MASIH ingat dengan penemuan meriam peninggalan Belanda yang menghebohkan itu? Agustus 2016, pekerja proyek Jalan Sudirman tak sengaja menemukan sebuah meriam kuno pada kedalaman 1,2 meter.
Sejarawan dan arkeolog pun geger. Meminta pemko menghentikan proyek agar tak merusak situs bersejarah tersebut. Menimbang besarnya kebutuhan masyarakat atas jalan tersebut, permintaan itu diabaikan.
Sejarah mencatat, sebelum Masjid Raya Sabilal Muhtadin berdiri, dulunya disitu merupakan Fort Van Tatas. Benteng ini merupakan simbol kepongahan penjajahan Belanda di Banjarmasin, bahkan Kalimantan.
Dua tahun berlalu, meriam itu kini teronggok di halaman Balai Kota, Jalan RE Martadinata. Kondisinya mengenaskan. Diapit parkiran sepeda motor pegawai dan tamu pemko. Bahkan, sampah plastik bekas minuman dan makanan menumpuk di sekitar meriam.
Namun, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menegaskan pemko memiliki rencana atas meriam dengan berat hampir dua ton tersebut. Meriam itu akan dibuatkan tugu dan dipajang di taman siring agar bisa dilihat masyarakat.
"Ada sejumlah masukan. Dipajang di Menara Pandang (Siring Pierre Tendean) atau Siring Sudirman. Adapula pilihan alternatif di seberang Balai Kota (Siring RE Martadinata). Mana yang paling pas, saya belum memastikan," kata Ibnu, kemarin (16/10).
Ibnu rupanya telah menyerahkan nasib meriam ini pada sejumlah pakar dan sejarawan. "Pertimbangannya harus dijabarkan. Positif dan negatifnya apa kalau misalnya diletakkan di sini atau di sana," imbuhnya.
Dia yakin, tugu meriam ini bisa mempercantik kawasan siring. Selain itu, menjadi pelajaran bagi generasi muda terkait sejarah kota ini. "Dan saya harus bertanya kepada sejarawan. Jangan sampai salah dalam memperlakukannya," tegas Ibnu.
Meriam statis ini punya panjang 1,9 meter, lingkar badan 85 sentimeter, dengan moncong pelor berdiameter 20 sentimeter. Dibuat dari besi solid, meriam ini didatangkan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) untuk memperkuat pertahanan Benteng Tatas. (fud/at/nur)
Editor : Arief