BANJARMASIN - Dua hari terakhir, distribusi air leding di Banjarmasin mulai terganggu. Sebagian area mengucur kecil, adapula yang mati total. Penyebabnya apalagi kalau bukan kemarau.
Secara kasat mata, Banjarmasin tak mungkin kekurangan air. Apalagi jika melihat Sungai Martapura yang tak pernah kering. Selalu mengalir dari hulu ke hilir.
Tapi apa boleh buat. PDAM Bandarmasih tak bisa lagi menarik bahan baku dari Sungai Martapura karena intrusi. Alias pencemaran air laut ke air sungai.
Berdasarkan data yang diambil PDAM per 22 September tadi, kadar garam di Sungai Martapura sudah mencapai 2.658 miligram per liter. 10 kali lipat dari ambang batas 250 miligram per liter.
“Angkanya sudah tidak bisa lagi ditolerir. Tidak bisa diolah lagi menjadi air bersih yang layak konsumsi,” sebut Humas PDAM Bandarmasih, Muhammad Nur Wakhid, kemarin (23/9).
PDAM terpaksa menyetop total produksi di Intake Sungai Bilu. Salah satu penopang kebutuhan air baku PDAM. “Karena memang tak bisa dipaksakan lagi,” ucapnya.
PDAM memang punya cadangan air baku dari Intake Sungai Tabuk. Meski masih terbilang anak Sungai Martapura, intrusi air laut belum mencapai Sungai Tabuk.
Masalahnya, Intake Sungai Tabuk hanya hanya melayani kebutuhan air bersih untuk Banjarmasin Timur dan Selatan. Kini dipaksa menopang tiga kecamatan lainnya, yakni Banjarmasin Tengah, Barat dan Utara.
“Inilah yang menyebabkan tekanan di pipa-pipa menurun. Terutama di wilayah Banjarmasin Utara dan Barat,” jelasnya.
Jadi jangan heran kalau air tak keluar saat keran pipa dibuka. Karena sumbernya cuma bertumpu pada satu intake.
Apakah PDAM tak punya teknologi untuk memproduksi bahan baku air asin? Teknologinya jelas ada, tapi ongkosnya yang berat.
“Ongkosnya sangat besar. Kalau pun mau memakai teknologi ini, biaya yang akan dibebankan ke pelanggan bisa 15 kali lipat lebih mahal,” sebut Wakhid.
Jika disebut PDAM tak punya persiapan, Wakhid membantah asumsi itu. Menurutnya, mereka sudah lama meyiapkan lahan membuat embung. Hanya saja tak ada biaya untuk membangunnya.
Masuk akal. Dalam dua tahun terakhir, PDAM memang tak dapat penyertaan modal dari pemko apalagi provinsi. Mereka dituntut mandiri.
“Ke depan kami ingin memperbesar atau memperbanyak pompa di Sungai Tabuk. Juga membenahi pipa-pipa di A Yani. Tapi, lagi-lagi, biayanya tak sedikit. Kami hanya bisa berharap pada pemko atau pemerintah pusat,” tuturnya.
Kembali pada krisis air bersih, PDAM saat ini tak bisa berbuat banyak. Mereka tak mampu melawan alam. Hanya berusaha memaksimalkan Intake Sungai Tabuk.
“Kami harap hujan turun. Kami juga memohon kepada para alim ulama dan masyarakat untuk berdoa agar turun hujan,” ucapnya.
Hujan yang diharap, bukan hujan lokal. Tapi menyeluruh di wilayah Kalsel. Agar air sungai bisa mendorong air laut kembali ke muara. (nur/fud/ema)
Editor : Muhammad Helmi