alexametrics
23.4 C
Banjarmasin
Tuesday, 16 August 2022

Dipancing Pakai Burung, Jangan Tantang Makluk Gaib

Kisah Muhammad Albar Mencari Burung di Hutan Kotabaru dan Tanbu

Belum banyak orang tahu, mencari burung di hutan sangat banyak tantangannya. Sering kali seorang pencari burung bertemu hewan buas, mendengar suara gaib, hingga bertemu langsung makhluk halus.

Jumain, Kotabaru

Saat ditemui, Muhammad Albar (25) sedang membersihkan kurungan burungnya. Warga Desa Mekarpura, Kecamatan Pulau Laut Tengah, Kabupaten Kotabaru itu mau menceritakan berbagai pengalaman menjadi seorang pencari burung di hutan, Selasa (12/7).

Pria yang akrab disapa Ba’bar itu mencari burung tidak hanya menjelajahi pedalaman Kotabaru. Tapi juga beberapa kali memasuki hutan-hutan di Tanah Bumbu. Di Kotabaru biasanya memasuki hutan Selaru, hutan Klatau Desa Mekarpura, dan hutan Tanjung Serdang Desa Salino. Sedangkan

di Tanah Bumbu memasuki hutan Pulau Sewangi, hutan Pulau Tampakan, dan hutan Pulau Burung.
Burung yang menjadi incarannya beragam. Mulai dari burung karuang, kutilang, kacer, cucak hijau, punai, perkutut, dan burung murai. Ba’bar mencari burung bukan hanya karena hobi memelihara. Tapi, juga untuk mengais pundi rupiah untuk memenuhi hidupnya.

Mencari burung bisa dilakukannya di siang hari, bisa juga di malam hari. Masing-masing waktu mempunyai tantangan berbeda.

Bekal yang dibawanya untuk mencari burung siang hari lumayan banyak. Parang, lem tikus atau lem burung, bakul kecil minimal lima buah, sapu lidi, MP3, makanan minuman, dan rokok. Salah satu bakul kecil berisi burung kacer yang nantinya digunakan sebagai pancingan untuk memanggil burung mendekat.

Baca Juga :  Ini Nih, Inovasi Pompa Air Tanpa Listrik dan Bahan Bakar, Kok Bisa?

Sekitar jam 07.00 pagi, biasanya sudah mulai memasuki hutan. Saat sudah berada di tengah hutan, Ba’bar lantas membuat perangkap dari sapu lidi yang dibawanya. Dua bilah lidi dan kayu kecil dioleskan lem burung. Lalu diletakkan burung kacer di sampingnya.

Secara bersamaan juga dibunyikan MP3 dengan nyaring suara burung kacer. Memancing supaya burung kacer di hutan datang untuk menyerang. “Terperangkap, dan saya tangkap dan langsung dimasukkan ke bakul,” jelas Ba’bar.

Begitulah keseharian Ba’bar. Terkadang burung yang berhasil dibawanya pulang hingga 30 ekor. Paling banyak jenis burung kacer. Sisanya yang lain. Jika sedang tidak beruntung, Ba’bar hanya membawa pulang burung lima ekor. Bahkan bisa juga hanya satu. Tapi sangat jarang tidak dapat.

Ba’bar juga menceritakan pengalaman bertemu hewan buas dan pengalaman mistis saat mencari burung di malam hari. Ba’bar berangkat dengan bekal yang sama, ditambah membawa dua senter.

Baca Juga :  Kisah Nanda Bestari KKN di Desa Magalau Hulu Kotabaru

Cara memerangkap burung juga sama. “Beberapa kali saat saya mencari burung pada malam hari di hutan, sering melihat hal-hal yang mengejutkan. Seperti beruang, ular patuk emas, ular sawa, buaya, bahkan ular kobra dengan panjang tiga meter,” ungkapnya.

Selain itu, di tengah hutan sering mendengar suara harimau, suara perempuan menangis, suara anak-anak bermain. Termasuk suara yang menyuruhnya pulang, dan jangan berburu lagi.

“Kalau saya mendengar suara suara gaib tersebut, biasanya saya hanya diam. Dalam hati berkata jangan diganggu saya di sini, cuma mau mencari makan,” ucapnya.

Pernah pula menjelang azan subuh, saat dalam perjalan pulang bertemu makluk gaib perempuan. Pakaiannya kuning, rambutnya putih panjang. Pernah juga sosok laki-laki botak tinggi, tapi kepalanya ada tanduknya.

Pengalaman terakhir dilihatnya kuburan keramat yang sangat besar dan panjang. Namun dua hari kemudian lewat di situ kuburannya sudah tidak ada.

