alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Thursday, 18 August 2022

Pencarian Korban Kapal LCT Anugerah Indasah Diadang Cuaca Buruk

PELAIHARI – Pencarian lima kru Kapal LCT Anugerah Indasah yang tenggelam di Perairan Tanjung Selatan Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut memasuki hari keenam.

Tim SAR gabungan kesulitan menyisir karena diadang cuaca buruk. Mereka harus menghadapi hujan deras, angin kencang dan ombak tinggi.

Praktis, tim hanya bisa menyisir di sekitar lokasi kejadian. Mengandalkan armada KN.407 dan perahu karet milik Basarnas dan Ditpolairud Polda Kalsel.

Pencarian juga tak bisa berlama-lama. Dimulai pagi-pagi sekali, sudah terhenti menjelang jam 12 siang saat cuaca kian memburuk.

Kendala ini diakui Kasat Polairud Polres Tala, Iptu Khairin Aplani. “Penyelam tidak bisa diturunkan karena arusnya deras dan ombaknya besar sekali,” ujarnya kemarin (29/6).

Hanya di pesisir pantai yang cuacanya mendingan. “Tapi untuk menyelam ke bawah kapal tidak bisa,” tambahnya.

Kapal jenis landing craft tank itu ditemukan terbalik. Sekitar lima mil dari daratan.

Dari 11 kru, lima orang diselamatkan Kapal MT Ferry XII yang kebetulan sedang melintas di lokasi tenggelam. Ketika sedang menempuh perjalanan menuju PT Indonesia Bulk Terminal di Kotabaru.

Baca Juga :  Mengapung 15 Mil dari Pantai Batakan

Sayang, penyisiran berpuluh-puluh mil ini masih nihil. “Masih belum ada yang ditemukan,” tutup Khairin.

Kapal dengan muatan alat berat ini tenggelam pada Kamis (23/6) sekitar pukul 20.00 Wita di Perairan Sanipah.

Kantor Basarnas Banjarmasin mendapat informasi tenggelam itu pada Jumat (24/6) sekitar pukul 11.50 Wita. Dua tim langsung diterjunkan ke lokasi.

Pada hari kedua pencarian, Sabtu (25/6) pukul 09.00 Wita, berhasil ditemukan bangkai kapal dalam kondisi terbalik dan mengapung.

Minggu (26/6), SRU 1 dengan perahu karet melanjutkan pencarian sejauh 10 NM dari Pantai Sanipah. Sementara SRU 2 dengan KN.407 menyisir sejauh 35 NM di sekitar titik tenggelam.

Hingga pukul 12.50 Wita, ditemukan jasad pria. Dievakuasi ke Rumah Sakit Hadji Boejasin di Pelaihari. Jenazah kemudian diidentifikasi sebagai Tigor Hutabarat yang bertugas sebagai masinis kapal.

Pencarian berlanjut. Senin (27/6) sampai kemarin, hasilnya nihil. Lantaran cuaca buruk yang mengadang tim SAR gabungan.

Waspada Gelombang Tinggi

Cuaca di laut Kalsel perlu diwaspadai. Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor mengabarkan, gelombang tinggi berpotensi terjadi hingga 1 Juli nanti.

Baca Juga :  4 Korban Selamat Tenggelamnya KM Ladang Pertiwi Dievakuasi ke Kotabaru

Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Fitma Surya Arghani mengatakan, gelombang tinggi hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di perairan Kotabaru dan selatan Kalimantan (Laut Jawa).

“Ini harus diwaspadai oleh perahu nelayan, kapal tongkang dan ferry,” ujarnya kemarin di Banjarbaru.

Selain gelombang tinggi, di perairan Kotabaru juga berpotensi terjadi pasang laut maksimum mencapai 2,4 meter hingga 2,8 meter pada 1-5 Juli.

“Pasang diperkirakan terjadi jam 5 subuh sampai jam 9 pagi,” sebutnya. Kawasan pesisir seperti Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu dan Tanah Laut juga harus mewaspadai potensi hujan sedang disertai petir dan angin kencang pada 1 Juli.

“Kami mengimbau masyarakat mewaspadai potensi cuaca buruk ini,” pinta Fitma. Soal penyebab, cuaca buruk akhir-akhir ini dipengaruhi adanya gelombang low frequency dan labilitas lokal yang masih kuat di wilayah Kalsel.

Fenomena itu ditambah dengan suhu permukaan air laut yang masih tinggi, menambah suplai uap air ke daratan.

