alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Thursday, 18 August 2022

Tari Giha Mayau Secara Bahasa, Artinya Ribut Sekali

MARABAHAN – Sepekan yang lewat, hampir semua sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kabupaten Barito Kuala menggelar acara perpisahan.

Tak ketinggalan SDN Ulu Benteng 2 di Jalan Gusti Moh Seman Kecamatan Marabahan.

Untuk sesi hiburannya, disuguhkan Tari Giha Mayau. Terdengar asing? Ini memang tarian baru.

Giha Mayau berasal dari bahasa Dayak Bakumpai, artinya ribut sekali.

Meski kreasi baru, entah kenapa, tarian ini terlihat familiar. Tidak asing di mata penonton.

Rupanya, gerakannya mengambil dari permainan-permainan tradisional yang hampir punah. Ketika anak-anak kian asyik dengan gawainya masing-masing. Untuk bermain game atau nge-YouTube.

Contoh permainan batimbrak, ajak tukup, cukcuk bimbi dan lainnya.

“Mengapa diberi nama ribut sekali? Karena menggambarkan kegaduhan anak-anak saat bermain,” kata koreografer Sanggar Permata Ije Jela, Tajudinnoor kepada Radar Banjarmasin.

Odi, sapaan akrabnya, menceritakan Giha Mayau tercipta dari kerja sama Sanggar Ije Jela dan SDN Ulu Benteng 2.

Mulanya untuk diikutkan dalam festival tari SD se-Kalsel tahun 2021 lalu. “Mendapat juara dua,” sebutnya.

Giha Mayau dimainkan oleh tujuh penari cilik yang berusia antara sembilan sampai 12 tahun. “Tarian ini dirancang agar sesuai untuk dimainkan anak-anak,” jelasnya.

Bila koreografi ditangani Odi, maka penata tari ditangani Qoriyatun Ardita dan Nisa Sadin.

Ardita menambahkan, butuh latihan yang lumayan untuk menguasai tarian ini. Sekitar tiga bulan lamanya.

“Melatih anak-anak memang harus ekstra sabar. Fisik dan motorik penari cilik itu berbeda dengan penari dewasa,” jelasnya.

Ditekankan Ardita, Giha Mayau bukan sekadar meng-copy paste gerakan permainan tradisional. “Karena untuk menjadi sebuah tarian, gerakannya tetap harus terlihat indah,” tegasnya.

Salah seorang penari Giha Mayau adalah Ratu Sri Paramitha. Siswi kelas IV SD ini rutin berlatih sekali dalam sepekan.

Karena dia menikmatinya, maka tak menjadi beban. Anggaplah belajar sembari bermain. “Sekarang, cita-cita saya adalah menjadi penari terkenal,” serunya bangga. (gr/fud)

MARABAHAN – Sepekan yang lewat, hampir semua sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kabupaten Barito Kuala menggelar acara perpisahan.

Tak ketinggalan SDN Ulu Benteng 2 di Jalan Gusti Moh Seman Kecamatan Marabahan.

Untuk sesi hiburannya, disuguhkan Tari Giha Mayau. Terdengar asing? Ini memang tarian baru.

Giha Mayau berasal dari bahasa Dayak Bakumpai, artinya ribut sekali.

Meski kreasi baru, entah kenapa, tarian ini terlihat familiar. Tidak asing di mata penonton.

Rupanya, gerakannya mengambil dari permainan-permainan tradisional yang hampir punah. Ketika anak-anak kian asyik dengan gawainya masing-masing. Untuk bermain game atau nge-YouTube.

Contoh permainan batimbrak, ajak tukup, cukcuk bimbi dan lainnya.

“Mengapa diberi nama ribut sekali? Karena menggambarkan kegaduhan anak-anak saat bermain,” kata koreografer Sanggar Permata Ije Jela, Tajudinnoor kepada Radar Banjarmasin.

Odi, sapaan akrabnya, menceritakan Giha Mayau tercipta dari kerja sama Sanggar Ije Jela dan SDN Ulu Benteng 2.

Mulanya untuk diikutkan dalam festival tari SD se-Kalsel tahun 2021 lalu. “Mendapat juara dua,” sebutnya.

Giha Mayau dimainkan oleh tujuh penari cilik yang berusia antara sembilan sampai 12 tahun. “Tarian ini dirancang agar sesuai untuk dimainkan anak-anak,” jelasnya.

Bila koreografi ditangani Odi, maka penata tari ditangani Qoriyatun Ardita dan Nisa Sadin.

Ardita menambahkan, butuh latihan yang lumayan untuk menguasai tarian ini. Sekitar tiga bulan lamanya.

“Melatih anak-anak memang harus ekstra sabar. Fisik dan motorik penari cilik itu berbeda dengan penari dewasa,” jelasnya.

Ditekankan Ardita, Giha Mayau bukan sekadar meng-copy paste gerakan permainan tradisional. “Karena untuk menjadi sebuah tarian, gerakannya tetap harus terlihat indah,” tegasnya.

Salah seorang penari Giha Mayau adalah Ratu Sri Paramitha. Siswi kelas IV SD ini rutin berlatih sekali dalam sepekan.

Karena dia menikmatinya, maka tak menjadi beban. Anggaplah belajar sembari bermain. “Sekarang, cita-cita saya adalah menjadi penari terkenal,” serunya bangga. (gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/