Teater rakyat sekarang hanya tinggal sejarah. Dilahap kepingan kaset DVD, layanan streaming, serta bioskop modern. Tapi, memori masa lalu itu coba dibangkitkan lagi oleh NSA Project Movement dan Forum Sineas Banua (FSB). Dengan memutar empat film pendek di eks bangunan Teater Cempaka.
Bangunan itu bangun dari tidur panjang. Berlokasi di Lantai III Pasar Cempaka Jalan Niaga, Kelurahan Kertak Baru, Banjarmasin Tengah, bioskop yang dulunya menjadi wadah nonton favorit masyarakat Banjarmasin ini dibuka kembali, Sabtu (15/9) malam.
Ide langka ini dicetus NSA Project Movement dengan menggandeng Forum Sineas Banua (FSB), dan Yayasan Bank Danamon Peduli. Mereka memutar empat buah film pendek. Sar Gede Kumandang karya Uud Iswahyudi, Bagurau karya Yudi Leo, dan Koma besutan dari Haekal Ridho Affandi. Satu lagi karya lokal berjudul Mafia Banjar besutan Fin Lee Neo.
Memiliki dua buah ruangan teater, pemutaran film pendek menggunakan studio pertama dengan proyektor. Kami duduk lesehan. Tanpa kursi teater lantaran fisiknya sudah lapuk dimakan rayap sejak ditutup bertahun-tahun lalu.
Ketimbang menikmati film, pemandangan penonton lebih banyak teralihkan melihat bangunan teater. Dinding-dinding terkelupas, dipenuhi coretan. Sampah-sampah camilan dan minuman berserakan, serta bau pesing menusuk hidung pada beberapa sisi bioskop.
Dari puluhan penonton, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina ikut menyaksikan pemutaran film. Dia duduk bersama warga lain. Ingatannya terseret menuju puluhan tahun silam. Saat Ibnu masih duduk di bangku kelas dua SMA, menikmati film-film klasik era Orde Baru.
"Sangat berterima kasih. Setelah disentuh para seniman, ruang-ruang yang sekarang menjadi negatif berubah menjadi positif seperti ini. Mereka menyulapnya menjadi ruang budaya," ucapnya.
Dalam memori Ibnu, dulu masyarakat kota ini bisa menikmati teater-teater rakyat yang beragam. Seperti Bioskop Dewi dan Kamaratih.
Sayang. Ibnu belum berani memastikan pemutaran film di ruang alternatif bisa terus dilanjutkan. "Perlu proses, saya iseng saja bertanya kepada penonton. Apakah pemutaran film kepengin dilanjutkan atau tidak? Rupanya dijawab iya," ujarnya terkekeh.
Para penonton tua boleh jadi bernostalgia. Namun, untuk pengunjung dari anak-anak muda, mereka kepengin menuntaskan rasa penasaran terhadap keberadaan bioskop-bioskop rakyat yang sempat berjaya di kota ini.
Ambil contoh, Mellani Putri. Perempuan berusia 23 tahun ini baru pertama kali melihat ada bioskop rakyat. "Kayaknya asyik ya kalau nonton. Bangunannya juga oke punya. Sangat anti-mainstream banget," serunya.
Dia berandai-andai. Suatu saat Banjarmasin punya berjibun bioskop. Maka masyarakat pasti tak perlu lagi kerepotan mengantre menonton film-film kesayangan. Plus tak lagi kekeringan kantong gara-gara harus menyisihkan uang lantaran tiket yang harganya terlampau mahal. "Andai saja begitu. Pasti asyiklah," imbuhnya.
Sementara itu, Direktur NSA Project Movement, Novyandi Saputra mengatakan gerakan membangkitkan teater rakyat ini sekadar pemantik awal. Alias perlu dilanjutkan oleh komunitas-komunitas atau pemerintah kota yang punya wewenang.
"Ini untuk rangkaian Festival Pasar Rakyat 2018. Kami ingin membangkitkan lagi ruang kebudayaan di pasar-pasar tradisional. Film-film yang diputar juga bertemakan pasar. Agar mereka ingat kembali pentingnya berkunjung ke pasar rakyat," tandasnya. (dom/ma/nur)
Editor : Arief