"Jadi, kapan rencananya mau diperbaiki?" tanya Sekretaris RT 06 Antasan Bromo itu.
"Sudah sering rasanya kami mengusulkan perbaikan. Tapi sampai sekarang tak ada tanda-tandanya," tambahnya.
Dituturkannya, sudah tak terhitung anak kecil atau orang dewasa yang terperosok di titian itu.
Untuk menghindari korban lebih banyak, warga patungan untuk memperbaiki titian itu secara tambal sulam.
Sampai-sampai, pria 55 tahun itu merasa Pulau Bromo dianaktirikan oleh Pemko Banjarmasin.
"Saya mendengar, tahun ini titian di kawasan Kelurahan Mantuil lainnya mulai dibantu perbaikan. Tentu senang sekali mendengarnya," puji Rasidi.
"Tapi bagaimana dengan di sini? Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Desainnya mau seperti apa, kami terima. Asalkan pemerintah yang memperbaiki," tegasnya.
Pemko pernah memperbaiki titian di sana, sekitar tahun 2017. "Tapi masih ada 800 meter yang belum tersentuh," tutupnya.
Sebelumnya, Kabid Jalan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Chandra membenarkan soal perbaikan beberapa tahun yang lewat itu.
Dari total panjang 1.500 meter, baru 480 meter titian yang direhab. Dengan lebar dua meter, titian ulin itu diubah menjadi beton. Anggaran yang dikucurkan mencapai Rp3,8 miliar.
Ketika dikonfirmasi kemarin (14/1), Kabid Cipta Karya PUPR, Agus Suyatno mengatakan, masalah titian itu sempat dioper ke Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Banjarmasin.
Belakangan, dikembalikan ke PUPR. Alasannya, Pulau Bromo tak termasuk dalam kawasan kumuh. "Maka, mereka tak bisa memperbaikinya. Alasannya begitu," ucapnya.
Praktis, harus dimulai dari awal lagi. Sejak kajian dan perencanaannya. "Lantaran usulannya terlambat masuk, maka harus menunggu APBD Perubahan," jelasnya.
Namun, Agus tak ingin menutup kemungkinan bahwa perbaikan bisa dimulai tahun ini. Setidaknya dicicil. "Perbaikannya kan banyak. Tergantung ada tidaknya anggaran," pungkasnya. (war/at/fud) Editor : Arief