alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 14 August 2022

Saksi Sampaikan Lahan Plasma Tidak Dirawat

MARABAHAN – Dua saksi lagi dihadirkan KUD Mekarti Jaya dalam persidangan sengketa perdata antara KUD dengan PT Anugerah Wattiendo (AW) di Pengadilan Negeri Marabahan, Selasa (26/7). Sama seperti saksi sebelumnya, keduanya memberikan keterangan bahwa lahan plasma tidak dirawat.

Sengketa perdata antara KUD Mekarti Jaya dengan PT Anugerah Wattiendo (AW) terus berlanjut. Di kesempatan terakhir pembuktian dari pihak penggugat (KUD) ini, KUD Mekarti Jaya menghadirkan dua saksi dari Desa Dwipasari dan Desa Surya Kanta.

Saksi pertama, Mustaji. Warga Desa Surya Kanta mengatakan hanya mengetahui lahan plasma di Desa Surya Kanta tidak dirawat. Namun, tidak tahu persis perjanjian kerja sama antara kedua belah pihak. “Sekarang jadi seperti hutan (lahan yang jadi sengketa, Red). Tidak terawat,” sebutnya.

Mustaji mengetahuinya karena rumahnya berdekatan dengan lahan perusahaan. Bahkan selalu mencari rumput di sekitar lahan plasma atau pinggiran lahan sawit itu. “Kata orang itu sudah masuk lahan plasma. Kondisinya tidak terawat sama sekali,” ungkapnya.

Mustaji menceritakan bahwa warga telah ikut program transmigrasi untuk tinggal di Desa Surya Kanta sejak 2011. Perusahaan masuk di desanya pada tahun 2015. “Tidak dirawat mulai penanaman,” ujarnya kepada hakim, dan menjawab tidak tahu saat ditanyakan apa alasan tidak dirawat itu.

Baca Juga :  Puluhan Warga Demo, Minta Kades Desa Kolam Kanan Diberhentikan

Hal senada juga disampaikan Wayan Jana. Saksi kedua ini mengaku sebagai petani. Lahannya berada di Desa Dwipasari, dan berbatasan langsung dengan lahan plasma di sana. Menurutnya, lahan miliknya sempat digarap perusahaan. Namun diambil kembali karena tidak ingin masuk program plasma.

Wayan Jana mengatakan tanahnya yang berbatasan langsung dengan lahan plasma berada di Ray 19 dan 20. Saat ditanya kondisi di Ray 19, dikatakannya hanya ada tumbuhan pakis dan kayu galam saja di lahan plasma. Sawit tidak ada. Sedangkan di Ray 20 ada sawit, tapi menguning. ‚ÄúPenanaman sawit setahu saya tahun 2015. Sampai saat ini belum ada sawit di Ray 19,” ujarnya.

Di hadapan hakim, saat ditanya tentang perawatan, Wayan Jana hanya mengetahui pernah dua kali saja. Kapan perawatan itu, sudah tidak ingat. Sedangkan untuk jenis perawatannya adalah tebas layang alias memotong rumput agar lebih rendah. “Dulu lahan plasma ini lahan bagus untuk pertanian,” ujarnya.

Baca Juga :  Akhirnya, Jembatan Tanipah di Batola Bakal Dibangun Ulang

Kuasa Hukum KUD Mekarti Jaya, Ricky Teguh mengatakan pada prinsipnya kedua saksi sudah memberikan keterangan sesuai apa yang didalilkan dalam surat gugatan. Walaupun tidak semuanya disampaikan saksi dengan lancar, secara prinsipnya apa yang disampaikan sudah bagus. “Apa yang disampaikan saksi di persidangan tadi sesuai dengan apa yang didalilkan dalam gugatan kami,” ujarnya.

Pihaknya sudah mendatangkan 5 saksi. Semuanya sudah memberikan keterangan yang bagus. Pihaknya belum membuat persiapan untuk sidang lanjutan pembuktian surat atau saksi dari pihak tergugat. Mereka hanya akan me-review ulang dalil-dalil yang disampaikan tergugat. “Nanti keterangan saksi dari mereka mungkin keterangannya tidak jauh dari jawaban yang telah didalilkan sebelumnya,” pungkasnya.

Kuasa Hukum PT Anugerah Wattiendo, Giyanto mengatakan untuk persidangan selanjutnya akan menyerahkan bukti surat-surat dan beberapa saksi. “Kami nanti akan hadirkan 3-4 orang saksi,” ujarnya, sembari mengatakan belum bisa membocorkan sosok saksi yang akan didatangkan nantinya.

