, bisa saja truk terbalik atau miring. Warga sekitar mengatakan, penyebab rusaknya jalan dan jembatan ini karena banyak truk bertonase besar yang melintas. “Paling merusak jalan truk bermuatan semen. Kalau malam hari banyak sekali yang melintas,” kata Taberani.
Bagaimana dengan kondisi jalan di Kabupaten Hulu Sungai Utara? Sejak jembatan di Balangan diperbaiki, ruas jalan di Kota Amuntai banyak yang rusak. Angkutan truk tonase berat dan faktor banjir, menjadi penyebab rusaknya jalan di wilayah ini.
Dari pengamatan Radar Banjarmasin, kerusakan jalan sudah terjadi dari Desa Tabur sampai Pakapuran, Kecamatan Amuntai Utara, dengan kondisi jalan yang berlubang kecil dan bergelombang. Kerusakan cukup besar dengan diameter 2,5 meter dan kedalaman 10-30 cm, berada di perempatan lampu merah Simpang Empat Paliwara-Palampitan.
Sementara perempatan lampu merah Palampitan-Banua Lima kondisinya bergelombang dan rusak. Dari kedua simpangan tersebut sampai ke Desa Pinang Habang, yang masih berada di wilayah Kecamatan Amuntai Tengah, menuju perbatasan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, kondisi jalan berlubang juga masih dijumpai. Meski ada upaya pengaspalan dan tambal sulam yang dilakukan pihak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin, mengingat status jalan tersebut merupakan jalan nasional, namun tak bisa bertahan lama.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten HSU Amos Silitonga, melalui Kabid Bina Marga Rahmani mengatakan, tidak bisa dipungkiri jalan berlubang dan bergelombang masih ada di HSU.
Dari perbatasan Kabupaten Tabalong-HSU sampai Kabupaten HSU-HST, sepanjang kurang lebih 30 kilometer, kondisi jalannya ada yang rusak baik ringan, sedang dan rusak berat. Penyebabnya, akibat angkutan truk berat dan faktor alam seperti jalan terendam banjir.
"Untuk jalan kabupaten kami tambal sulam. Belum bisa diaspal secara menyeluruh. Anggaran waktu itu (2021) hanya untuk perbaikan menutup badan jalan atau tambal sulam," kata Rahmani.
Jalan status kabupaten ungkap Rahmani, selain rusak karena beban angkutan, juga disebabkan faktor alam seperti banjir yang menggenangi jalan.
"Topografi wilayah yang merupakan rawa membuat jalan mudah bergelombang, karena penurunan badan jalan. Untuk jalan nasional yang rusak, kami hanya melaporkan ke pihak Balai Besar Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin," sampainya.
Kondisi yang tak jauh beda juga terjadi di wilayah Hulu Sungai Selatan. Jalan provinsi dan nasional di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) rusak akibat faktor alam seperti banjir atau air yang menggenang.
Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) HSS, ruas jalan provinsi dan nasional yang rusak di Kabupaten HSS ada lima titik. Tiga ruas jalan provinsi dan dua ruas jalan nasional yang rusak
Tiga titik jalan provinsi yang rusak yaitu ruas Jalan Lingkar Selatan Kandangan-Nagara atau Kecamatan Daha sepanjang 1,30 kilometer, ruas Jalan Kandangan-Nagara sepanjang 2,00 kilometer, dan ruas Jalan Lumpangi-Loksado sepanjang 300 meter.
Sedangkan dua titik jalan nasional rusak yaitu ruas Jalan Kandangan-Lumpangi sepanjang 100 meter dan ruas Jalan Lumpangi-batas Kabupaten Tanah Bumbu sepanjang 100 meter.
Kabid Bina Marga Dinas PUTR Kabupaten HSS, Isnaniah mengatakan, lima titik jalan provinsi dan nasional yang rusak di Kabupaten HSS penyebabnya karena faktor bencana alam atau longsor.
“Penyebabnya faktor bencana alam, tidak ada akibat kendaraan bermuatan melebihi kapasitas,” ujarnya saat dikonfirmasi. Dikatakannya, bila terjadi kerusakan jalan provinsi atau nasional saat bencana alam atau longsor, pihaknya langsung membantu ke lapangan untuk membersihkan material longsor agar dapat kembali dilewati kendaraan bermotor.
Selain itu, pihaknya menginformasikan ke Balai Jalan agar ada tindak lanjut perbaikan.“Sampai mengusulkan peninggian jalan di rapat teknis,” katanya.
