alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 14 August 2022

"Saya Bakal Merindukan Suasana Ini"

Ketika Mahasiswa ULM Terpesona Keindahan Kain Tenun Bugis Pagatan

“Siri na pacce!” tegas dosen sosiologi asal Universitas Lambung Mangkurat, Ismar Hamid. Dia jabarkan falsafah Bugis di hadapan penenun Pagatan di pondok kayu tepi sawah. Rambut gondrongnya mengingatkan kita dengan poster pendekar Sulawesi berjuluk Ayam Jantan dari Timur.

ZALYAN SHODIQIN ABDI, Pagatan

Mahasiswi semester empat FISIP ULM, Soraya menyimak lekat-lekat. Kain tenun yang dipintal di pondok kayu, ternyata punya makna sedemikian dalam.

Menenun bukanlah perkara mudah. Yang sudah ahli, jika seorang diri saja, perlu waktu sebulan untuk menyelesaikan selembar kain.

“Bukan sekadar membuat kain. Tapi dalam proses ini juga terkandung falsafah Bugis, siri na pacce,” ujar Hamid.
Siri artinya harga diri, pacce artinya martabat. Menenun kata Hamid, merupakan upaya orang Bugis untuk menjaga harga diri dan martabatnya.

“Orang Bugis, daripada meminta-minta, lebih baik dia memintal satu demi satu benang jadi kain untuk membeli beras,” beber Hamid.

Semangat itulah yang harus dijaga para penenun. Sehingga karya yang dihasilkan nantinya punya semangat yang dapat dirasakan melalui warna dan coraknya.

“Sayangnya, saya lihat, generasi muda kurang minatnya ke tenun. Padahal luar biasa nilai budayanya,” kata Soraya.
Gadis yang tinggal di Kabupaten Banjar itu merasakan ketekunan dan kesabaran para perempuan Bugis. Tenun baginya adalah jalinan keindahan Bugis dalam memaknai hidup.

Keindahan itu dirasakan pula oleh mahasiswi asal Banjarbaru yang akrab disapa Chery. “Sebulan di sini sudah kayak keluarga. Diajak ke pengantinan orang-orang,” ujarnya.

Baca Juga :  Cerita Pedagang Kopi Keliling di Kayu Tangi: Menjaga Perasaan Pemilik Warung

Lain lagi dengan Intan, asal Sungai Andai, Banjarmasin. Gadis periang itu mengenang momen mencari daun dengan para penenun.

Daun-daun di pinggiran sawah mereka kumpulkan. Direbus dan ditiriskan. Bahan pewarna benang. Teknik pewarnaan alami inilah yang diajarkan FISIP ULM di sana selama dua hari. “Suasana ini, bakal saya rindukan,” ujarnya.

Pengabdian mahasiswa ini digelar Senin dan Selasa kemarin. Olah gawe Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ULM. Dikomandoi dosen FISIP Sri Hidayah. Ditemani rekannya Nizram dan dosen Fekon, Ahmad Yunani.

Sri sudah sering ke Pagatan. Sudah lama mendampingi para penenun. Yunani bahkan telah membuat kajian ekonomi, tantangan dan peluang kain tenun.

Ciri khas tenun Pagatan tidak ditemui di Sasirangan. Menurut Sri, corak dan warnanya lahir dari proses yang dalam. Benang satu demi satu dijalin, disusun sedemikian rupa agar membentuk sebuah pola. “Proses ini tidak ada di sasirangan,” akunya.

Melihat nilai budayanya begitu tinggi, dia lalu coba mengenalkan warna alami. Idenya dari daerah lain. Dan sekitar setahun lalu pernah uji coba di Pagatan.

Pakai warna dari daun bakau. Muncullah warna eksotik. Jenis warna yang belum pernah dilihat para penenun sebelumnya.

“Sebenarnya Bugis itu cenderung warna terang. Menyala. Tapi ini juga enak. Jadinya kalem,” kata Liha.
Tenunan warna kimia mereka hargai per lembar sekitar Rp800 ribu. Cukup dibuat dua pasang baju. Nah, kalau warna dari bahan dedaunan, mereka belum tahu mematok berapa. “Pastinya lebih mahal. Soalnya agak susah prosesnya,” akunya.

