Banjir dipicu kuat oleh hujan deras yang mengguyur wilayah Banjarbaru cukup lama. Akibatnya, luapan air cukup tinggi bahkan mencapai lutut orang dewasa. Beruntung, banjir tak sampai menggenang lama.
Dari laporan BPBD Kota Banjarbaru, total rumah yang terdampak banjir cukup banyak. Setidaknya mencapai 20 puluh rumah dengan puluhan KK yang turut terdampak.
Terkait kejadian banjir, Pemko Banjarbaru melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Kota Banjarbaru mengantongi sejumlah data dan analisa.
Misalnya, selain karena memang dipicu utama oleh hujan deras. Salah satu penyebab debit air meluap yakni adanya penyempitan di salah satu titik aliran sungai Pulantan yang juga terkoneksi dengan Sungai Rimba di Tonhar.
"Jadi memang ini dipicu oleh hujan deras sehingga sungai tak mampu menampung debit air. Nah aliran air ini kurang lancar ke arah pembuangannya lantaran ada penyempitan, jadi ada hambatan," kata Kabid SDA Dinas PUPR Banjarbaru, Subrianto.
Selain adanya penyempitan, faktor lain yang dianalisa membuat air sungai meluap adanya tumpukan sampah. Sampah ini diketahui menumpuk di salah satu titik aliran Sungai Rimba di Tonhar.
Padahal kata Subri, pihaknya sudah memasang Trash Rack atau penangkap sampah. Namun alat ini kata Subri juga tak begitu maksimal lantaran debit air melebihi batas siring sungai.
"Trash Rack ini tingginya sejajar dengan siring. Nah ketika kemarin itu rupanya debit air sangag tinggi sehingga melewati alat tersebut dan terjadilah penumpukan sampah sehingga aliran air menuju pembuangan turut terhambat," jelasnya.
Ke depannya, pihaknya klaim Subri akan merancang solusi agar banjir di Tonhar tak lagi terulang. Maklum dibanding beberapa tahun lalu, Tonhar sempat aman dari banjir namun di awal tahun 2022 malah kembali tergenang.
Subri menjelaskan jika rencana yang akan ditempuh pihaknya yakni mengurangi atau membagi kapasitas debit air yang menuju Sungai Rimba di Tonhar. Yang mana Pemko ujarnya berencana akan memungsikan saluran gorong-gorong yang sudah eksisting menyeberangi ruas Jalan A Yani di depan Mako Rindam VI Mulawarman.
"Gorong-gorong ini tidak berfungsi sejauh ini, apakah mampet atau bagaimana kita kurang tahu. Tapi kita ada rencana melarikan atau membagi debit air yang di kawasan landasan udara menuju gorong-gorong itu lalu dibuang ke Sungai Kampung Gumpal," katanya.
Cara ini kata Subri diyakini bisa mengurangi luapan debit berlebih di Sungai Rimba. Sebab dari analisa sekaligus hasil pantauannya, debit air di kawasan landasan langsung menuju Sungai Rimba.
"Oleh karena itu kita berniat membaginya ke gorong-gorong itu. Namun karena Jalan A Yani wewenang Balai Jalan maka kita akan koordinasi dulu," tuntasnya. (rvn/ij/bin) Editor : Arief