Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ada tiga kecamatan yang terdampak. Pertama Kecamatan Batu Benawa tepatnya di Desa Aluan Besar dan Desa Paya Besar. Kedua di Kecamatan Barabai dan berikutnya di Kecamatan Haruyan.
“BPBD HST bersama TNI-Polri dan relawan terus melakukan patroli serta antisipasi jika ada warga yang perlu evakuasi,” kata Kepala Pelaksana BPBD HST Budi Hariyanto.
Pantauan BPBD HST sejak sore kemarin, di beberapa titik air berangsur surut. Namun wilayah yang berada di bantaran sungai belum menunjukan penurunan debit air. Contohnya di Jl Telaga Padawangan, Kecamatan Barabai.
Genangan juga mulai muncul di pusat Kota Barabai. Seperti di Jalan Brigjen Hasan Basry. Air meluber keluar dari selokan. Sentra perbelanjaan di pusat kota juga terendam.
Kondisi seperti ini membuat pedagang di pasar Murakata mengeluh. Pasalnya setiap kali turun hujan dengan intensitas tinggi dengan durasi lebih 1 jam pasti air akan banjir. “Menyebalkan juga kalau seperti ini terus. Apalagi pedagang yang membuka lapak di malam hari pasti tidak bisa berjualan,” kata Andri pedagang setempat.
Warga berharap tidak ada hujan susulan utamanya di daerah Pegunungan Meratus. “Kalau di atas (pegunungan) hujan bisa-bisa air semakin dalam,” kata Rizal warga Munti Raya.
Wilayah Munti Raya terkenal daerah rawan banjir. Pasalnya dekat dengan aliran Sungai Barabai, kemarin kedalaman air di sana mencapai 30 cm. Namun belum ada warga yang mengungsi. “Jangan sampai air naik lagi bisa masuk ke rumah. Capek mengungsi terus,” pungkasnya.
Sejumlah daerah di Kabupaten Banjar juga diterjang banjir. BPBD Banjar mencatat, sudah ada dua kecamatan di kabupaten ini yang terendam.
Kepala Pelaksana BPBD Banjar, Irwan Kumar mengatakan, dua kecamatan itu yakni Sungai Pinang dan Telaga Bauntung. "Tim TRC masih di lokasi untuk mengevakusi warga menggunakan perahu karet," katanya.
Selain itu, dia mengungkapkan, pihaknya juga langsung menyalurkan logistik untuk keperluan korban. Namun, terkait berapa warga yang terdampak Irwan belum bisa menyebutkannya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, setidaknya ada tiga desa di Kecamatan Sungai Pinang terdampak banjir. Yaitu, Desa Belimbing Lama, Rantau Nangka, dan Rantau Bakula. Sedangkan di Kecamatan Telaga Bauntung, banjir melanda Desa Rampah.
Semua desa di dua kecamatan tersebut masuk dalam daerah aliran sungai (DAS) Riam Kiwa. Sementara ketinggian air dari 30 sentimeter hingga 60 sentimeter.
Sementara itu, Camat Sungai Pinang, Hadariah mengungkapkan bahwa banjir kali ini lebih parah dibanding awal 2021 tadi.
Dibanding tahun-tahun lalu, kata dia, banjir tidak pernah separah kali ini. “Banjir besar pada awal tahun 2021 paling ketinggian air 5 sampai 10 sentimeter, sekarang lebih dari itu," ungkapnya.
Dia tidak bisa memprediksi berapa lama banjir akan bertahan di wilayahnya karena besarnya luapan air dari Sungai Riam Kiwa. "Sebelumnya paling sebentar sudah surut lagi,” tuturnya.
Kalsel sendiri Januari 2022 ini berada di puncak musim penghujan. Sehingga masyarakat harus waspada banjir bandang dan rob.
Prakirawan Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Khairullah menjelaskan, puncak musim hujan sekarang juga dibarengi fenomena La Nina di Pasifik. “Saat ini keadaan di Samudra Pasifik juga berpotensi meningkatkan jumlah hujan di Indonesia, khususnya di Kalsel,” jelasnya.
Dari pengamatan BMKG, dia menambahkan, La Nina akan terus berlangsung hingga April. Fenomena ini berdampak pada curah hujan yang bervariatif.
Khairullah memaparkan, Januari ini kriteria tinggi curah hujan didominasi 300-400 mm. Kemudian Februari turun jadi 200-300 mm dan bulan Maret naik lagi menjadi 300-400 mm. "Sedangkan pada April curah hujan turun jadi 200-300 mm," paparnya.
Untuk daerah yang perlu diwaspadai pada puncak musim penghujan ini, dia menyebut, bagian Barat Kalimantan Selatan, Pegunungan Meratus dan daerah pesisir.
Dirinya mengimbau bagi masyarakat yang bermukim di bantaran sungai agar selalu siaga, waspada dan selalu memantau informasi yang akurat dari Instagram @iklimbanua (BMKG Banjarbaru) @cuacabanua (BMKG Banjarmasin) dan @infobmkg (BMKG Pusat).
“Juga untuk warga agar berpartisipasi menjaga kawasan di sekitar tempat tinggal. Seperti menjaga saluran air. Sehingga ketika hujan lebat terjadi sudah siap mengantisipasi dampak yang akan terjadi,” pungkasnya.
Di Hulu Sungai Selatan, intensitas hujan yang tinggi disertai angin menyebabkan tanah longsor dan pohon tumbang.
Kepala BPBD Kabupaten HSS Syamsudin mengatakan tanah longsor terjadi di Desa Malinau Kecamatan Loksado. Longsor menimpa bagian rumah belakang yang ditempati Muhammad Arsyad (59) bersama keluarga.
“Tanah longsor mengenai bagian rumah warga sekitar pukul 04.00 Wita. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (11/1) kemarin.
****
Sementara pohon kelapa tumbang mengenai rumah warga di Desa Tabihi RT 04,RW 02, Kecamatan Padang Batung yang ditempati Ahmad Fauzai (41) bersama keluarga. Untungnya juga tidak ada korban jiwa.
Bantuan tanggap darurat sudah diberikan kepada warga yang rumahnya terdampak longsor dan pohon tumbang. Bantuan perbaikan rumah juga akan diberikan, jika warga mengajukan permohonan melalui pemerintah desa.“Bantuan diberikan sesuai dengan kerusakan rumahnya. Dananya di bawah Rp 10 juta,” ucapnya.
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG cuaca ekstrem masih akan terjadi sampai pertengahan bulan Januari ini. Untuk itu warga diminta waspada jika terjadi hujan disertai angin kencang. (mal/shn/ris/by/ran)
Titik Genangan di Kota Barabai
Ada beberapa jalan yang di genangi air dengan kedalaman bervariasi dari 5-30 cm.
- Jl. Brigjen H. Hasan Basri
- Jl. Trikesuma
- Jl. Telaga Sungai Tabuk
- Depan kantor DPD Golkar HST
- Jl.Ulama
- Jl.Hevea
- Jl.Kamasan tengah
- Jl.Pasar 1
- Jl.Pasar 2
- Jl.Pasar 3
- Jl.Bulau Sarigading
- Jl.H.Damanhuri (samping mesjid agung)
- Jl.Ganesya
- Jl.KampungMelayu
Sumber: Tim Rescue-RM dan BPBD HST Editor : Arief