Di tengah gencarnya pembangunan siring beton, rumah lanting perlahan mulai rontok satu per satu. Lalu, bagaimana kehidupan mereka yang memilih bertahan?
Sudah 34 tahun terakhir Asniah bermukim dirumah lanting berukuran 4x6 meter bersama tiga orang anaknya. Tepatnya di bantaran sungai Kampung Sasirangan, Kelurahan Seberang Masjid. Bangunan rumahnya sederhana. Terbuat dari susunan bambu yang dirakit menjadi satu.
Pada bagian interior rumah, cuma ada perabotan-perabotan sederhana. Seperti ranjang, dapur kecil, serta barang elektronik seperti televisi. Urusan mandi, cuci, kakus (MC) semuanya serba di sungai. Di samping rumahnya masih ada enam buah lanting yang masih bertahan sampai sekarang. “Awalnya dulu ramai sekali rumah lanting. Kalau kita patok, dari Jembatan Dewi sampai sini ada sekitar 30 rumah,” cerita Asniah.
Rata-rata warga yang tinggal di rumah lanting memiliki usaha jual beli bensin untuk perahu kelotok. Begitu juga dengan Asniah. Namun, dia mengaku semakin hari transportasi air makin sepi. Ujung-ujungnya banyak masyarakat yang berhenti bermukim. “Termasuk juga karena adanya pembangunan siring beton. Jadi mereka terpaksa pindah,” tuturnya.
Sebagai rumah tradisional khas masyarakat Banjar pesisir, ia menaruh harapan tak muluk-muluk. Jangan sampai kearifan lokal ini tergerus seluruhnya karena pembangunan kota. “Ya perbaikan sedikit-sedikit juga tidak apa-apa. Yang penting diperhatikan,” tandas Asniah. Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Kota Banjarmasin, Khuzaimi mengklaim sudah melakukan inventarisasi rumah- rumah lanting yang masih tersisa.
Kawasan-kawasan permukiman lanting yang masihtersisa juga dijadikan satu dari sekian banyak destinasi wisata. Seperti di kawasan Kampung Sasirangan. “Namun, untuk melakukan renovasi rumah, kami masih menunggu investor untuk melakukan pengembangan,” ungkap Khuzaimi.
Sebelumnya, pemko sempat terpikir untuk membuat kawasan rumah lanting secara terpadu. Artinya tak terpisah-pisah. Tetapi rencana itu urung dilakukan karena memerlukan anggaran yang tak sedikit. Pada intinya, ke depan Khuzaimi menegaskan kawasan rumah lanting yang masih tersisa bakal tetap dijaga dari laju pertumbuhan kota. “Akan kita tata. Bukan kita gusur yang seperti sudah-sudah,” pungkasnya.(dom/ma/nur)
Editor : Arief