alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Thursday, 7 July 2022

Komunitas Fotografer Sport Banua, Karena Fotografer Wedding Sudah Mainstream

“Bang… link, bang!” serunya. Tidak, yang dimaksud bukan link itu. Maksudnya adalah link mengunduh foto via Google Drive.

M IDRIS JIAN SIDIK, Banjarmasin

Makan enak? Pergi ke pantai? Main futsal? Rasanya, kurang afdal jika belum dibagikan ke media sosial. Peluang itulah yang ditangkap para fotografer lepas ini menjadi bisnis.

Bermula dari pandemi, ketika resepsi perkawinan dilarang, para fotografer ini harus memutar otak mencari pemasukan lain.

Tapi wabah covid juga memicu tren baru. Gaya hidup sehat di tengah kehidupan urban. Demi tubuh yang kebal dari corona dan mengusir kejenuhan akibat bekerja di rumah.

Terutama anak muda, mendadak mulai rajin jogging, bersepeda, atau bermain sepak bola. Mereka inilah yang ditawari menjadi klien.

Seiring waktu, dari bisnis menjadi komunitas. Di Kalimantan Selatan, sejak akhir 2021, berdiri South Borneo Sport Photographer (SBSP).

Salah seorang pelopornya adalah Kangkeker. Di Banjarmasin, namanya sudah bak legenda. Belakangan bermunculan Lensa Raga, Inggihguruproject, dan tentu Bir Sportography yang digeluti penulis.

Tapi, apakah lensa tele saja cukup? Jawabannya tidak. Harus beranjak dari kecintaan pada dunia olahraga.

Baca Juga :  Kenalin Nih, Komunitas Bikers Subuhan Banjarbaru

“Selain menjadi tukang foto, saya juga guru olahraga dan pelatih futsal,” ungkap Abdurrahim pemilik Aemz Project Moment. Dia mengajar di SMK Islam Sabilal Muhtadin.

“Kalau saya hobi bermain bola. Tapi semakin jarang bermain karena cedera. Sempat berpikir menjadi pelatih, tapi rupanya tidak berbakat,” seloroh Fauzan pemilik Fauzan Fotografi.

“Saya buka-buka YouTube dan ketemu lah profesi ini. Lalu mulai belajar dengan otodidak,” cerita pegawai Manggala Agni itu.

Berbeda lagi dengan cerita Purwanto pemilik Lensa Ne Thole. Karyawan perusahaan air mineral ini melihat keuntungan yang menjanjikan dari bisnis ini.

“Sport fotografi ini susah-susah gampang. Susahnya menunggu momen yang pas. Gampangnya tidak perlu repot mengarahkan objek foto. Seperti halnya memotret wedding,” ulasnya.

Namun, komunitas ini tak hanya membuka dirinya untuk para kawakan. Yang pemula pun juga disambut. Contoh Rahmadi pemilik Venzo Photosport.

“Baru awal tahun ini memasuki dunia ini. Sama dengan yang lain, saya juga belajar secara otodidak,” ungkapnya.

Ditanya soal tarif, Djuanda Rifky alias kangkeker menyebutkan nilainya. “Standarnya kalau kami antara Rp200 ribu sampai Rp250 ribu per jam, tergantung wilayah. Entah ini termasuk murah apa mahal. Yang pasti biaya peralatannya tidak sedikit,” ucapnya.

Baca Juga :  Kisah Nanda Bestari KKN di Desa Magalau Hulu Kotabaru

Djuanda juga berani menyebut penghasilan tertinggi yang pernah ia peroleh dalam sehari. “Saya pernah dapat Rp1,6 juta. Tapi itu awal-awal merintis jasa ini,” ceritanya.

Soal kendala, di tepi lapangan mereka kerap menghadapi cuaca yang tidak mendukung. “Hujan deras atau badai petir. Mau kabur, kan harus profesional,” tegasnya.

Mereka juga dituntut bekerja cepat. Karena pemesan kerap tak sabaran menantikan link unduh foto-foto aksi dirinya.
Semakin banyak fotografer yang terjun ke bisnis ini, apakah “kuenya” justru tidak semakin kecil?
Tidak juga. Mereka melihat semakin banyak lapangan mini soccer dan futsal yang berdiri di kota tetangga, seperti Banjarbaru dan Martapura.

Pada akhirnya, seluruh anggota SBSP menyimpan harapan dan tujuan yang sama. “Kami ingin komunitas ini menjadi wadah untuk tempat berbagi ilmu, agar semua fotografer makmur. Mendapat rezekinya masing-masing. Kami saling bantu, tidak ada sikut-sikutan,” tutup Djuanda. (gr/fud)

“Bang… link, bang!” serunya. Tidak, yang dimaksud bukan link itu. Maksudnya adalah link mengunduh foto via Google Drive.

