Makam Massal Jumat Kelabu 23 Mei 1997, nampaknya sudah dilupakan. Kuburan ratusan mayat tanpa identitas, korban kerusuhan di Banjarmasin 21 tahun silam tersebut kini jarang diziarahi.
SUTRISNO, Banjarbaru
Seperti halnya Rabu (3/5) kemarin, padahal tepat hari peringatan tragedi Jumat Kelabu. Namun, tak ada satu pun peziarah yang datang untuk sekadar membersihkan atau memanjatkan doa di makam itu.
Kondisi kuburan di Kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik Pemko Banjarmasin, di Gang PDI Jalan A Yani Km 22 Landasan Ulin, Banjarbaru tersebut juga cukup memprihatinkan.
Kesan tak terurus terlihat jelas. Lantaran patok-patok untuk nisan kuburan yang dulunya banyak, sekarang sudah banyak yang hilang. Hanya tersisa sekitar 15 patok yang masih berdiri di atas kuburan berukuran sekitar 26x4 meter tersebut.
Selain itu, patok dari kayu sebagai tanda makam yang berdiri tepat di sisi kuburan setinggi 60 sentimeter, bertuliskan "Makam Masal Jumat Kelabu 23 Mei 1997" juga mulai kusam. Semakin mempertegas bahwa kuburan itu benar-benar dilupakan.
Salah seorang penjaga makam Fajri mengungkapkan, tempat pemakaman massal sekarang sangat jarang didatangi oleh peziarah. Setiap tahunnya, orang yang datang dapat dihitung dengan jari. "Walaupun hari ini (kemarin) tanggal 23 Mei, terlihat tidak ada yang datang berziarah," ungkapnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.
Dia menuturkan, sekarang hanya tersisa tiga makam yang masih diziarahi orang. Itupun hanya satu tahun sekali. "Yang masih diziarahi, hanya tiga makam yang ada keramiknya itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah makam.
Dulu ketika masih banyak dikunjungi orang. Makam tersebut terlihat terurus dan selalu bersih. Namun saat ini makam itu sudah terbengkalai, karena hanya penjaga TPU yang mengurusnya. "Kami yang mengurusnya, walaupun tidak ada yang membayar," ujarnya.
Sementara itu, Ahmad penjaga makam lainnya menambahkan, kondisi makam sekarang sering tergenang air. Lantaran air pasang dan hujan. “Makanya saya buat parit di sekeliling makam agar air tidak menumpuk dan mengalir, ” ujarnya.
Meski tergenang, penjaga TPU sangat memperhatikan kebersihan makam. Dua pekan sekali, mereka selalu membersihkannya. "Rumputnya cepat tumbuh, karena musim hujan. Jadi harus rutin kami bersihkan," kata Ahmad.
Disinggung sejak kapan makam tak lagi didatangi peziarah? Dia menuturkan, makam mulai sepi peziarah sejak enam tahun yang lalu. Sebab, keluarga korban tidak mau mengingat lagi tentang tragedi kerusuhan 21 tahun lalu. "Ada beberapa keluarganya bilang, kalau datang ke sini selalu teringat kejadian dulu. Jadi mereka jarang ke sini," pungkasnya. (ris/ay/ran)
Editor : Arief