Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Parpol Setia dengan Jaya, Aditya Mungkin Maju

Muhammad Helmi • Rabu, 12 Agustus 2020 | 06:58 WIB
parpol-setia-dengan-jaya-aditya-mungkin-maju
parpol-setia-dengan-jaya-aditya-mungkin-maju

BANJARBARU - Setelah Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani meninggal dunia, kini konstelasi politik di Banjarbaru penuh teka-teki. Sebab, belum ada satu pun pasangan yang resmi akan maju pada Pilwali Banjarbaru.


Darmawan Jaya Setiawan sendiri dipercaya akan tetap maju, meski tanpa Nadjmi. Sejumlah partai politik (parpol) yang sebelumnya mendukung pasangan Nadjmi-Jaya juga terang-terangan tetap setia dengan Wakil Wali Kota Banjarbaru ini.


Dari empat parpol yang sudah mengeluarkan rekomendasi untuk Nadjmi-Jaya: Nasdem, PKS, Golkar dan Demokrat. Nasdem salah satu parpol yang menyatakan tetap mendukung Jaya.


Ketua DPW Nasdem Kalsel, H Mansyur menyatakan, Nasdem yang punya modal 4 kursi di DPRD Kota Banjarbaru tidak akan meninggalkan Jaya. Bahkan, dirinya mendukung penuh orang nomor dua di Banjarbaru tersebut melanjutkan konstelasi politik sebagai calon wali kota.


“Setelah Pak Nadjmi wafat, Nasdem tetap bersama Darmawan Jaya Setiawan. Siapa yang akan dipilih menjadi wakil, kami serahkan kepada beliau,” kata H Mansyur, melalui pesan singkatnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.


Dia menambahkan, DPW Nasdem juga akan berkoordinasi dengan DPP tentang perubahan skema pencalonan, setelah Nadjmi meninggal dunia. "Semua diselesaikan dengan cara yang baik. Namun, intinya Nasdem tidak pernah meninggalkan Jaya kendati banyak pengamat yang memaparkan peta politik terbaru," tambahnya.


Dukungan untuk Jaya juga disampaikan Ketua DPC Demokrat Banjarbaru, Sumedi. "Insya Allah kami (Demokrat) masih mendukung. Dan sebaiknya Pak Jaya maju sebagai wali kota," ujarnya.


Menurutnya, Jaya merupakan salah satu putra terbaik di Banjarbaru. Serta, sudah memahami masyarakat Kota Banjarbaru setelah hampir satu periode mendampingi Nadjmi. "Beliau juga sudah tahu bagaimana alur pembangunan Kota Banjarbaru," bebernya.


Lalu siapa yang pantas menjadi pendamping Jaya? Sumedi juga menyerahkan sepenuhnya ke Jaya. Namun, menurutnya harus figur yang mengerti tentang Banjarbaru.


"Kami sendiri belum diajak berkomunikasi, baik secara pribadi maupun secara politik. Sementara peta politik di Banjarbaru berubah secara cepat dan dratis. Akan ada penantang-penantang baru yang siap maju," bebernya.


Namun menurutnya, saat ini suasana masih berkabung sehingga belum etis membicarakan masalah politik dengan Jaya. "Setelah suasana berkabung, maka kami siap lapor ke DPD sampai DPP. Tentunya setelah ada komunikasi dengan Pak Jaya," ujarnya.


Dalam koalisi parpol pendukung Nadjmi-Jaya sendiri ada beberapa nama yang mungkin bisa dipikirkan Jaya untuk menjadi wakilnya. Salah satunya, Ketua DPD Golkar Banjarbaru, Ar Iwansyah.


Sebab, semenjak pasangannya: Ketua DPW PPP Kalsel Aditya Mufti Ariffin memilih mundur dari konstelasi Pilkada Banjarbaru sebagai bakal calon wali kota, Iwansyah kini belum menyatakan akan maju dengan siapa.


Iwansyah sendiri merupakan politikus senior di Banjarbaru dan pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Banjarbaru. Sehingga, pantas apabila ditunjuk mendampingi Jaya di Pilwali Banjarbaru 2020.


Selain Iwansyah, ada nama lain yang tidak bisa dikesampingkan. Yakni, Ketua DPC PDIP Kota Banjarbaru, Wartono. Menjabat selama dua periode di DPRD Banjarbaru, pemilik suara terbanyak di PDIP pada Pileg Banjarbaru 2019 ini patut diperhitungkan. Apalagi, sebelumnya secara lisan partainya juga menyatakan mendukung Nadjmi-Jaya.


Akan tetapi, apabila PDIP batal memberikan rekomendasi ke Jaya. Kabar beredar, bisa jadi Wartono akan dipasangkan dengan calon wali kota lainnya. Sebab, anggota DPRD Banjarbaru ini merupakan kader terbaik PDIP.


Saat dikonfirmasi, Wartono mengaku menunggu intruksi dari pengurus DPD dan pusat. Sebagai kader, apapun keputusan partai menurutnya dirinya harus siap.


"Besok (hari ini) kami ada rapat dengan DPD, mungkin membahas terkait arah dukungan PDIP. Jadi, saya belum bisa banyak komentar sebelum ada intruksi," katanya.


Sementara itu, berbicara terkait poros baru yang akan melawan Jaya, Banjarbaru kini nampaknya kekurangan figur yang layak menyalonkan diri sebagai wali kota. Melihat kekurangan ini, ada kemungkinan Aditya Mufti Ariffin memilih untuk maju.


Aditya sendiri bisa maju melalui PPP dan membangun koalisi dengan sejumlah partai yang belum menentukan dukungan. Seperti PAN, PKB dan PDIP.


Disinggung ihwal ini, Aditya mengaku tidak ingin berandai-andai. Menurutnya, lebih baik melihat perkembangan ke depannya seperti apa. "Apalagi saat ini kita juga masih berkabung dengan wafatnya Pak Nadjmi Adhani," ujarnya.


Selain Aditya, ada nama lain yang juga digadang-gadang bakal maju di Pilwali Banjarbaru. Dia adalah mantan Sekda Kota Banjarbaru, Syahriani Syahran.


Syahriani punya modal kuat jika ingin melenggang ke Pilkada Banjarbaru. Pasalnya, ayah dari Ketua DPRD Banjarbaru, Fadliansyah ini merupakan Ketua DPC Gerindra Banjarbaru. Partai pemilik kursi terbanyak di parlemen dengan 6 kursi.


Dengan modal kursi setengah lusin tersebut, partai besutan Prabowo Subianto ini bisa mengusung calon sendiri di Pilkada Banjarbaru.


Ditanya terkait peluangnya maju di Pilwali Banjarbaru, Syahriani Syahran belum mau berkomentar. "Sekarang masih suasana berduka (atas meninggalnya Nadjmi), jadi nanti dulu," singkatnya. (ris/mam/ema)

Editor : Muhammad Helmi