M IDRIS JIAN SIDIK, Banjarmasin

Makan enak? Pergi ke pantai? Main futsal? Rasanya, kurang afdal jika belum dibagikan ke media sosial. Peluang itulah yang ditangkap para fotografer lepas ini menjadi bisnis.

Bermula dari pandemi, ketika resepsi perkawinan dilarang, para fotografer ini harus memutar otak mencari pemasukan lain.

Tapi wabah covid juga memicu tren baru. Gaya hidup sehat di tengah kehidupan urban. Demi tubuh yang kebal dari corona dan mengusir kejenuhan akibat bekerja di rumah.

Terutama anak muda, mendadak mulai rajin jogging, bersepeda, atau bermain sepak bola. Mereka inilah yang ditawari menjadi klien.

Seiring waktu, dari bisnis menjadi komunitas. Di Kalimantan Selatan, sejak akhir 2021, berdiri South Borneo Sport Photographer (SBSP).

Salah seorang pelopornya adalah Kangkeker. Di Banjarmasin, namanya sudah bak legenda. Belakangan bermunculan Lensa Raga, Inggihguruproject, dan tentu Bir Sportography yang digeluti penulis.

Tapi, apakah lensa tele saja cukup? Jawabannya tidak. Harus beranjak dari kecintaan pada dunia olahraga.

Baca Juga :  Mengunjungi Pasar Kajut Edisi ke-IV, Menjual Apa Saja yang Penting Keren

“Selain menjadi tukang foto, saya juga guru olahraga dan pelatih futsal,” ungkap Abdurrahim pemilik Aemz Project Moment. Dia mengajar di SMK Islam Sabilal Muhtadin.

“Kalau saya hobi bermain bola. Tapi semakin jarang bermain karena cedera. Sempat berpikir menjadi pelatih, tapi rupanya tidak berbakat,” seloroh Fauzan pemilik Fauzan Fotografi.

“Saya buka-buka YouTube dan ketemu lah profesi ini. Lalu mulai belajar dengan otodidak,” cerita pegawai Manggala Agni itu.

Berbeda lagi dengan cerita Purwanto pemilik Lensa Ne Thole. Karyawan perusahaan air mineral ini melihat keuntungan yang menjanjikan dari bisnis ini.

“Sport fotografi ini susah-susah gampang. Susahnya menunggu momen yang pas. Gampangnya tidak perlu repot mengarahkan objek foto. Seperti halnya memotret wedding,” ulasnya.

Namun, komunitas ini tak hanya membuka dirinya untuk para kawakan. Yang pemula pun juga disambut. Contoh Rahmadi pemilik Venzo Photosport.

“Baru awal tahun ini memasuki dunia ini. Sama dengan yang lain, saya juga belajar secara otodidak,” ungkapnya.

Ditanya soal tarif, Djuanda Rifky alias kangkeker menyebutkan nilainya. “Standarnya kalau kami antara Rp200 ribu sampai Rp250 ribu per jam, tergantung wilayah. Entah ini termasuk murah apa mahal. Yang pasti biaya peralatannya tidak sedikit,” ucapnya.

Baca Juga :  Mengenal Sugiannor Pembuat Kapal Penghancur Gulma

Djuanda juga berani menyebut penghasilan tertinggi yang pernah ia peroleh dalam sehari. “Saya pernah dapat Rp1,6 juta. Tapi itu awal-awal merintis jasa ini,” ceritanya.

Soal kendala, di tepi lapangan mereka kerap menghadapi cuaca yang tidak mendukung. “Hujan deras atau badai petir. Mau kabur, kan harus profesional,” tegasnya.

Mereka juga dituntut bekerja cepat. Karena pemesan kerap tak sabaran menantikan link unduh foto-foto aksi dirinya.
Semakin banyak fotografer yang terjun ke bisnis ini, apakah “kuenya” justru tidak semakin kecil?
Tidak juga. Mereka melihat semakin banyak lapangan mini soccer dan futsal yang berdiri di kota tetangga, seperti Banjarbaru dan Martapura.

Pada akhirnya, seluruh anggota SBSP menyimpan harapan dan tujuan yang sama. “Kami ingin komunitas ini menjadi wadah untuk tempat berbagi ilmu, agar semua fotografer makmur. Mendapat rezekinya masing-masing. Kami saling bantu, tidak ada sikut-sikutan,” tutup Djuanda. (gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/