alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 9 August 2022

BEJAT..!! Karena Mirip Wajah Istri Alasan AS Menyetubuhi Putri Kandungnya

BANJARMASIN – Hampir sebulan penyidik Satreskrim Polresta Banjarmasin menangani kasus persetubuhan anak kandung. Kabar terbaru, polisi sudah mengungkap motif kasus ini.

“Dari hasil pemeriksaan, pelaku melakukan aksi bejat lantaran sang putri mirip dengan ibunya yang sudah putus hubungan,” ungkap Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin Kompol Thomas Afrian, Selasa (19/7).

Ia menyatakan, kondisi kejiwaan tersangka normal. Dibuktikan dengan pemeriksaan medis. “Memang, jika dipikirkan secara logika, perbuatan tersangka tidak normal. Bisa setega itu berbuat bejat kepada putri sendiri. Terlebih, dengan latar belakang tersangka yang rajian ibadah atau agamais,” ungkapnya.

Kasus ini, tambah dia, masih berproses lebih lanjut. Motif lainnya sedang digali penyidik. “Untuk berkas masih belum dilimpahkan. Kami menunggu keterangan saksi-saksi untuk melengkapi berkas,” imbuhnya.

Baca Juga :  RASAIN..! Begal Pantat di Pelaihari Terancam 9 Tahun Penjara

Kasus ini terungkap setelah setelah ibu korban mendengar cerita dari putrinya, sebut saja Kejora (12), terhadap aksi bejat ayahnya. Ibunya langsung melaporkan ke unit PPA Satreskrim Polresta Banjarmasin, Sabtu (11/6).

Dua pekan diburu, akhirnya AS dibekuk, Kamis (23/6) malam sekitar pukul 23.00 Wita, di kawasan Sungai Andai, di tepi jalan.

Hasil pemeriksaan korban, peristiwa memilukan tersebut terjadi pada akhir Desember 2021 hingga April 2022. Korban, semenjak ayah dan ibunya cerai terkadang tinggal bergantian di rumah orang tuanya itu.

Rupanya, setelah hasrat lama tak tersalurkan,AS kalap mata. Putri sendiri ditiduri saat menginap di rumahnya.

AS sehari-hari bekerja sebagai mekanik. Sebelum disergap, dia usai mengikuti pengajian di salah satu masjid.

Baca Juga :  DPO Cabul Oknum Honorer SMK di Banjarmasin Akhirnya Diringkus

Cara pelaku melancarkan aksinya dengan membujuk mengucapkan kalimat-kalimat rayuan. Korban merasa dirinya dimanja ayahnya. Sehingga dianggap biasa.

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan Pasal 82 ayat (1) junto Pasal 76E UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman penjara, maksimal 15 tahun.(lan)

BANJARMASIN – Hampir sebulan penyidik Satreskrim Polresta Banjarmasin menangani kasus persetubuhan anak kandung. Kabar terbaru, polisi sudah mengungkap motif kasus ini.

“Dari hasil pemeriksaan, pelaku melakukan aksi bejat lantaran sang putri mirip dengan ibunya yang sudah putus hubungan,” ungkap Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin Kompol Thomas Afrian, Selasa (19/7).

Ia menyatakan, kondisi kejiwaan tersangka normal. Dibuktikan dengan pemeriksaan medis. “Memang, jika dipikirkan secara logika, perbuatan tersangka tidak normal. Bisa setega itu berbuat bejat kepada putri sendiri. Terlebih, dengan latar belakang tersangka yang rajian ibadah atau agamais,” ungkapnya.

Kasus ini, tambah dia, masih berproses lebih lanjut. Motif lainnya sedang digali penyidik. “Untuk berkas masih belum dilimpahkan. Kami menunggu keterangan saksi-saksi untuk melengkapi berkas,” imbuhnya.

Baca Juga :  Polisi Dobrak Pintu Komplotan Pemerkosa Ladies Karaoke Batulicin

Kasus ini terungkap setelah setelah ibu korban mendengar cerita dari putrinya, sebut saja Kejora (12), terhadap aksi bejat ayahnya. Ibunya langsung melaporkan ke unit PPA Satreskrim Polresta Banjarmasin, Sabtu (11/6).

Dua pekan diburu, akhirnya AS dibekuk, Kamis (23/6) malam sekitar pukul 23.00 Wita, di kawasan Sungai Andai, di tepi jalan.

Hasil pemeriksaan korban, peristiwa memilukan tersebut terjadi pada akhir Desember 2021 hingga April 2022. Korban, semenjak ayah dan ibunya cerai terkadang tinggal bergantian di rumah orang tuanya itu.

Rupanya, setelah hasrat lama tak tersalurkan,AS kalap mata. Putri sendiri ditiduri saat menginap di rumahnya.

AS sehari-hari bekerja sebagai mekanik. Sebelum disergap, dia usai mengikuti pengajian di salah satu masjid.

Baca Juga :  Persetubuhan Ayah Bejat dan Anak Kandung Selama Tiga Tahun di Tabalong

Cara pelaku melancarkan aksinya dengan membujuk mengucapkan kalimat-kalimat rayuan. Korban merasa dirinya dimanja ayahnya. Sehingga dianggap biasa.

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan Pasal 82 ayat (1) junto Pasal 76E UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman penjara, maksimal 15 tahun.(lan)

Most Read

Artikel Terbaru

/