alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Saturday, 20 August 2022

Masuk Hari Terkahir, SMP Pinggiran Masih Minim Pendaftar

BANJARMASIN – Hingga hari terakhir pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), SMP Negeri 22 Banjarmasin termasuk minim pendaftar.

Sekolah di Jalan Simpang Layang RT 7 No 28 Kelurahan Sungai Lulut ini, sebenarnya menyiapkan kuota 128 orang. Namun, hingga penutupan Rabu (29/6) pukul 16.00 Wita, total yang mendaftar hanya 52 orang.

“Sekitar 40 persen. Jalur zonasi 39 orang, afirmasi 5 orang, dan offline 8 orang. Untuk jalur offline, sekolah di perbatasan memang diperbolehkan,” kata Kepala SMPN 22 Banjarmasin, Fahrianoor.

SMP ini padahal menyiapkan jatah dua kali lipat jumlah peserta dari tahun sebelumnya. “Dulu dua kelas, sekarang empat. Kita tinggal menunggu lepasan pendaftar SMP 7 dan SMP 30,” keluhnya.

Minimnya orang tua yang mendaftarkan anaknya ke sekolah ini, menjadi problem. Para ortu lebih memilih SMP di tengah kota atau ke kabupaten tetangga (Banjar) yang berdekatan.

Baca Juga :  Status Guru Penggerak Tidak Permanen, Sudah 3 Orang Jadi Kepsek

Lokasinya memang cukup berdekatan dengan SMPN 22 Banjarmasin. Selain itu karakter masyarakatnya yang agamis, para orang tua juga banyak memilih menyekolahkan anak ke MTSN atau pondok pesantren. “Tersedot ke sana, sehingga berpotensi mengurangi pendaftar ke SMP 22,” ujarnya.

Lain lagi dengan SMP Negeri 16. Meski lokasinya berada di pelosok, ternyata peminatnya cukup lumayan, meski tak memenuhi target. Sekolah ini saat PPDB membukukan 130 orang dari target 160 orang. “Begitulah kenyataannya,” kata Toni Maxitop, sang kepala sekolah.

Ia punya alasan. Melihat siswa yang lulus tahun ini sebanyak 80 orang dan jumlah pendaftar mencapai 130 orang itu, sudah peningkatan yang luar biasa.

Baca Juga :  950 Ribu Perbulan untuk Mahasiswa Miskin, ULM Tegaskan Akan Verifikasi Ketat

Sejak ditugaskan, Toni memang diminta untuk meningkatkan sekolah tersebut. “Sejak awal saya ditugaskan untuk memperbaiki,” ucapnya.

Lantas, bagaimana dia mampu meningkatkan minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak di sekolah itu? Toni mengatakan, sebagai salah satu dari dua sekolah penggerak di Banjarmasin, mereka menjalankan berbagai program pendidikan yang tidak kalah dengan sekolah unggulan lain.

“Promosi melalui medsos gencar. Tentang program pembelajaran pendidikan yang sudah digitalisasi semua . Itu yang dikenalkan kepada orang tua. Sehingga mereka berminat, ” tuturnya.

Sedangkan Kepala SMP Negeri 30, Faisal Rachman merasa lega. Dari kuota 192 yang ditargetkan sudah terisi semua. Terdiri 153 jalur zonasi, afirmasi 29 orang, sisanya perpindahan orang tua. “Alhamdulillah, enam ruangan yang disiapkan sudah terisi semua,” ujarnya. (gmp)

BANJARMASIN – Hingga hari terakhir pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), SMP Negeri 22 Banjarmasin termasuk minim pendaftar.

Sekolah di Jalan Simpang Layang RT 7 No 28 Kelurahan Sungai Lulut ini, sebenarnya menyiapkan kuota 128 orang. Namun, hingga penutupan Rabu (29/6) pukul 16.00 Wita, total yang mendaftar hanya 52 orang.

“Sekitar 40 persen. Jalur zonasi 39 orang, afirmasi 5 orang, dan offline 8 orang. Untuk jalur offline, sekolah di perbatasan memang diperbolehkan,” kata Kepala SMPN 22 Banjarmasin, Fahrianoor.

SMP ini padahal menyiapkan jatah dua kali lipat jumlah peserta dari tahun sebelumnya. “Dulu dua kelas, sekarang empat. Kita tinggal menunggu lepasan pendaftar SMP 7 dan SMP 30,” keluhnya.

Minimnya orang tua yang mendaftarkan anaknya ke sekolah ini, menjadi problem. Para ortu lebih memilih SMP di tengah kota atau ke kabupaten tetangga (Banjar) yang berdekatan.

Baca Juga :  PTM Bisa Dihentikan Kalau Kasus Naik, Sekolah Diminta Disiplin Prokes

Lokasinya memang cukup berdekatan dengan SMPN 22 Banjarmasin. Selain itu karakter masyarakatnya yang agamis, para orang tua juga banyak memilih menyekolahkan anak ke MTSN atau pondok pesantren. “Tersedot ke sana, sehingga berpotensi mengurangi pendaftar ke SMP 22,” ujarnya.

Lain lagi dengan SMP Negeri 16. Meski lokasinya berada di pelosok, ternyata peminatnya cukup lumayan, meski tak memenuhi target. Sekolah ini saat PPDB membukukan 130 orang dari target 160 orang. “Begitulah kenyataannya,” kata Toni Maxitop, sang kepala sekolah.

Ia punya alasan. Melihat siswa yang lulus tahun ini sebanyak 80 orang dan jumlah pendaftar mencapai 130 orang itu, sudah peningkatan yang luar biasa.

Baca Juga :  Berhasil Tahun Lalu, Kini Disdik Banjarmasin Tambah Lagi 21 Sekolah Penggerak

Sejak ditugaskan, Toni memang diminta untuk meningkatkan sekolah tersebut. “Sejak awal saya ditugaskan untuk memperbaiki,” ucapnya.

Lantas, bagaimana dia mampu meningkatkan minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak di sekolah itu? Toni mengatakan, sebagai salah satu dari dua sekolah penggerak di Banjarmasin, mereka menjalankan berbagai program pendidikan yang tidak kalah dengan sekolah unggulan lain.

“Promosi melalui medsos gencar. Tentang program pembelajaran pendidikan yang sudah digitalisasi semua . Itu yang dikenalkan kepada orang tua. Sehingga mereka berminat, ” tuturnya.

Sedangkan Kepala SMP Negeri 30, Faisal Rachman merasa lega. Dari kuota 192 yang ditargetkan sudah terisi semua. Terdiri 153 jalur zonasi, afirmasi 29 orang, sisanya perpindahan orang tua. “Alhamdulillah, enam ruangan yang disiapkan sudah terisi semua,” ujarnya. (gmp)

Most Read

Artikel Terbaru

/