alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Thursday, 18 August 2022

Pramusim

Oleh: Muhammad Syarafuddin

PIALA Presiden adalah anomali. Bukan karena Jokowi-nya. Tapi perihal cara klub-klub top Indonesia memperlakukannya.

Di mulut, diakui sebagai pramusim. Tapi di lapangan, diladeni bak turnamen bergengsi.

Padahal posisi Piala Presiden dengan Liga 1, berbeda misalkan dengan posisi Coppa Italia dengan Serie A atau FA Cup dengan Liga Inggris.

Dihelat sebelum musim sesungguhnya dimulai, sejatinya Piala Presiden adalah pramusim. Artinya ajang pemanasan. Uji coba. Rangkaian laga persahabatan.

Inilah kesempatan mengetes pemain anyar. Baik yang baru dibeli, maupun pemain junior yang baru dipromosikan dari akademi.

Juga kesempatan bagi pemain cadangan buat unjuk gigi. Serta pemulihan kebugaran untuk pemain yang baru pulih dari cedera.

Sementara bagi pelatih, pramusim adalah kesempatan mengutak-atik formasi. Bereksperimen dengan taktik. Karena begitu liga dimulai, pelatih tak mungkin coba-coba.

Sedangkan buat klub, pramusim adalah tur promosi. Mendatangi stadion dan basis fans yang belum pernah disapa.

Intinya, dalam pramusim, kemenangan bukan target. Namun di Indonesia, pramusim justru dihadapi dengan serius.

Baca Juga :  Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Kesebelasan terbaik diturunkan di tengah jadwal yang padat. Diadang jeda istirahat dan waktu berlatih yang singkat.

Cermati jadwal Barito Putera versus Rans Nusantara, versus Persija Jakarta, versus Borneo Samarinda dan versus Madura United yang nyaris hanya berselang tiga hari.
Anggapannya, seolah pemain tidak boleh mengeluh. Toh mereka sudah digaji mahal.

Dampaknya mudah ditebak. Pelatih Laskar Antasari, Dejan Antonic menyebut pemainnya mulai terkuras. Pria Serbia itu harus merotasi skuatnya.

Dalam sepak bola profesional, kelelahan adalah musuh bersama. Pemain yang letih mudah terpancing dan terkena kartu. Fisiknya juga menjadi lebih rentan cedera.

Yang agak meringankan cuma cooling break selama tiga menit pada menit 30 dan 75.

Keanehan lain, jatah pergantian dibatasi lima pemain. Lantaran Piala Presiden menerapkan aturan resmi yang dibuat IFAB dan dirilis FIFA.

Bandingkan dengan pramusim di negara maju. Di sana pelatih boleh mengganti pemain sebanyak-banyaknya.

Tapi ini bukan Eropa, kita orang Indonesia, yang terlatih untuk memaklumi banyak hal.

Baca Juga :  Politik "Membanjur" Upaya Tunda Pemilu

Kita memaklumi, bagi Barito Putera yang terakhir kali juara pada musim 2011-12 di era Coach Salahudin, trofi Piala Presiden bisa menjadi pelipur lara.

Memaklumi pula, akibat pagebluk covid, keuangan klub menjadi morat-marit. Hadiah juara sebesar Rp2 miliar, lumayan untuk membantu pemasukan klub.

Hingga mencuat dua desakan. Pertama, menaikkan status Piala Presiden. Agar gengsinya sedikit di bawah Liga 1.

Walau agak sulit. Meski namanya keren, kita mengetahui Piala Presiden lahir dari sejarah kelam.

Digulirkan sejak Mei 2015. Guna mengisi kekosongan kompetisi, menyusul pembekuan PSSI oleh FIFA.

Kedua, jika usulan pertama belum bisa dipenuhi, maka pemilik klub dan suporter harus mawas diri.

Jangan menuntut banyak pada pelatih dan pemain. Turunkan ekspektasi. Perlakukan pramusim sewajarnya pramusim.

Ada kekhawatiran. Karena bahimat banar di pramusim, begitu Liga 1 dimulai, Barito Putera sudah keburu kehabisan bensin.

Tidak ada yang ingin mengulangi pengalaman hampir terdegradasi seperti musim lalu. Tidak ada. (gr/fud)

Oleh: Muhammad Syarafuddin

PIALA Presiden adalah anomali. Bukan karena Jokowi-nya. Tapi perihal cara klub-klub top Indonesia memperlakukannya.

