Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ini Dia Sang Pewaris Mandau Emas dan Mandau Perak

Arief • Senin, 26 November 2018 | 10:45 WIB
ini-dia-sang-pewaris-mandau-emas-dan-mandau-perak
ini-dia-sang-pewaris-mandau-emas-dan-mandau-perak

BANJARMASIN - Malam puncak Aruh Film Kalimantan 2018 menjadi milik Gertak Films dan SMKN 3 Banjarmasin. Keduanya dianugerahi Mandau Emas dan Mandau Perak. Malam penghargaan itu digelar di Gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel, Sabtu (24/11).


Dari 12 nominator untuk kategori mahasiswa dan umum, Gertak merupakan satu-satunya perwakilan dari Pontianak, Kalbar. Film berdurasi 16 menit itu berjudul Bagian Tengah Masih Terang. Mengisahkan sosok Ai, peranakan Tionghoa dengan satu anak gadis yang masih kuliah.


Setelah suaminya meninggal dunia, Ai mengubah warung tuak miliknya menjadi warung biasa. Di permukiman urban yang tak pernah sepi dari dentuman dangdut koplo, pelanggan Ai menghilang. Mereka memesan bir, tapi cuma tersedia es teh dan kopi.


Film itu digarap oleh sutradara Pawadi Jihad. Sayang, perwakilan dari Pontianak berhalangan hadir malam itu. Penyerahan Mandau Emas kemudian diwakili oleh panitia, Ketua Forum Sineas Banua, Zainal Muttaqin.


Sementara dari kategori pelajar, Utas Jagau karya Sapakawanan Project (SMKN 3 Banjarmasin) menyisihkan dua nominator lain dengan mudah untuk meraih Mandau Perak.


"Levelnya bukan pelajar lagi. Film ini menyimpan potensi besar. Setting-nya oke, visualnya bisa lebih baik, karena warnanya memang agak belang. Tapi pilihan ceritanya pas sekali," kata juri Andibachtiar Yusuf yang dikenal sebagai sutradara film Hari Ini Pasti Menang.


Penulis naskah Utas Jagau, Yosi Andrea mengaku menemukan inspirasi dari rumahnya. "Di atas pintu depan rumah saya, orang tua menggantung sebuah cincin. Katanya tidak boleh dipakai karena merupakan jimat penjaga rumah kami," kisahnya.


Yosi adalah siswa kelas X dari jurusan perfilman. "Pernah main teater, tapi sering bolos. Setelah kemenangan ini, saya sangat tertarik untuk serius di dunia film," imbuh remaja 17 tahun itu.


Film berdurasi 12 menit ini menceritakan sosok Bain. Yang berniat meminjam cincin warisan milik Ijul. Tujuannya agar menang berkelahi melawan Agus. Teman sekolah yang marah karena pacarnya diganggu Bain.


"Kami syuting di Sungai Jingah. Kendalanya, warga sekitar merasa tak nyaman. Mungkin kaget melihat banyak anak-anak berkeluyuran membawa banyak peralatan. Saya pikir wajar, film pendek kan masih barang baru di Banjarmasin," kata penata suara film, Muhammad Rizal, 16 tahun.


Dari nominator lain, penata suara film Sarakap, Muhammad Syahbani menerima dengan dada lapang keputusan dewan juri. "Ketika menonton Bagian Tengah Masih Terang, saya tahu kami bakal kalah. Mereka sudah berada pada level berbeda," tegasnya.


Lulu Ratna dari dewan juri mengaku sempat bertanya kepada panitia. Apakah mereka menginginkan film yang sekadar menjual lokalitas? Atau mendambakan film bermutu yang bisa menciptakan standar-standar untuk festival selanjutnya?


Panitia ternyata memilih yang kedua. Andaikan saja yang pertama, tentu nama pemenangnya bakal menjadi berbeda. "Film yang bagus, meski ditonton berulang kali, tetap mampu memberikan hal-hal baru bagi pemahaman kita. Dan Bagian Tengah Masih Terang memenuhi pengertian itu," jelas pegiat organisasi Boemboe tersebut.


Sebenarnya, daftar nominasi didominasi sineas asal Banjarmasin. Jika pada akhirnya mereka tersisih, juri Agus Makkie melihat ada kelemahan umum. Yakni penulisan naskah yang kurang kuat. Ada kecenderungan untuk hanya mengandalkan pemandangan sungai, pasar terapung, rumah adat, atau perkakas khas lokal pada semua karya nominator.


"Apa yang unik dari sungai? Provinsi lain toh juga punya. Pemandangan wisata hanyalah bonus. Bakal lebih menarik jika sineas Banjar mau fokus menulis karakter-karakter orang Banjar," tegasnya.


Sementara itu, film Vice Versa karya Dragon Hajati yang digarap sutradara Irza Haifany mendapat penghargaan special mention dari dewan juri. Film berdurasi tiga menit ini menampilkan sepasang kekasih. Yang berbalas pantun berbahasa Banjar di ruang interogasi dengan tangan terborgol.


Bagi Agus, film ini menyimpan tingkat kesulitan yang bahkan dihindari oleh para sineas profesional sekalipun. "Mengawinkan antara yang tradisional dan modern itu sangat susah. Dan Vice Versa ternyata berhasil," pujinya.


Patut dicatat, Mandau Emas dan Mandau Perak bukan istilah semata. Trofi memang dalam wujud mandau sesungguhnya. Empu Aji Tosa secara khusus diundang untuk menjelaskan filosofi kedua mandau tersebut.


"Kedua mandau ini diukir dengan pamor (motif) Salindang Mayang dan Mayang Maurai. Menyimpan pesan untuk berani dalam belajar dan terus menyebarkan ilmu kepada sesama," jelas empu. (fud/ma/nur)

Editor : Arief