Untuk menjaga jalan provinsi dan nasional tidak rusak, Pemkab HSS juga terus berkoordinasi dengan forum lalu lintas.
Sebelumnya Kabid Keselamatan Dinas Perhubungan (Dishub) HSS, Dedy Hamdani mengatakan, Dishub HSS selama ini sudah berupaya untuk mengantisipasi kerusakan jalan dengan mengadakan razia rutin gabungan terhadap truk over kapasitas bekerja sama dengan Satlantas Polres HSS, Denpom TNI, Jasa Raharja sampai Satpol-PP dan Damkar Kabupaten HSS.
“Tapi karena itu jalan nasional, pemerintah kabupaten tidak punya wewenang memperbaiki, hanya mengusul perbaikan melalui balai pengelola jalan,” ujarnya.
Di Kabupaten Tapin dari Kecamatan Binuang sampai Kecamatan Lokpaikat yang masuk jalan nasional di Kabupaten Tapin, kerusakan jalan juga ditemukan. Bahkan, ada beberapa titik yang cukup parah.
Seperti pantauan Radar Banjarmasin di Bundaran Bungur, kerusakan jalan cukup parah. Banyak jalan berlubang di sini. Kondisi ini sangat mengganggu pengguna jalan yang melintas, baik dari arah Hulu Sungai ke Banjarmasin ataupun sebaliknya.
Dinas Perhubungan (Dishub) Tapin mengungkapkan bahwa faktor jalan rusak di Kabupaten Tapin kebanyakan karena angkutan yang Over Dimension Over Loading (ODOL). Ditambah musim hujan yang juga mempercepat rusaknya jalan.
“Lalu tidak adanya drainase juga menjadi penyebab jalan cepat rusak. Karena air menggenang atau menggerus jalan,” ucap Kadishub Tapin, Muhammad Nor melalui Kabid Lalu Lintas Angkutan Dishub Tapin, Maria Ulfah.
Dikatakannya, Pemkab Tapin tidak tinggal diam melihat kondisi jalan tersebut. Pihaknya bersama forum lalu lintas melaksanakan survei identifikasi jalan rusak. “Hasil dari ini langsung kita laporkan ke Balai Jalan untuk bisa ditindaklanjuti,” katanya.
Kemudian bersama Sat Lantas Polres Tapin, Kodim 1010 Tapin, Subdenpom, Pengadilan Negeri Tapin dan Kejaksaan Negeri Tapin melaksanakan pengawasan ODOL bersama. “Ini sudah kami lakukan, karena langsung penindakan kepada angkutan yang ODOL,” tuturnya.
Upaya terakhir yakni memasang rambu-rambu perhatian atau kewaspadaan pada spot-spot jalan yang rusak tersebut. “Kita pasang rambu tersebut, sambil menunggu perbaikan dari instansi terkait,” imbuhnya.
Sementara daerah paling ujung Kalsel, sejumlah titik kerusakan jalan juga banyak ditemukan di Kabupaten Tabalong. Untuk jalan nasional, beberapa diantaranya terjadi kerusakan di Jalan Ahmad Yani penghubung antara Tabalong dan Hulu Sungai Utara. Beberapa titiknya berada di Kelurahan Jangkung yang rusak akibat angkutan berat. Kondisinya memang sudah diperbaiki, namun beban jalan kurang memadai, dan akhirnya rusak kembali.
Kondisi yang sama juga berada di Desa Mantuil, badan jalan rusak terkelupas dan tidak kembali diaspal. Padahal beberapa meter dari jalan tersebut sudah dilakukan pengaspalan. Kerusakan ini diakibatkan angkutan berat.
Selain itu, terdapat longsoran sisi badan jalan akibat gerusan air S Sungai Tabalong dan tekanan beban angkutan berat. Ini berada di Jalan Ahmad Yani di Desa Paliat.
Sementara untuk jalan provinsi terdapat di Jalan Tanjung-Kitang atau jalur dalam trans Kalimantan dari arah Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur. Kondisinya rusak menyebar di beberapa titik. Diantaranya paling parah di Desa Wayau, Kecamatan Tanjung.
Menurut kisah warga Desa Wayau, Mahyudi, jalan itu sudah sepuluh tahun ini tidak pernah diperbaiki, sehingga rusak akibat banjir dan lintasan truk kelapa sawit. "Sudah sepuluh tahunan tidak pernah diperbaiki," ujarnya.
