alexametrics
23.4 C
Banjarmasin
Tuesday, 16 August 2022

Terlalu Mencintai Dunia Tari

SENI tari adalah cinta pertama Qoriyatun Ardita. Dia jatuh cinta saat masih SMP. “Saking cintanya, sampai-sampai kuliah memilih jurusan tari,” ungkapnya.

Dita, sapaan akrabnya, kuliah di Prodi Sendratasik FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

Sekarang, dia mengajar di SMKN 1 Marabahan, Kabupaten Barito Kuala. Berstatus guru honorer, mengajar seni dan budaya.

Sembari menjadi asisten pelatih di Sanggar Permata Ije Jela, tempatnya dulu belajar menari. “Di sanggar ini, dari diajari hingga mengajari,” kisahnya. Sesekali, perempuan berkerudung ini mengajar les privat.

Tak terasa, sudah 12 tahun ia berada di Sanggar Permata Ije Jela. Seolah telah menjadi rumah keduanya.

Mundur ke belakang, Dita melacak ketertarikan awalnya. Kala itu, ia terkagum-kagum menonton aksi para penari di pembukaan event Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Dita kemudian bertekad untuk belajar menari.

Cintanya ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Oleh sekolahnya, SMP Darul Hijrah Putri di Kota Banjarbaru, Dita diminta berlatih mengikuti lomba menari.

Baca Juga :  Tidak Lupa Bawa Buku Catatan

“Padahal sempat mau berhenti. Tapi diberikan kesempatan oleh guru untuk mengikuti lomba,” lanjutnya.

Nah, setelah pulang kembali ke rumah orang tua untuk meneruskan pendidikan di SMKN 1 Marabahan, baru ia menemukan jalan untuk bergabung ke sanggar. Berlatih lebih serius.

Jalan menuju event tari, dari skala nasional sampai internasional pun terbuka lebar. “Sering ikut festival di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Hingga ke Kuching, Malaysia,” sebutnya.

Sebenarnya, ada alasan yang lebih pribadi mengapa Dita menyukai tari. Pemalu, Dita kesulitan membuka percakapan dengan orang lain.

Maka saat menari, ia tak perlu berbicara kepada audiens, hanya fokus pada gerakan tubuh dan mimik wajah. “Semua tentang wirasa, wiraga dan wirama,” jelasnya.

Apakah ada pesan kepada pembaca? Dita menegaskan, menari tidak memerlukan bakat. Hanya keuletan untuk belajar. Tentu saja, sebelumnya diperlukan niat dan minat.

“Dulu masuk sanggar bareng teman, tapi dia berhenti di tengah jalan. Cuma niat dan minat yang membuat saya bertahan sampai sekarang,” ujarnya.

Baca Juga :  Menjaga Kebugaran Dengan Senam dan Yoga

Perihal kondisi di Batola, Dita mengaku sedih. Semakin sulit mencari pasangan penari laki-laki dari generasi yang lebih muda. Ini membuat regenerasi menjadi macet.

“Di sekolah minim penari cowok, di sanggar pun demikian,” ujarnya. Ini perkara pola pikir. Tarian dianggap tidak maskulin. Di kalangan pria, menjadi penari dicap tidak keren.

Padahal, menurutnya ada perbedaan yang sangat kentara. Gerakan tarian perempuan memang lembut, tapi gerakan tarian lelaki lebih tegas. “Untuk laki-laki, ada ciri gerakan tersendiri. Gagahnya lelaki saat menari, berbeda dengan perempuan,” tegasnya.

Di sanggar, Dita mengajar di dua kelas. Kelas A untuk kategori anak berumur 8-12 tahun dan kelas B untuk kategori remaja berumur 12 tahun sampai pemuda 25 tahun.

Setidaknya, Dita bersyukur, masih bisa menyiapkan calon-calon penari berikutnya. “Selain anak-anak yang bersemangat, orang tuanya juga sangat antusias,” tutupnya. Ini membesarkan hati Dita. (bar/gr/fud)

SENI tari adalah cinta pertama Qoriyatun Ardita. Dia jatuh cinta saat masih SMP. “Saking cintanya, sampai-sampai kuliah memilih jurusan tari,” ungkapnya.

