alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Saturday, 13 August 2022

Begini Cara Polisi Mencari Pengunggah Pertama Video Hoaks Sandal Rhoma

BANJARMASIN – Pelaporan video hoaks sandal Rhoma Irama ke polisi menjadi pelajaran bagi pengguna medsos. Pertanyaannya, apakah mungkin melacaknya?

Mengingat parodi itu terlanjur viral. Sudah menyebar ke sana kemari. Tak jelas siapa yang pertama kali mengunggah.

Meski ruwet, bukan tak mungkin bagi polisi untuk mengungkap kasus ini. Pengamat teknologi informasi dari Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban), Arifin Noor Asyikin, bahkan mengatakan sangat mudah. Sebab peralatan polisi siber kian canggih.

Cara tergampang adalah lewat pelacakan IP address si pengunggah. Pada dasarnya, setiap perangkat yang terhubung dengan internet meninggalkan jejak. Lebih spesifik lagi, setiap perangkat memiliki mac address.

“Ketika perangkat terhubung ke internet, bisa dilihat dari log server. Bahkan kita sampai bisa melihat merek smartphone atau PC yang terhubung dengan jaringan,” jelasnya kemarin (20/7).

Baca Juga :  Warga Nantikan Permintaan Maaf Pembuat Video Hoaks

Lalu, untuk memastikan kebenaran sebuah konten, bisa mengecek metadata. Metadata menyimpan kumpulan informasi detail dari foto atau video yang diambil.

“Misalkan informasi tanggal, lokasi, ukuran, resolusi, format hingga model kamera yang digunakan tersaji secara detail,” paparnya.

Dari situ, keaslian akan terungkap. “Bagi polisi, ini sangat lah mudah,” tukasnya.

Soal mencari siapa dalang awal, dia juga yakin bakal cepat terungkap. “Mereka punya alat canggih yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya. Kepolisian punya metode dan algoritma untuk melacaknya,” tambahnya.

Terlepas dari kasus ini, Arifin meminta masyarakat bijak dalam bermain medsos. Jejak di dunia digital itu nyata, baik yang ditinggalkan secara sengaja atau tak sengaja.

Bukan hanya di medsos, tapi juga pada surel dan situs web. Setiap hari kita terus meninggalkan remah-remah data di sana. “Dan kita tidak mungkin menghapus jejak digital itu setelah tersebar,” tegasnya.

Baca Juga :  Sopir Paruh Baya Curi Handphone dan Voucher Pulsa

Tombol delete (hapus) juga sebenarnya ilusi. Meski sudah dihapus, orang lain masih bisa melihat. Apalagi jika sempat ada yang mengambil tangkapan layar. “Apalagi kalau sudah viral, sangat susah dihapus,” tandasnya.

Diwartakan sebelumnya, pengurus Masjid Raya Sabilal Muhtadin melapor ke Polda Kalsel pada Selasa (19/7) siang.

Menggunakan pasal KUHP untuk pencemaran nama baik dan UU ITE untuk penyebaran berita bohong, mereka meminta pembuat hoaks ditindak.

Hoaks yang dimaksud adalah video yang berisi pengumuman terkait hilangnya sandal Rhoma Irama. Saat sang Raja Dangdut menjadi khatib Jumat di masjid terbesar di Kalsel tersebut, pekan lalu (15/7). (mof/gr/fud)

BANJARMASIN – Pelaporan video hoaks sandal Rhoma Irama ke polisi menjadi pelajaran bagi pengguna medsos. Pertanyaannya, apakah mungkin melacaknya?

Mengingat parodi itu terlanjur viral. Sudah menyebar ke sana kemari. Tak jelas siapa yang pertama kali mengunggah.

Meski ruwet, bukan tak mungkin bagi polisi untuk mengungkap kasus ini. Pengamat teknologi informasi dari Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban), Arifin Noor Asyikin, bahkan mengatakan sangat mudah. Sebab peralatan polisi siber kian canggih.

Cara tergampang adalah lewat pelacakan IP address si pengunggah. Pada dasarnya, setiap perangkat yang terhubung dengan internet meninggalkan jejak. Lebih spesifik lagi, setiap perangkat memiliki mac address.

“Ketika perangkat terhubung ke internet, bisa dilihat dari log server. Bahkan kita sampai bisa melihat merek smartphone atau PC yang terhubung dengan jaringan,” jelasnya kemarin (20/7).

Baca Juga :  Bikin Haru, Korban Maafkan Ibu yang Mencuri Sambil Gendong Anak

Lalu, untuk memastikan kebenaran sebuah konten, bisa mengecek metadata. Metadata menyimpan kumpulan informasi detail dari foto atau video yang diambil.

“Misalkan informasi tanggal, lokasi, ukuran, resolusi, format hingga model kamera yang digunakan tersaji secara detail,” paparnya.

Dari situ, keaslian akan terungkap. “Bagi polisi, ini sangat lah mudah,” tukasnya.

Soal mencari siapa dalang awal, dia juga yakin bakal cepat terungkap. “Mereka punya alat canggih yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya. Kepolisian punya metode dan algoritma untuk melacaknya,” tambahnya.

Terlepas dari kasus ini, Arifin meminta masyarakat bijak dalam bermain medsos. Jejak di dunia digital itu nyata, baik yang ditinggalkan secara sengaja atau tak sengaja.

Bukan hanya di medsos, tapi juga pada surel dan situs web. Setiap hari kita terus meninggalkan remah-remah data di sana. “Dan kita tidak mungkin menghapus jejak digital itu setelah tersebar,” tegasnya.

Baca Juga :  Pencuri Motor Ceburkan Diri Ke Sungai

Tombol delete (hapus) juga sebenarnya ilusi. Meski sudah dihapus, orang lain masih bisa melihat. Apalagi jika sempat ada yang mengambil tangkapan layar. “Apalagi kalau sudah viral, sangat susah dihapus,” tandasnya.

Diwartakan sebelumnya, pengurus Masjid Raya Sabilal Muhtadin melapor ke Polda Kalsel pada Selasa (19/7) siang.

Menggunakan pasal KUHP untuk pencemaran nama baik dan UU ITE untuk penyebaran berita bohong, mereka meminta pembuat hoaks ditindak.

Hoaks yang dimaksud adalah video yang berisi pengumuman terkait hilangnya sandal Rhoma Irama. Saat sang Raja Dangdut menjadi khatib Jumat di masjid terbesar di Kalsel tersebut, pekan lalu (15/7). (mof/gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/