Baca Juga :  Asal Usul Slogan Bersujud

Semenjak pandemi tadi para penenun puasa. Pemasukan tipis. Berbeda dengan Sasirangan, tenun penjualannya masih mengandalkan event. Apakah itu wisata atau lomba fesyen.

“Pemerintah memang harus mendorong. Bisa dalam bentuk kebijakan,” timpal Yunani.

Jika tidak ada aral, ULM hendak menjajaki gelaran eco fesyen di Tanah Bumbu. Sebelumnya mereka mau bikin dulu “sekolahnya”.

Sebuah tempat latihan untuk tua dan muda. Mulai dari bikin kain tenun sampai produk turunannya. Semua dari bahan alami.

Setelah menjadi beragam produk, baru dibuat pertunjukan. Bisa di tepi pantai Pagatan. Tapi konsepnya dibuat agar anak muda tertarik. “Fenomena Citayam Fashion Week itu jadi bukti,” kata Sri.

Sejatinya, sudah banyak yang coba mengembangkan tenun Pagatan. Tapi entah bagaimana, konsep-konsep brilian seperti tercecer di acara-acara seremoni.

Mantan runner up Puteri Indonesia Dian Cahyani ketika mendampingi suaminya tugas di Kodim 1022 di Tanah Bumbu, kencang mempromosikan tenun Pagatan. Paling dia banggakan adalah kreasi tasnya.
Dia juga menilai, corak dan warna tenun Bugis itu memiliki aura yang dalam.

Walau punya kelebihan begitu hebat, tapi tenun Pagatan juga memiliki kekalahan yang telak: promosi dan pemasaran.
Kita tunggu saja, apakah falsafah Siri na Pacce bisa membangkitkan semangat kolektif mereka untuk memaksimalkan potensi industri fesyen di ujung pesisir Kalsel.

Seperti jalinan benang itu, walau kecil-kecil ketika berkumpul dalam proses yang berkualitas, hasilnya adalah keindahan. (gr/fud)

“Siri na pacce!” tegas dosen sosiologi asal Universitas Lambung Mangkurat, Ismar Hamid. Dia jabarkan falsafah Bugis di hadapan penenun Pagatan di pondok kayu tepi sawah. Rambut gondrongnya mengingatkan kita dengan poster pendekar Sulawesi berjuluk Ayam Jantan dari Timur.

ZALYAN SHODIQIN ABDI, Pagatan

Mahasiswi semester empat FISIP ULM, Soraya menyimak lekat-lekat. Kain tenun yang dipintal di pondok kayu, ternyata punya makna sedemikian dalam.

Menenun bukanlah perkara mudah. Yang sudah ahli, jika seorang diri saja, perlu waktu sebulan untuk menyelesaikan selembar kain.

“Bukan sekadar membuat kain. Tapi dalam proses ini juga terkandung falsafah Bugis, siri na pacce,” ujar Hamid.
Siri artinya harga diri, pacce artinya martabat. Menenun kata Hamid, merupakan upaya orang Bugis untuk menjaga harga diri dan martabatnya.

“Orang Bugis, daripada meminta-minta, lebih baik dia memintal satu demi satu benang jadi kain untuk membeli beras,” beber Hamid.

Semangat itulah yang harus dijaga para penenun. Sehingga karya yang dihasilkan nantinya punya semangat yang dapat dirasakan melalui warna dan coraknya.

“Sayangnya, saya lihat, generasi muda kurang minatnya ke tenun. Padahal luar biasa nilai budayanya,” kata Soraya.
Gadis yang tinggal di Kabupaten Banjar itu merasakan ketekunan dan kesabaran para perempuan Bugis. Tenun baginya adalah jalinan keindahan Bugis dalam memaknai hidup.

Keindahan itu dirasakan pula oleh mahasiswi asal Banjarbaru yang akrab disapa Chery. “Sebulan di sini sudah kayak keluarga. Diajak ke pengantinan orang-orang,” ujarnya.