Di mulut, diakui sebagai pramusim. Tapi di lapangan, diladeni bak turnamen bergengsi.

Padahal posisi Piala Presiden dengan Liga 1, berbeda misalkan dengan posisi Coppa Italia dengan Serie A atau FA Cup dengan Liga Inggris.

Dihelat sebelum musim sesungguhnya dimulai, sejatinya Piala Presiden adalah pramusim. Artinya ajang pemanasan. Uji coba. Rangkaian laga persahabatan.

Inilah kesempatan mengetes pemain anyar. Baik yang baru dibeli, maupun pemain junior yang baru dipromosikan dari akademi.

Juga kesempatan bagi pemain cadangan buat unjuk gigi. Serta pemulihan kebugaran untuk pemain yang baru pulih dari cedera.

Sementara bagi pelatih, pramusim adalah kesempatan mengutak-atik formasi. Bereksperimen dengan taktik. Karena begitu liga dimulai, pelatih tak mungkin coba-coba.

Sedangkan buat klub, pramusim adalah tur promosi. Mendatangi stadion dan basis fans yang belum pernah disapa.

Intinya, dalam pramusim, kemenangan bukan target. Namun di Indonesia, pramusim justru dihadapi dengan serius.

Baca Juga :  Minyak Goreng

Kesebelasan terbaik diturunkan di tengah jadwal yang padat. Diadang jeda istirahat dan waktu berlatih yang singkat.

Cermati jadwal Barito Putera versus Rans Nusantara, versus Persija Jakarta, versus Borneo Samarinda dan versus Madura United yang nyaris hanya berselang tiga hari.
Anggapannya, seolah pemain tidak boleh mengeluh. Toh mereka sudah digaji mahal.

Dampaknya mudah ditebak. Pelatih Laskar Antasari, Dejan Antonic menyebut pemainnya mulai terkuras. Pria Serbia itu harus merotasi skuatnya.

Dalam sepak bola profesional, kelelahan adalah musuh bersama. Pemain yang letih mudah terpancing dan terkena kartu. Fisiknya juga menjadi lebih rentan cedera.

Yang agak meringankan cuma cooling break selama tiga menit pada menit 30 dan 75.

Keanehan lain, jatah pergantian dibatasi lima pemain. Lantaran Piala Presiden menerapkan aturan resmi yang dibuat IFAB dan dirilis FIFA.

Bandingkan dengan pramusim di negara maju. Di sana pelatih boleh mengganti pemain sebanyak-banyaknya.

Tapi ini bukan Eropa, kita orang Indonesia, yang terlatih untuk memaklumi banyak hal.

Baca Juga :  Media Sosial dan Matinya Seni Diskusi

Kita memaklumi, bagi Barito Putera yang terakhir kali juara pada musim 2011-12 di era Coach Salahudin, trofi Piala Presiden bisa menjadi pelipur lara.

Memaklumi pula, akibat pagebluk covid, keuangan klub menjadi morat-marit. Hadiah juara sebesar Rp2 miliar, lumayan untuk membantu pemasukan klub.

Hingga mencuat dua desakan. Pertama, menaikkan status Piala Presiden. Agar gengsinya sedikit di bawah Liga 1.

Walau agak sulit. Meski namanya keren, kita mengetahui Piala Presiden lahir dari sejarah kelam.

Digulirkan sejak Mei 2015. Guna mengisi kekosongan kompetisi, menyusul pembekuan PSSI oleh FIFA.

Kedua, jika usulan pertama belum bisa dipenuhi, maka pemilik klub dan suporter harus mawas diri.

Jangan menuntut banyak pada pelatih dan pemain. Turunkan ekspektasi. Perlakukan pramusim sewajarnya pramusim.

Ada kekhawatiran. Karena bahimat banar di pramusim, begitu Liga 1 dimulai, Barito Putera sudah keburu kehabisan bensin.

Tidak ada yang ingin mengulangi pengalaman hampir terdegradasi seperti musim lalu. Tidak ada. (gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

Pengabdi Setan

Blunder Politik Tukang Bakso

Menikmati Ketidaknyamanan

Negara Tidak Berbisnis Dengan Rakyat

/