alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Saturday, 13 August 2022

Pemerintah Daerah Harus Akui Lalai Hadapi Banjir, Jangan Malah Salahkan Alam

KOTABARU – Diguyur hujan deras, Kabupaten Kotabaru kebanjiran. Parah sekali, jalan-jalan di pusat kota pun terendam. Sementara listrik padam selama empat jam.

Pantauan Radar Banjarmasin kemarin (28/7), banyak sepeda motor yang mogok. Tergeletak begitu saja di pinggir jalan GOR Kotabaru.

Di SDN 2 Semayap di Jalan Hasan Basri, banyak orang tua siswa yang cemas. Menunggu anaknya dievakuasi.

Sebab, luapan air sudah setinggi dada orang dewasa. TNI, Polri dan relawan pun berjibaku menantang arus.

Ketika air mulai surut, turun sepinggang, baru pelajar bisa dievakuasi dengan perahu karet.

Warga yang membantu evakuasi, Redi menuding, banjir disebabkan drainase yang mampat. Belum lagi bangunan-bangunan yang menutupi pembuangan limpasan air.

Baca Juga :  Kata PUPR, Drainase di Banjarmasin Berfungsi Normal

“Dulu di sini aliran air menuju sungai. Sekarang sudah tidak ada lagi,” ujarnya seraya menunjuk ke arah kolong gedung Mahligai KNPI Kotabaru.

Dikonfirmasi, Plt Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotabaru, Hendra Indrayana mengatakan, banjir dipicu hujan yang turun sejak pukul 7.30 Wita.

Sekitar pukul 10.00, BPBD dan relawan bersiaga. Tiba-tiba turun air dari gunung yang membuat sungai meluap.

“Ini banjir terparah di Desa Semayap,” ujarnya. Dia menyalahkan tingginya curah hujan.

“Bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, tetap berhati-hati,” tambahnya.

Aktivis mahasiswa Kotabaru, Wahid Hasyim mengingatkan pemkab untuk tidak sibuk menyalahkan alam. Sebab, ini bencana yang kesekian. Dan selama ini pemkab hanya fokus pada evakuasi korban.

Baca Juga :  Cuaca Diprediksi Masih Hujan, Masyarakat Diminta Tetap Waspadai Banjir

Apalagi, soal curah hujan ini sudah rutin diperingatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Kalau saya amati, pemerintah lag-lagi tidak siap. Tergagap menghadapi banjir. Pemerintah harus mengakui kelalaiannya. Karena imbasnya masyarakat yang menanggung,” ujarnya kecewa.

“Kalau memang tidak sanggup mengatasinya, pejabat publik sebaiknya mundur dengan ikhlas,” tegas Wahid. (jum/gr/fud)

KOTABARU – Diguyur hujan deras, Kabupaten Kotabaru kebanjiran. Parah sekali, jalan-jalan di pusat kota pun terendam. Sementara listrik padam selama empat jam.

Pantauan Radar Banjarmasin kemarin (28/7), banyak sepeda motor yang mogok. Tergeletak begitu saja di pinggir jalan GOR Kotabaru.

Di SDN 2 Semayap di Jalan Hasan Basri, banyak orang tua siswa yang cemas. Menunggu anaknya dievakuasi.

Sebab, luapan air sudah setinggi dada orang dewasa. TNI, Polri dan relawan pun berjibaku menantang arus.

Ketika air mulai surut, turun sepinggang, baru pelajar bisa dievakuasi dengan perahu karet.

Warga yang membantu evakuasi, Redi menuding, banjir disebabkan drainase yang mampat. Belum lagi bangunan-bangunan yang menutupi pembuangan limpasan air.

Baca Juga :  Ketinggian Air sudah Satu Meter, Jalan Nasional di Angsana ikut Terendam

“Dulu di sini aliran air menuju sungai. Sekarang sudah tidak ada lagi,” ujarnya seraya menunjuk ke arah kolong gedung Mahligai KNPI Kotabaru.

Dikonfirmasi, Plt Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotabaru, Hendra Indrayana mengatakan, banjir dipicu hujan yang turun sejak pukul 7.30 Wita.

Sekitar pukul 10.00, BPBD dan relawan bersiaga. Tiba-tiba turun air dari gunung yang membuat sungai meluap.

“Ini banjir terparah di Desa Semayap,” ujarnya. Dia menyalahkan tingginya curah hujan.

“Bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, tetap berhati-hati,” tambahnya.

Aktivis mahasiswa Kotabaru, Wahid Hasyim mengingatkan pemkab untuk tidak sibuk menyalahkan alam. Sebab, ini bencana yang kesekian. Dan selama ini pemkab hanya fokus pada evakuasi korban.

Baca Juga :  Rob Jadi Momok Banjarmasin, Wali Kota: Ini Dampak Perubahan Iklim

Apalagi, soal curah hujan ini sudah rutin diperingatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Kalau saya amati, pemerintah lag-lagi tidak siap. Tergagap menghadapi banjir. Pemerintah harus mengakui kelalaiannya. Karena imbasnya masyarakat yang menanggung,” ujarnya kecewa.

“Kalau memang tidak sanggup mengatasinya, pejabat publik sebaiknya mundur dengan ikhlas,” tegas Wahid. (jum/gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/