“Alhamdulillah saat melihat sosok yang gaib, saya tidak diapa-apain. Hanya diperlihatkan saja,” jelasnya. “Intinya, kalau sedang di hutan melihat hal-hal aneh itu sangat biasa. Yang paling terpenting jangan ditantang,” pesannya.(az/dye)

Belum banyak orang tahu, mencari burung di hutan sangat banyak tantangannya. Sering kali seorang pencari burung bertemu hewan buas, mendengar suara gaib, hingga bertemu langsung makhluk halus.

Jumain, Kotabaru

Saat ditemui, Muhammad Albar (25) sedang membersihkan kurungan burungnya. Warga Desa Mekarpura, Kecamatan Pulau Laut Tengah, Kabupaten Kotabaru itu mau menceritakan berbagai pengalaman menjadi seorang pencari burung di hutan, Selasa (12/7).

Pria yang akrab disapa Ba’bar itu mencari burung tidak hanya menjelajahi pedalaman Kotabaru. Tapi juga beberapa kali memasuki hutan-hutan di Tanah Bumbu. Di Kotabaru biasanya memasuki hutan Selaru, hutan Klatau Desa Mekarpura, dan hutan Tanjung Serdang Desa Salino. Sedangkan

di Tanah Bumbu memasuki hutan Pulau Sewangi, hutan Pulau Tampakan, dan hutan Pulau Burung.
Burung yang menjadi incarannya beragam. Mulai dari burung karuang, kutilang, kacer, cucak hijau, punai, perkutut, dan burung murai. Ba’bar mencari burung bukan hanya karena hobi memelihara. Tapi, juga untuk mengais pundi rupiah untuk memenuhi hidupnya.

Mencari burung bisa dilakukannya di siang hari, bisa juga di malam hari. Masing-masing waktu mempunyai tantangan berbeda.

Bekal yang dibawanya untuk mencari burung siang hari lumayan banyak. Parang, lem tikus atau lem burung, bakul kecil minimal lima buah, sapu lidi, MP3, makanan minuman, dan rokok. Salah satu bakul kecil berisi burung kacer yang nantinya digunakan sebagai pancingan untuk memanggil burung mendekat.

Baca Juga :  Kisah Nanda Bestari KKN di Desa Magalau Hulu Kotabaru

Sekitar jam 07.00 pagi, biasanya sudah mulai memasuki hutan. Saat sudah berada di tengah hutan, Ba’bar lantas membuat perangkap dari sapu lidi yang dibawanya. Dua bilah lidi dan kayu kecil dioleskan lem burung. Lalu diletakkan burung kacer di sampingnya.

Secara bersamaan juga dibunyikan MP3 dengan nyaring suara burung kacer. Memancing supaya burung kacer di hutan datang untuk menyerang. “Terperangkap, dan saya tangkap dan langsung dimasukkan ke bakul,” jelas Ba’bar.

Begitulah keseharian Ba’bar. Terkadang burung yang berhasil dibawanya pulang hingga 30 ekor. Paling banyak jenis burung kacer. Sisanya yang lain. Jika sedang tidak beruntung, Ba’bar hanya membawa pulang burung lima ekor. Bahkan bisa juga hanya satu. Tapi sangat jarang tidak dapat.

Ba’bar juga menceritakan pengalaman bertemu hewan buas dan pengalaman mistis saat mencari burung di malam hari. Ba’bar berangkat dengan bekal yang sama, ditambah membawa dua senter.

Baca Juga :  Mengenal Sugiannor Pembuat Kapal Penghancur Gulma

Cara memerangkap burung juga sama. “Beberapa kali saat saya mencari burung pada malam hari di hutan, sering melihat hal-hal yang mengejutkan. Seperti beruang, ular patuk emas, ular sawa, buaya, bahkan ular kobra dengan panjang tiga meter,” ungkapnya.

Selain itu, di tengah hutan sering mendengar suara harimau, suara perempuan menangis, suara anak-anak bermain. Termasuk suara yang menyuruhnya pulang, dan jangan berburu lagi.

“Kalau saya mendengar suara suara gaib tersebut, biasanya saya hanya diam. Dalam hati berkata jangan diganggu saya di sini, cuma mau mencari makan,” ucapnya.

Pernah pula menjelang azan subuh, saat dalam perjalan pulang bertemu makluk gaib perempuan. Pakaiannya kuning, rambutnya putih panjang. Pernah juga sosok laki-laki botak tinggi, tapi kepalanya ada tanduknya.

Pengalaman terakhir dilihatnya kuburan keramat yang sangat besar dan panjang. Namun dua hari kemudian lewat di situ kuburannya sudah tidak ada.

“Alhamdulillah saat melihat sosok yang gaib, saya tidak diapa-apain. Hanya diperlihatkan saja,” jelasnya. “Intinya, kalau sedang di hutan melihat hal-hal aneh itu sangat biasa. Yang paling terpenting jangan ditantang,” pesannya.(az/dye)

Most Read

Artikel Terbaru

/