Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tunggu Kepastian, Sampai Mau Bunuh Diri

Muhammad Helmi • Selasa, 16 Juni 2020 | 11:25 WIB
tunggu-kepastian-sampai-mau-bunuh-diri
tunggu-kepastian-sampai-mau-bunuh-diri

BANJARMASIN - Keinginan Pemko Banjarmasin memiliki alat Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) harus ditimbang secara serius.


Pasalnya, terlalu lama menunggu kepastian hasil swab dari laboratorium Banjarbaru, menimbulkan masalah baru.


Seperti warga yang menghuni fasilitas karantina di Balai Teknologi di Jalan Perdagangan, Banjarmasin Utara. Ada yang frustasi, bahkan sampai ingin bunuh diri. Syukur perbuatan nekat itu diurungkan.


Cerita ini dibeberkan Juru Bicara Gugus Tugas P2 COVID-19 Banjarmasin, Machli Riyadi. Dia mengetahui, ada dua warga Banjarmasin yang hampir berbuat nekat.


Pemicunya, beban pikiran yang berlebih. Dan ketidakpastian hasil tes, negatif atau positif terinfeksi virus corona.


Kabar itu lantas menjadi perhatian gugas. Setelah melalui proses yang alot, tuntutan kedua pasien pun dituruti. Yakni, ingin karantina mandiri di rumah sembari menunggu hasil swab-nya.


"Kami izinkan keduanya dipulangkan ke rumah masing-masing untuk kemudian menjalani karantina secara mandiri. Tapi tetap kami awasi," bebernya.


Lantas, bagaimana kabar keduanya kini? Machli mengungkapkan, bahwa kedua warga itu dikonfirmasi telah sembuh. Syukurlah.


Berkaca dari pengalaman tersebut, Machli mengambil kesimpulan, bahwa kebutuhan alat RT-PCR di Banjarmasin sudah sangat mendesak. Bahkan wajib dimiliki. "Minimal ada satu untuk Banjarmasin," tegasnya.


Sebelumnya, keinginan memiliki RT PCR tersendiri ini juga disampaikan oleh Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, beberapa waktu lalu.


Alasannya, terjadi antrean panjang. Maklum, bukan hanya sampel warga Banjarmasin saja yang diperiksa. Tapi 12 kabupaten lain, termasuk sampel dari provinsi tetangga.


Antrean itu akan memunculkan jeda yang panjang. Penundaan bakal memperlambat penanganan.


Sebagai gambaran, pada pekan lalu, antrean swab yang diperiksa di laboratorium mencapai 2.800 sampel. Maka jangan heran, jika satu sampel harus menunggu sampai sepekan lebih. (war/fud/ema)

Editor : Muhammad Helmi