Giyanto yakin saksi maupun surat-surat yang akan disampaikan nanti, akan membantah keterangan saksi-saksi penggugat di persidangan. “Kami akan berikan bantahan terhadap saksi penggugat,” ujarnya.(bar/az/dye)

MARABAHAN – Dua saksi lagi dihadirkan KUD Mekarti Jaya dalam persidangan sengketa perdata antara KUD dengan PT Anugerah Wattiendo (AW) di Pengadilan Negeri Marabahan, Selasa (26/7). Sama seperti saksi sebelumnya, keduanya memberikan keterangan bahwa lahan plasma tidak dirawat.

Sengketa perdata antara KUD Mekarti Jaya dengan PT Anugerah Wattiendo (AW) terus berlanjut. Di kesempatan terakhir pembuktian dari pihak penggugat (KUD) ini, KUD Mekarti Jaya menghadirkan dua saksi dari Desa Dwipasari dan Desa Surya Kanta.

Saksi pertama, Mustaji. Warga Desa Surya Kanta mengatakan hanya mengetahui lahan plasma di Desa Surya Kanta tidak dirawat. Namun, tidak tahu persis perjanjian kerja sama antara kedua belah pihak. “Sekarang jadi seperti hutan (lahan yang jadi sengketa, Red). Tidak terawat,” sebutnya.

Mustaji mengetahuinya karena rumahnya berdekatan dengan lahan perusahaan. Bahkan selalu mencari rumput di sekitar lahan plasma atau pinggiran lahan sawit itu. “Kata orang itu sudah masuk lahan plasma. Kondisinya tidak terawat sama sekali,” ungkapnya.

Mustaji menceritakan bahwa warga telah ikut program transmigrasi untuk tinggal di Desa Surya Kanta sejak 2011. Perusahaan masuk di desanya pada tahun 2015. “Tidak dirawat mulai penanaman,” ujarnya kepada hakim, dan menjawab tidak tahu saat ditanyakan apa alasan tidak dirawat itu.

Baca Juga :  Pulau Gatah di Batola Pernah Angker

Hal senada juga disampaikan Wayan Jana. Saksi kedua ini mengaku sebagai petani. Lahannya berada di Desa Dwipasari, dan berbatasan langsung dengan lahan plasma di sana. Menurutnya, lahan miliknya sempat digarap perusahaan. Namun diambil kembali karena tidak ingin masuk program plasma.

Wayan Jana mengatakan tanahnya yang berbatasan langsung dengan lahan plasma berada di Ray 19 dan 20. Saat ditanya kondisi di Ray 19, dikatakannya hanya ada tumbuhan pakis dan kayu galam saja di lahan plasma. Sawit tidak ada. Sedangkan di Ray 20 ada sawit, tapi menguning. ‚ÄúPenanaman sawit setahu saya tahun 2015. Sampai saat ini belum ada sawit di Ray 19,” ujarnya.

Di hadapan hakim, saat ditanya tentang perawatan, Wayan Jana hanya mengetahui pernah dua kali saja. Kapan perawatan itu, sudah tidak ingat. Sedangkan untuk jenis perawatannya adalah tebas layang alias memotong rumput agar lebih rendah. “Dulu lahan plasma ini lahan bagus untuk pertanian,” ujarnya.

Baca Juga :  Gugatan Perdata Kebun Sawit di Batola, Masih Berkutat Pada Pemeriksaan Saksi

Kuasa Hukum KUD Mekarti Jaya, Ricky Teguh mengatakan pada prinsipnya kedua saksi sudah memberikan keterangan sesuai apa yang didalilkan dalam surat gugatan. Walaupun tidak semuanya disampaikan saksi dengan lancar, secara prinsipnya apa yang disampaikan sudah bagus. “Apa yang disampaikan saksi di persidangan tadi sesuai dengan apa yang didalilkan dalam gugatan kami,” ujarnya.

Pihaknya sudah mendatangkan 5 saksi. Semuanya sudah memberikan keterangan yang bagus. Pihaknya belum membuat persiapan untuk sidang lanjutan pembuktian surat atau saksi dari pihak tergugat. Mereka hanya akan me-review ulang dalil-dalil yang disampaikan tergugat. “Nanti keterangan saksi dari mereka mungkin keterangannya tidak jauh dari jawaban yang telah didalilkan sebelumnya,” pungkasnya.

Kuasa Hukum PT Anugerah Wattiendo, Giyanto mengatakan untuk persidangan selanjutnya akan menyerahkan bukti surat-surat dan beberapa saksi. “Kami nanti akan hadirkan 3-4 orang saksi,” ujarnya, sembari mengatakan belum bisa membocorkan sosok saksi yang akan didatangkan nantinya.

Giyanto yakin saksi maupun surat-surat yang akan disampaikan nanti, akan membantah keterangan saksi-saksi penggugat di persidangan. “Kami akan berikan bantahan terhadap saksi penggugat,” ujarnya.(bar/az/dye)

Most Read

Artikel Terbaru

/