Waspada Omicron, Pakar Sarankan WFH dan Evaluasi PTM

Arief • Dipublikasikan Senin, 24 Januari 2022 | 11:26 WIB
SCREENING: Pegawai Dinas Kesehatan Banjarmasin mengecek kesehatan lansia sebelum diberi vaksin COVID-19. \ FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
SCREENING: Pegawai Dinas Kesehatan Banjarmasin mengecek kesehatan lansia sebelum diberi vaksin COVID-19. \ FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
BANJARMASIN - Bulan ini, Indonesia kembali mencatat laju kenaikan kasus konfirmasi COVID-19 yang tinggi.

Anggota Tim Pakar COVID-19 di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin menilai, laju kasus pada pekan kedua, yakni pada tanggal 10 hingga 16 Januari ada sebanyak 4.764 kasus.

"Atau naik 3,4 kali lipat kasus di pekan terakhir di akhir tahun 2021," ucapnya, kemarin (23/1) siang.
Kemudian, dalam waktu empat hari terakhir yakni pada tanggal 17 hingga 20 Januari, kasus konfirmasi nasional sebanyak 4.935. Artinya, lebih tinggi dari kasus di pekan kedua.

Menurut Muttaqin, lonjakan kasus ini tidak lepas dari telah masuk dan menyebarnya varian Omicron di Indonesia. Kasus pertama ditemukan pada 15 November yang menimpa seorang pekerja di Wisma Atlet Jakarta.

Dijelaskan Muttaqin, berdasarkan hasil penelusuran Kementerian Kesehatan, kasus tersebut berasal dari WNI yang baru tiba di Tanah Air pada 27 November setelah melakukan perjalanan dari Nigeria.

Sisi lain, berdasarkan database GISAID, per 22 Januari pukul 03.50 UTC, jumlah kasus yang terdeteksi sebagai varian Omicron di Indonesia sudah mencapai 1.255 kasus.

"Jika pada bulan Desember kasus Omicron di Indonesia didominasi kasus impor, maka sekarang penularan lebih banyak dari transmisi lokal," jelasnya.

"Berdasarkan data cov-spectrum.org, kasus Omicron masih terkonsentrasi di Jakarta tetapi sudah menyebar ke Jawa dan luar Jawa," tambahnya.

Kemudian, dari sisi kelompok umur, kasus varian Omicron didominasi penduduk umur produktif dan berusia muda.

Namun kasus pada anak-anak dan remaja juga terjadi dengan proporsi 11 persen sedang penduduk berusia 50 tahun ke atas sebanyak 14 persen.

Lantas, bagaimana ke depannya? Muttaqin lantas menekankan, agar pemerintah segera mengambil langkah penanganan konkret. Salah satunya dengan menekan mobilitas masyarakat.

"Aturan WFH perlu diterapkan kembali, PTM ditinjau ulang dan persyaratan perjalanan udara diperketat," tekannya.

"Kemudian, membentengi masyarakat dengan prokes ketat, 3T, dan vaksinasi," tambahnya.

Lantas, bagiamana dengan upaya yang dilakukan pemko? Sejauh ini, pemko lebih banyak menggenjot vaksinasi.

Mal didatangi, warga yang tinggal di pinggir sungai pun disusuri.

Di Duta Mall, vaksinasi bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Banjarmasin. Di sini, vaksinasi ditargetkan mencapai 500 orang.

Sasaran utamanya adalah para lansia yang sama sekali belum bervaksin, yang ingin mendapatkan vaksin kedua, hingga vaksin booster.

Kemudian, vaksinasi juga terbuka bagi masyarakat umum lainnya. Baik yang baru hendak mendapatkan dosis pertama, atau yang hendak mendapatkan dosis kedua.

Ketua Kadin Banjarmasin, M Akbar Utomo S menjelaskan bahwa sebenarnya pihaknya juga hendak memberikan vaksin untuk anak usia 6 hingga 11 tahun.

Namun, hal itu urung dilakukan lantaran ketiadaan vaksin Sinovac. Pihaknya, hanya memiliki vaksin merek Pfizer dan AstraZeneca.

"Jadi, untuk vaksinasi anak ditunda dahulu," ucapnya, kemarin (23/1).

Sementara itu di wilayah pinggir sungai, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin menyambangi kawasan Pulau Bromo. Sasaran vaksinasi di sini mencapai 100 orang.

Terdiri dari masyarakat umum, lansia hingga booster untuk lansia. Tidak hanya itu, dinkes juga membagikan bantuan paket sembako bagi warga yang bersedia bervaksin.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin, Machli Riyadi menjelaskan bahwa pelaksanaan vaksninasi di kawasan pinggiran sungai dilakukan sebagai upaya guna tercapainya herd immunity atau kekebalan kelompok.

"Setelah Pulau Bromo, kami nantinya juga akan menyasar warga pinggiran sungai lainnya. Karena sekitar 30 persen warga, itu berada atau tinggal di pinggiran sungai," janjinya. (war/at/fud) Editor : Arief
Pandemi Covid19