alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 9 August 2022

Dua Versi Sarinah

VERSI pertama, dua abad silam, di sini hidup seorang perempuan bernama Datu Sarinah. Dia berasal dari Suku Dayak Biaju.

Namanya kemudian melekat ke dataran berpasir itu, Tambak Sarinah. Bertahan sampai sekarang.

Kini menjadi sebuah desa di Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut, Kalsel.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, banyak orang dari Kelua, Barabai dan Kandangan yang berdatangan ke Tambak Sarinah. Tujuannya untuk membuka sawah.

Berganti ke masa penjajahan Jepang, dibangun akses baru dari Danau Bekapar (berada di Desa Kayu Abang, berbatasan dengan Desa Padang Luas). Jalan itu dibangun dari arah timur menuju barat.

Tambak Sarinah dikelilingi lahan rawa yang banyak ditumbuhi pohon galam. Luas sekali, membentang ke arah selatan, agak melenceng ke utara.

Para pengadu nasib ini kemudian mendirikan pondok-pondok kayu. Tak pernah jauh-jauh dari rumah Datu Sarinah.

Baca Juga :  Sebenarnya, Banjarbaru Hanya Nama Proyek Sementara

Sebelum Indonesia merdeka, Tambak Sarinah sudah memiliki pasar. Letaknya tak jauh dari persimpangan jalan. Makanya diberi nama Pasar Simpang Empat.

Pasar ini hanya buka sekali dalam sepekan. Pada hari Sabtu, dari pagi sampai siang. Kebiasaan yang bertahan sampai hari ini.

Lahan pasar ini dimiliki seorang pandai besi bernama Amri. Warga setempat memanggilnya “tukang titik”. Artinya, orang pintar yang bisa membuat dan mengasah parang atau mandau.

Versi ini disarikan dari Kumpulan Cerita Rakyat Tanah Laut yang ditulis Sri Wahyu Waardinah. Buku ini diterbitkan tahun 2014 silam.

Lalu, apa versi kedua dari asal usul nama Desa Tambak Sarinah ini?

Ketua Serikat Sejarah Tanah Laut, Hanapiyanoor Tajali menjawab, Sarinah adalah nama pengasuh Soekarno semasa kecilnya di Jawa Timur.

Yang Tajali maksud, siapa lagi kalau bukan Bung Karno, proklamator dan presiden pertama republik ini.

Baca Juga :  Asal Mula Nama Desa Timbun Tulang

“Diambil dari nama pengasuh Presiden Soekarno, yakni Sarinah,” ujarnya, Minggu (26/6) malam.

Di Jakarta, Sarinah juga diabadikan menjadi pusat perbelanjaan. Mal itu dibangun pada tahun 1962 dan baru rampung tahun 1966.

Ditambahkan Tajali, sebelum masa perang dunia II, Tambak Sarinah sudah terkenal sebagai lumbung padi kabupaten ini.

Bertahan hingga masa sekarang. “Sebagian besar penduduknya bertani. Menjadi lumbung padinya Tanah Laut,” tambahnya.

Desa Tambak Sarinah mencakup wilayah Tambak Berkat di selatan dan Tambak Marun di utara.

Mata pencaharian mayoritas penduduknya adalah bertani. Bercocok tanam dua kali dalam setahun.

Pada awal musim hujan, menanam padi unggul. Setelah panen, pada bulan Maret atau April, mereka menanam padi lokal. Lalu panen pada Agustus atau akhir tahun. (sal/gr/fud)

VERSI pertama, dua abad silam, di sini hidup seorang perempuan bernama Datu Sarinah. Dia berasal dari Suku Dayak Biaju.

Namanya kemudian melekat ke dataran berpasir itu, Tambak Sarinah. Bertahan sampai sekarang.

Kini menjadi sebuah desa di Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut, Kalsel.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, banyak orang dari Kelua, Barabai dan Kandangan yang berdatangan ke Tambak Sarinah. Tujuannya untuk membuka sawah.

Berganti ke masa penjajahan Jepang, dibangun akses baru dari Danau Bekapar (berada di Desa Kayu Abang, berbatasan dengan Desa Padang Luas). Jalan itu dibangun dari arah timur menuju barat.

Tambak Sarinah dikelilingi lahan rawa yang banyak ditumbuhi pohon galam. Luas sekali, membentang ke arah selatan, agak melenceng ke utara.

Para pengadu nasib ini kemudian mendirikan pondok-pondok kayu. Tak pernah jauh-jauh dari rumah Datu Sarinah.

Baca Juga :  Orang Alabio Terkenal Sebagai Perantau dan Pedagang Hebat

Sebelum Indonesia merdeka, Tambak Sarinah sudah memiliki pasar. Letaknya tak jauh dari persimpangan jalan. Makanya diberi nama Pasar Simpang Empat.

Pasar ini hanya buka sekali dalam sepekan. Pada hari Sabtu, dari pagi sampai siang. Kebiasaan yang bertahan sampai hari ini.

Lahan pasar ini dimiliki seorang pandai besi bernama Amri. Warga setempat memanggilnya “tukang titik”. Artinya, orang pintar yang bisa membuat dan mengasah parang atau mandau.

Versi ini disarikan dari Kumpulan Cerita Rakyat Tanah Laut yang ditulis Sri Wahyu Waardinah. Buku ini diterbitkan tahun 2014 silam.

Lalu, apa versi kedua dari asal usul nama Desa Tambak Sarinah ini?

Ketua Serikat Sejarah Tanah Laut, Hanapiyanoor Tajali menjawab, Sarinah adalah nama pengasuh Soekarno semasa kecilnya di Jawa Timur.

Yang Tajali maksud, siapa lagi kalau bukan Bung Karno, proklamator dan presiden pertama republik ini.

Baca Juga :  Jejak Bahasa Penjajah di HSS

“Diambil dari nama pengasuh Presiden Soekarno, yakni Sarinah,” ujarnya, Minggu (26/6) malam.

Di Jakarta, Sarinah juga diabadikan menjadi pusat perbelanjaan. Mal itu dibangun pada tahun 1962 dan baru rampung tahun 1966.

Ditambahkan Tajali, sebelum masa perang dunia II, Tambak Sarinah sudah terkenal sebagai lumbung padi kabupaten ini.

Bertahan hingga masa sekarang. “Sebagian besar penduduknya bertani. Menjadi lumbung padinya Tanah Laut,” tambahnya.

Desa Tambak Sarinah mencakup wilayah Tambak Berkat di selatan dan Tambak Marun di utara.

Mata pencaharian mayoritas penduduknya adalah bertani. Bercocok tanam dua kali dalam setahun.

Pada awal musim hujan, menanam padi unggul. Setelah panen, pada bulan Maret atau April, mereka menanam padi lokal. Lalu panen pada Agustus atau akhir tahun. (sal/gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/