Geliat usaha kerajinan tangan memang tengah berkembang. Salah satunya datang dari Kriya Katupat. Belakangan mereka sedang sibuk membuat tanggui hias.
Kriya Katupat merupakan salah satu kelompok kerajinan di Banjarmasin. Berada di Jalan Sungai Baru, Banjarmasin Tengah.
Kriya ini dibangun oleh Elisa R Suryana (37). Seorangaktivis dalam bidang ekonomi kreatif. Kriya ini berisi 10 anggota tetap, dan 5 anggota tak tetap.
Hingga kemarin (7/10), pengerjaan tanggui hias berlangsung di Kriya ini. Tanggui itu dilukis dan diberi warna yang cantik. Kriya ini mendapat pesanan dari salah satu UKM. Ada 40 tanggui yang mereka kerjakan.
Kenapa mesti tanggui? Sungai Baru merupakan Kampung Ketupat di Banjarmasin. Bahan utama membuat ketupat serupa dengan tanggui. Yakni dengan memanfaatkan daun nipah yang telah dikeringkan. "Bahan bakunya tidak susah. Tanggui sendiri menarik dan punya nilai komersil," ujar Elisa.
Dengan memanfaat berbagai keahlian anggota, ide itu betul-betul dijalankan. Kebetulan ada anggota yang mahir membuat tanggui. Pengerjaan berlanjut ke bagian pelukisan motif. Agar tak lepas dari nuansa Banjar, mereka melukiskan ragam pola sasirangan. Rumah Banjar pun juga ada.
Setelah itu, masuk dalam proses pewarnaan. Untuk cat sendiri, mereka mengandalkan warna-warna yang cerah. Agar motif terlihat kontras.
Ada beberapa macam ukuran tanggui. Mulai dari berdiameter 1 meter, dijual dengan harga Rp100 ribu. Kemudian diameter 75 cm Rp50 ribu, 50 cm Rp40 ribu, 40 cm Rp30 ribu dan 30 cm seharga Rp20 ribu.
Dalam Pameran Dagang Kota Banjarmasin Tahun 2018 di Siring Tandean akhir September lalu, Kriya Katupat berhasil menjual sekitar 60 tanggui hias. Melihat respons positif dari masyarakat, Elisa memutuskan melanjutkan produksi.
"Responsnya baik, sekalian kita berdayakan keahlian yang dimiliki oleh anggota Kriya Katupat," ujarnya.
Setelah diwarnai, tanggui itu kemudian dijemur. Mereka menyusunnya di tepian jalan Sungai Baru. Rupanya itu terlihat oleh wisatawan asal Medan yang sedang susur sungai. Mereka singgah dan membeli.
Tak hanya dari warga lokal, tanggui hias ini juga dibeli para turis asing. Diantaranya dari peserta Delegasi Friendship Force Chicago International, Amerika Serikat. Mereka terkesan dan hendak membeli untuk oleh-oleh. "Mereka beli yang kecil biar muat di koper," tutur Elisa.
Kriya ini menghasilkan beragam kerajinan. Mulai dari olahan kain Sasirangan. Yang mereka buat menjadi baju, kalung, bunga hias dan sebagainya. Mereka juga memproduksi miniatur rumah Banjar.
Tanggui hias sendiri berawal dari ketidaksengajaan. Di samping rumahnya, terdapat kampung bermain. Di situ puluhan anak-anak setempat bermain setiap sorenya.
Dalam sebulan belakangan, Elisa terpikir untuk mengenalkan anak-anak pada tanggui. Yaitu topi capingnya suku Banjar. Yang biasa dikenakan ketika hendak ke sawah atau pun beraktivitas di luar ruang.
"Saya ingin mengenalkan kepada anak-anak tentang kerajinan khas banjar. Tanggui ini salah satunya," ujarnya.
Agar mampu menarik minat anak-anak, ia kemudian mengajak mereka menggambar tanggui itu. Kemudian diberi warna dengan cat. Sehingga jadilah tanggui hias.
Karya dari anak-anak setempat rupanya menarik perhatian. Karya mereka dibeli. Bahkan rekan Elisa dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin menyarankan ikut pameran dagang.
Pesanan akhirnya berdatangan. Termasuk baru-baru ini dari Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) DPW Kalsel. "Mereka pesan 40 buah. Harapannya usaha ini kian berkembang," ujar Elisa. (mr-150/at/nur)
Editor : Arief