alexametrics
23.4 C
Banjarmasin
Tuesday, 16 August 2022

Aruh Mesiwah Pare Gumboh di Halong Balangan Kembali Digelar

PARINGIN – Dua tahun tak dibuka untuk umum karena pandemi covid, tahun ini, Mesiwah Pare Gumboh kembali bisa disaksikan wisatawan.

Ini ritual syukuran hasil panen oleh Suku Dayak Deah di Kecamatan Halong Kabupaten Balangan.

Pesta panen ini akan digelar selama tiga hari berturut-turut, dimulai hari ini (23/7).

Aruh ini diselenggarakan secara kolektif oleh Desa Liyu dan Desa Gunung Riyut. Penduduk kedua desa ini merupakan sub etnis Dayak Meratus.

“Sejak 2019, kami persilakan warga luar untuk menonton. Ini cita-cita masyarakat, menjadi desa wisata budaya. Tujuannya untuk mendongkrak ekonomi desa,” kata tokoh pemuda Desa Liyu, Megi.

Mesiwah Pare Gumboh juga penting untuk pelestarian dan pewarisan budaya kepada generasi berikutnya.

Baca Juga :  Satpol-PP Balangan Tertibkan Reklame di Pohon dan Tiang Listrik

“Kami, suku Dayak Deah menyebutnya kayu ne barerumba pukat, bako ne barerumba joyak,” ungkapnya. Artinya, mencapai tujuan akan lebih mudah dengan kebersamaan.

Khusus tahun ini, disisipkan kampanye hijau. Lewat penanaman pohon di sekitar desa.

Tentu, ritual adat yang khas seperti nyerah ngemonta, tombai, nengkuat mulukgn, besoyokng dan mengudang tetap akan dihadirkan.

Terpisah, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Balangan, Akhriani memberikan dukungan pada Mesiwah Pare Gumboh. Sebagai bagian dari kekayaan pariwisata, budaya dan alam di Kalsel. (why/gr/fud)

PARINGIN – Dua tahun tak dibuka untuk umum karena pandemi covid, tahun ini, Mesiwah Pare Gumboh kembali bisa disaksikan wisatawan.

Ini ritual syukuran hasil panen oleh Suku Dayak Deah di Kecamatan Halong Kabupaten Balangan.

Pesta panen ini akan digelar selama tiga hari berturut-turut, dimulai hari ini (23/7).

Aruh ini diselenggarakan secara kolektif oleh Desa Liyu dan Desa Gunung Riyut. Penduduk kedua desa ini merupakan sub etnis Dayak Meratus.

“Sejak 2019, kami persilakan warga luar untuk menonton. Ini cita-cita masyarakat, menjadi desa wisata budaya. Tujuannya untuk mendongkrak ekonomi desa,” kata tokoh pemuda Desa Liyu, Megi.

Mesiwah Pare Gumboh juga penting untuk pelestarian dan pewarisan budaya kepada generasi berikutnya.

Baca Juga :  Tahura Sultan Adam Ditarget Dapat Rp3 Miliar

“Kami, suku Dayak Deah menyebutnya kayu ne barerumba pukat, bako ne barerumba joyak,” ungkapnya. Artinya, mencapai tujuan akan lebih mudah dengan kebersamaan.

Khusus tahun ini, disisipkan kampanye hijau. Lewat penanaman pohon di sekitar desa.

Tentu, ritual adat yang khas seperti nyerah ngemonta, tombai, nengkuat mulukgn, besoyokng dan mengudang tetap akan dihadirkan.

Terpisah, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Balangan, Akhriani memberikan dukungan pada Mesiwah Pare Gumboh. Sebagai bagian dari kekayaan pariwisata, budaya dan alam di Kalsel. (why/gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/