Dita, sapaan akrabnya, kuliah di Prodi Sendratasik FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

Sekarang, dia mengajar di SMKN 1 Marabahan, Kabupaten Barito Kuala. Berstatus guru honorer, mengajar seni dan budaya.

Sembari menjadi asisten pelatih di Sanggar Permata Ije Jela, tempatnya dulu belajar menari. “Di sanggar ini, dari diajari hingga mengajari,” kisahnya. Sesekali, perempuan berkerudung ini mengajar les privat.

Tak terasa, sudah 12 tahun ia berada di Sanggar Permata Ije Jela. Seolah telah menjadi rumah keduanya.

Mundur ke belakang, Dita melacak ketertarikan awalnya. Kala itu, ia terkagum-kagum menonton aksi para penari di pembukaan event Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Dita kemudian bertekad untuk belajar menari.

Cintanya ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Oleh sekolahnya, SMP Darul Hijrah Putri di Kota Banjarbaru, Dita diminta berlatih mengikuti lomba menari.

Baca Juga :  Bangga Jadi Cucu Perancang Kota Banjarbaru

“Padahal sempat mau berhenti. Tapi diberikan kesempatan oleh guru untuk mengikuti lomba,” lanjutnya.

Nah, setelah pulang kembali ke rumah orang tua untuk meneruskan pendidikan di SMKN 1 Marabahan, baru ia menemukan jalan untuk bergabung ke sanggar. Berlatih lebih serius.

Jalan menuju event tari, dari skala nasional sampai internasional pun terbuka lebar. “Sering ikut festival di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Hingga ke Kuching, Malaysia,” sebutnya.

Sebenarnya, ada alasan yang lebih pribadi mengapa Dita menyukai tari. Pemalu, Dita kesulitan membuka percakapan dengan orang lain.

Maka saat menari, ia tak perlu berbicara kepada audiens, hanya fokus pada gerakan tubuh dan mimik wajah. “Semua tentang wirasa, wiraga dan wirama,” jelasnya.

Apakah ada pesan kepada pembaca? Dita menegaskan, menari tidak memerlukan bakat. Hanya keuletan untuk belajar. Tentu saja, sebelumnya diperlukan niat dan minat.

“Dulu masuk sanggar bareng teman, tapi dia berhenti di tengah jalan. Cuma niat dan minat yang membuat saya bertahan sampai sekarang,” ujarnya.

Baca Juga :  Berani Speak Up Biar Tidak Gondok di Hati

Perihal kondisi di Batola, Dita mengaku sedih. Semakin sulit mencari pasangan penari laki-laki dari generasi yang lebih muda. Ini membuat regenerasi menjadi macet.

“Di sekolah minim penari cowok, di sanggar pun demikian,” ujarnya. Ini perkara pola pikir. Tarian dianggap tidak maskulin. Di kalangan pria, menjadi penari dicap tidak keren.

Padahal, menurutnya ada perbedaan yang sangat kentara. Gerakan tarian perempuan memang lembut, tapi gerakan tarian lelaki lebih tegas. “Untuk laki-laki, ada ciri gerakan tersendiri. Gagahnya lelaki saat menari, berbeda dengan perempuan,” tegasnya.

Di sanggar, Dita mengajar di dua kelas. Kelas A untuk kategori anak berumur 8-12 tahun dan kelas B untuk kategori remaja berumur 12 tahun sampai pemuda 25 tahun.

Setidaknya, Dita bersyukur, masih bisa menyiapkan calon-calon penari berikutnya. “Selain anak-anak yang bersemangat, orang tuanya juga sangat antusias,” tutupnya. Ini membesarkan hati Dita. (bar/gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

Jatuh Bangun Bersama Nelly

Terbantu Pengalaman Berorganisasi

Putri Tak Takut Sendiri

Tertantang Memimpin

Terinspirasi Nama Nenek

/