Sementara ruas jalan nasional di Kabupaten Balangan, tepatnya depan SMKN 1 Paringin menjadi langganan ambles. Setelah mendapat penanganan sekitar tahun 2015 silam, titik jalan ini kembali mengalami kerusakan yang parah.
Namun, jalur yang ambles yaitu jalur kiri dari Banjarmasin arah Tabalong, sementara jalur sebelahnya masih bagus tapi sudah mulai terdampak dan mulai ada keretakan. Bahkan, median jalan pun sudah mulai ambles.
Menurut warga sekitar, amblesnya jalan yang sebelumnya tidak pernah terjadi ini, dimulai semenjak angkutan berat berseliweran di jalanan. Ditambah lagi jalan yang belum kokoh, karena usianya yang masih muda.
“Untung jalan sebelahnya sudah dicor, sehingga sudah kokoh. Sebelum dilakukan pengecoran luar biasa rusaknya,” keluhnya.
Saat dikonfirmasi, Ketua Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Balai Pelaksana Jalan Nasional wilayah Kalsel, Agung Yudhianto, pihaknya sudah mencari tahu penyebab utama amblesnya satu jalur badan jalan ini.
Analisa awal, kata dia, didapati adanya saluran air yang pecah dan banyaknya utilitas pada drainase yang menjadi aliran air di bawah tanah pada jalan tersebut. Kerusakan saluran air itu diduga menjadi penyebab terjadi hentakan pada tanah yang mengakibatkan jalan ikut ambles.
Berdasarkan analisa ini, lanjutnya, pihaknya akan melakukan penanganan yang lebih serius serta memperbaiki saluran air bawah tanah yang diduga menjadi penyebab amblesnya jalan.
Metode perbaikan yang dilakukan nanti akan menggunakan file slab untuk konstruksi jalan yang lebih kokoh. Saat ini proses perencanaan penanganan jalan tersebut terus berjalan. Dalam waktu dekat juga akan dibuka lelang proyek. Adapun total panjang perbaikan jalan mencapai 100 meter.
Di Kabupaten Tanah Laut sebagian besar jalan nasional dan provinsi masih relatif nyaman untuk dilewati, khususnya jalan nasional menuju Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).
Hal tersebut dikarenakan sedang adanya perbaikan dan pengaspalan kembali jalan nasional tersebut, seperti di Desa Tampang, Kecamatan Pelaihari, Kecamatan Jorong dan Kecamatan Kintap. Tetapi ada beberapa ruas jalan yang mengalami kerusakan, seperti ruas jalan provinsi yang menuju ke obyek wisata Pantai Takisung, tepatnya di Kelurahan Karang Taruna atau lebih dikenal dengan Jalan Matah - Jalan Raya Takisung.
Sepanjang jalan ini terdapat setidaknya ada empat titik lokasi jalan berlubang dan ambles. Paling parah berada di perbatasan Kelurahan Karang Taruna dengan Desa Telaga. Jalan tersebut mengalami rusak yang cukup parah, yakni bagian sisi jalan ambles dan bagian tengahnya berlubang.
Sebelumnya, jalan tersebut pernah dilakukan perbaikan, tetapi karena jalan tersebut sering dilewati mobil angkutan batu gunung, jalan tersebut kembali berlubang. Saat ini jalannya cukup berbahaya saat dilewati sepeda motor, apalagi saat malam.
Selain jalan provinsi di Kelurahan Karang Taruna, Kecamatan Pelaihari, jalan bergelombang, aspalnya terkelupas dan berlubang juga dapat ditemui di beberapa lokasi sepanjang jalan nasional menuju Kabupaten Tanbu. Seperti jalan bergelombang akibat lubang yang ditambal dapat ditemui di Desa Tajau Pecah, Jilatan, Jilatan Alur, Jorong dan Kintap.
Jalan bergelombang ini sangat membahayakan bagi pengguna jalan, khususnya roda dua, karena dapat menyebabkan oleng saat mengendara dengan kecepatan tinggi. Sedangkan jalan terkelupas dapat di temui di jalan nasional Desa Jilatan dan jalan berlubang dapat ditemui di Desa Asam-Asam, tepatnya berada di jembatan kembar arah Tanah Bumbu menuju Pelaihari.
Penyebab jalan nasional yang berlubang karena sering dilewati mobil bermuatan melebihi kapasitas jalan, seperi mobil pengangkut alat berat, mobil kontainer, mobil pengangkut batu bara dan sawit. (jum/mal/mar/shn/dly/ibn/why/sal) Editor : Arief