“Berpotensi menyebabkan pertumbuhan awan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang,” pungkasnya. (sal/ris/gr/fud)

PELAIHARI – Pencarian lima kru Kapal LCT Anugerah Indasah yang tenggelam di Perairan Tanjung Selatan Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut memasuki hari keenam.

Tim SAR gabungan kesulitan menyisir karena diadang cuaca buruk. Mereka harus menghadapi hujan deras, angin kencang dan ombak tinggi.

Praktis, tim hanya bisa menyisir di sekitar lokasi kejadian. Mengandalkan armada KN.407 dan perahu karet milik Basarnas dan Ditpolairud Polda Kalsel.

Pencarian juga tak bisa berlama-lama. Dimulai pagi-pagi sekali, sudah terhenti menjelang jam 12 siang saat cuaca kian memburuk.

Kendala ini diakui Kasat Polairud Polres Tala, Iptu Khairin Aplani. “Penyelam tidak bisa diturunkan karena arusnya deras dan ombaknya besar sekali,” ujarnya kemarin (29/6).

Hanya di pesisir pantai yang cuacanya mendingan. “Tapi untuk menyelam ke bawah kapal tidak bisa,” tambahnya.

Kapal jenis landing craft tank itu ditemukan terbalik. Sekitar lima mil dari daratan.

Dari 11 kru, lima orang diselamatkan Kapal MT Ferry XII yang kebetulan sedang melintas di lokasi tenggelam. Ketika sedang menempuh perjalanan menuju PT Indonesia Bulk Terminal di Kotabaru.

Baca Juga :  Mengapung 15 Mil dari Pantai Batakan

Sayang, penyisiran berpuluh-puluh mil ini masih nihil. “Masih belum ada yang ditemukan,” tutup Khairin.

Kapal dengan muatan alat berat ini tenggelam pada Kamis (23/6) sekitar pukul 20.00 Wita di Perairan Sanipah.

Kantor Basarnas Banjarmasin mendapat informasi tenggelam itu pada Jumat (24/6) sekitar pukul 11.50 Wita. Dua tim langsung diterjunkan ke lokasi.

Pada hari kedua pencarian, Sabtu (25/6) pukul 09.00 Wita, berhasil ditemukan bangkai kapal dalam kondisi terbalik dan mengapung.

Minggu (26/6), SRU 1 dengan perahu karet melanjutkan pencarian sejauh 10 NM dari Pantai Sanipah. Sementara SRU 2 dengan KN.407 menyisir sejauh 35 NM di sekitar titik tenggelam.

Hingga pukul 12.50 Wita, ditemukan jasad pria. Dievakuasi ke Rumah Sakit Hadji Boejasin di Pelaihari. Jenazah kemudian diidentifikasi sebagai Tigor Hutabarat yang bertugas sebagai masinis kapal.

Pencarian berlanjut. Senin (27/6) sampai kemarin, hasilnya nihil. Lantaran cuaca buruk yang mengadang tim SAR gabungan.

Waspada Gelombang Tinggi

Cuaca di laut Kalsel perlu diwaspadai. Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor mengabarkan, gelombang tinggi berpotensi terjadi hingga 1 Juli nanti.

Baca Juga :  Jasad Itu Ternyata Masinis Kapal

Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Fitma Surya Arghani mengatakan, gelombang tinggi hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di perairan Kotabaru dan selatan Kalimantan (Laut Jawa).

“Ini harus diwaspadai oleh perahu nelayan, kapal tongkang dan ferry,” ujarnya kemarin di Banjarbaru.

Selain gelombang tinggi, di perairan Kotabaru juga berpotensi terjadi pasang laut maksimum mencapai 2,4 meter hingga 2,8 meter pada 1-5 Juli.

“Pasang diperkirakan terjadi jam 5 subuh sampai jam 9 pagi,” sebutnya. Kawasan pesisir seperti Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu dan Tanah Laut juga harus mewaspadai potensi hujan sedang disertai petir dan angin kencang pada 1 Juli.

“Kami mengimbau masyarakat mewaspadai potensi cuaca buruk ini,” pinta Fitma. Soal penyebab, cuaca buruk akhir-akhir ini dipengaruhi adanya gelombang low frequency dan labilitas lokal yang masih kuat di wilayah Kalsel.

Fenomena itu ditambah dengan suhu permukaan air laut yang masih tinggi, menambah suplai uap air ke daratan.

“Berpotensi menyebabkan pertumbuhan awan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang,” pungkasnya. (sal/ris/gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/