Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

16 Menit yang Bikin Merinding

Arief • Sabtu, 18 Agustus 2018 | 13:21 WIB
16-menit-yang-bikin-merinding
16-menit-yang-bikin-merinding

 


Naskah Demang Lehman ditulis Adjim Arijadi pada tahun 1964 di Yogyakarta. 54 tahun berselang, putranya menyutradarai pertunjukan drama tersebut di Banjarmasin.


 


SYARAFUDDIN, Banjarmasin


TEATER kolosal selalu menuntut lebih. Apalagi jika ceritanya bersinggungan dengan sejarah. Puluhan dan bahkan ratusan pemain figura bisa dikerahkan. Panggung dan musiknya mesti megah. Belum detail properti dan kostumnya.


Namun, Hijromi Arijadi Putera membuktikan, yang serba sederhana pun sudah cukup. Kemarin (17/8) pagi, sebelum upacara peringatan proklamasi di Balai Kota dimulai, dia menampilkan Pewaris Haram Manyarah.


Drama itu menceritakan Demang Lehmang pada babak kehidupannya yang paling kritis. Saat Demang dikhianati, ditangkap, dan dihukum mati di alun-alun. Masyarakat yang hendak menolong tak berdaya diadang serdadu penjajah.


Hijromi hanya memperoleh Jalan RE Martadinata sebagai panggungnya. Tak ada kostum yang berlebihan. Selain bedil kayu dan tiang gantungan setinggi dua meter. Tak juga terdengar dialog panjang yang membuat dahi berkerut.


"Rencana awal melibatkan 250 pemain. Ternyata tak sampai 200. Kami juga hanya mendapat waktu selama 16 menit. Durasi yang sangat singkat itu harus dimaksimalkan," kata lelaki 25 tahun tersebut.


Bahkan, waktu latihan yang tersedia juga hanya 10 hari. Namun, bagi Hijromi serba "kekurangan" itu tak menjadi masalah. "Enggak masalah, karena konsepnya memang sudah matang," imbuhnya.


Secara pribadi, naskah ini terasa spesial karena ditulis sang ayah. Yakni Adjim Arijadi yang dijuluki sebagai Bapak Teater Modern Kalsel. Adjim meninggal dunia dua tahun yang lewat.


Naskah asli (versi panjang) ditulis Adjim tahun 1964 saat berada di Yogyakarta. Judulnya Demang Lehman. Untuk keperluan pementasan, tahun 2014 Adjim menulis ulang versi yang lebih pendek. "Versi inilah yang kami mainkan sekarang," tukas Hijromi.


Jelas tak mudah menampilkan sosok sebesar Demang dalam sebuah pertunjukan pendek. Namun, meski sudah dipangkas-pangkas dari versi panjang, benang merah cerita tetap dijaga. "Penghukuman itulah benang merahnya," tegasnya.


Selama ini, pertunjukan yang beranjak dari sejarah kerap disorot. Entah karena kurang riset sehingga fakta historisnya meleset. Atau terlalu berani bermain pada bagian-bagian yang masih menjadi bahan perdebatan sejarawan.


Hijromi menertawakannya. Dia menegaskan, seni pertunjukan justru membutuhkan improvisasi. "Ketika sudah masuk panggung, cerita sejarah sekalipun butuh bumbu. Kalau saya nekat menampilkan sejarah murni, bakal datar. Terasa kering," bebernya.


Bukan hanya epos kepahlawanan, ia juga bicara tentang pengkhianatan. Demang berhasil ditangkap berkat bantuan Syarif Hamid. Namun, Hijromi menolak jika Hamid disebut tokoh jahat.


"Antagonis artinya tokoh yang menantang protagonis. Itu definisi sebenarnya. Kemudian salah kaprah menjadi tokoh jahat," jelasnya. Singkat kata, Hamid tertipu oleh siasat Belanda. Bukan karena ia meniatkan sebuah pengkhianatan. Kemungkinan untuk tafsiran itu masih terbuka.


"Dalam sudut pandang Syarif, itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan masyarakat dan agama dari peperangan berkepanjangan," tambahnya.


Lantas, apa makna yang ingin disampaikan kepada penonton? Yakni penegasan semangat Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing. "Upaya mewariskan semangat yang sama. Dari Pangeran Antasari kepada Demang Lehman. Terus kepada kita pada zaman sekarang," pungkasnya.


Pemeran Demang Lehman adalah Rizky Darmawan. Pemuda 20 tahun itu anggota Sanggar Budaya Kalsel. Dia terpilih atas peran penting itu karena sudah pernah memainkannya. "Sekitar tahun 2016 di Taman Budaya Kalsel," ujarnya.


Faktor lain, mahasiswa Jurusan Seni Pertunjukan ULM (Universitas Lambung Mangkurat) itu pernah menyimak cerita Demang Lehman langsung dari mulut penulisnya. "Saya ingat, almarhum Pak Adjim menceritakan sosok Demang kepada anggota sanggar," imbuhnya.


Meski sudah dua kali memerankannya, bukan berarti menjadi mudah. Rizky mengakui, adegan sebelum Demang dihukum mati selalu menjadi bagian yang tersulit. "Bagaimana meresapi detik-detik menjelang kematian. Bagaimana agar tetap tegar pada momen segenting itu," pungkasnya.


Rizky sepenuhnya benar. Adegan penghukuman itu membuat merinding. Penulis melihat, sejumlah pelajar yang menonton adegan itu menundukkan kepala. Bahkan ada yang tak kuat menahan tangis.


Patut dicatat, pertunjukan ini bisa terselenggara berkat kerjasama antara Kodim 1007/Banjarmasin dan Yayasan Sanggar Budaya Kalsel. (fud)



Seorang diri ia dikepung serdadu Belanda. Musuh bisa menangkapnya berkat bantuan seorang tokoh lokal bernama Syarif Hamid.

Editor : Arief