Baca Juga :  Cerita Pedagang Kopi Keliling di Kayu Tangi: Menjaga Perasaan Pemilik Warung

Lain lagi dengan Intan, asal Sungai Andai, Banjarmasin. Gadis periang itu mengenang momen mencari daun dengan para penenun.

Daun-daun di pinggiran sawah mereka kumpulkan. Direbus dan ditiriskan. Bahan pewarna benang. Teknik pewarnaan alami inilah yang diajarkan FISIP ULM di sana selama dua hari. “Suasana ini, bakal saya rindukan,” ujarnya.

Pengabdian mahasiswa ini digelar Senin dan Selasa kemarin. Olah gawe Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ULM. Dikomandoi dosen FISIP Sri Hidayah. Ditemani rekannya Nizram dan dosen Fekon, Ahmad Yunani.

Sri sudah sering ke Pagatan. Sudah lama mendampingi para penenun. Yunani bahkan telah membuat kajian ekonomi, tantangan dan peluang kain tenun.

Ciri khas tenun Pagatan tidak ditemui di Sasirangan. Menurut Sri, corak dan warnanya lahir dari proses yang dalam. Benang satu demi satu dijalin, disusun sedemikian rupa agar membentuk sebuah pola. “Proses ini tidak ada di sasirangan,” akunya.

Melihat nilai budayanya begitu tinggi, dia lalu coba mengenalkan warna alami. Idenya dari daerah lain. Dan sekitar setahun lalu pernah uji coba di Pagatan.

Pakai warna dari daun bakau. Muncullah warna eksotik. Jenis warna yang belum pernah dilihat para penenun sebelumnya.

“Sebenarnya Bugis itu cenderung warna terang. Menyala. Tapi ini juga enak. Jadinya kalem,” kata Liha.
Tenunan warna kimia mereka hargai per lembar sekitar Rp800 ribu. Cukup dibuat dua pasang baju. Nah, kalau warna dari bahan dedaunan, mereka belum tahu mematok berapa. “Pastinya lebih mahal. Soalnya agak susah prosesnya,” akunya.

Baca Juga :  Tolak Pemberhentian Pegawai Tidak Tetap di Tanbu dan Kotabaru

Semenjak pandemi tadi para penenun puasa. Pemasukan tipis. Berbeda dengan Sasirangan, tenun penjualannya masih mengandalkan event. Apakah itu wisata atau lomba fesyen.

“Pemerintah memang harus mendorong. Bisa dalam bentuk kebijakan,” timpal Yunani.

Jika tidak ada aral, ULM hendak menjajaki gelaran eco fesyen di Tanah Bumbu. Sebelumnya mereka mau bikin dulu “sekolahnya”.

Sebuah tempat latihan untuk tua dan muda. Mulai dari bikin kain tenun sampai produk turunannya. Semua dari bahan alami.

Setelah menjadi beragam produk, baru dibuat pertunjukan. Bisa di tepi pantai Pagatan. Tapi konsepnya dibuat agar anak muda tertarik. “Fenomena Citayam Fashion Week itu jadi bukti,” kata Sri.

Sejatinya, sudah banyak yang coba mengembangkan tenun Pagatan. Tapi entah bagaimana, konsep-konsep brilian seperti tercecer di acara-acara seremoni.

Mantan runner up Puteri Indonesia Dian Cahyani ketika mendampingi suaminya tugas di Kodim 1022 di Tanah Bumbu, kencang mempromosikan tenun Pagatan. Paling dia banggakan adalah kreasi tasnya.
Dia juga menilai, corak dan warna tenun Bugis itu memiliki aura yang dalam.

Walau punya kelebihan begitu hebat, tapi tenun Pagatan juga memiliki kekalahan yang telak: promosi dan pemasaran.
Kita tunggu saja, apakah falsafah Siri na Pacce bisa membangkitkan semangat kolektif mereka untuk memaksimalkan potensi industri fesyen di ujung pesisir Kalsel.

Seperti jalinan benang itu, walau kecil-kecil ketika berkumpul dalam proses yang berkualitas, hasilnya adalah keindahan. (gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/