alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Cerita Klub-Klub Lokal yang Berjuang di Liga 3 Zona Kalsel

LIGA 1 adalah etalase sepak bola Indonesia. Di mana olahraga ini telah menjadi industri. Tapi piramida sepak bola bakal runtuh tanpa turnamen kasta bawah.

Radar Banjarmasin mengangkat cerita klub-klub lokal yang bermain di Liga 3 Zona Kalsel. Masing-masing punya cerita, tapi punya tujuan yang sama, menjadi juara.

PESEBAN
Tua tapi Masih Bertaji

Favehotel Banjarmasin

PADA 1922, berdiri Bandjarmasinche Voetbal Bond (BVB) di bawah naungan Nederlandsch-Indische Voetbal Unie (NIVU).

Di masa pemerintahan Hindia Belanda, pada 1936, tercatat hanya ada tiga tim sepak bola di luar Pulau Jawa yang menjadi anggota NIVU. Yakni Sumatra Timur (berbasis di Medan), Makassar dan Bandjermasin.

Dosen sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengacu pada catatan pengamat olahraga M Hatta. Yang menyebut Peseban berdiri di atas puing-puing BVB.

“Tanggal 15 April 1942, resmi terbentuk Persiban (Persatuan Sepakbola Indonesia Banjarmasin) yang kemudian berganti nama menjadi Peseban pada tanggal 30 Juni 1942,” tulisnya.

Namun, Peseban baru terjun ke kompetisi yang diakui PSSI pada tahun 1953. Artinya, Peseban sudah berumur hampir satu abad.

Jadi, boleh dikata, Peseban adalah tim tertua di Pulau Kalimantan.

Sekarang, kita maju ke masa sekarang. Saat ini Peseban dipimpin Hermansyah. Dia Ketua KONI Banjarmasin yang juga mantan Wakil Wali Kota Banjarmasin.

“Tak masalah kategori junior atau senior, setiap ada peluang juara, harus kami tuntaskan,” ujarnya bersemangat.

Di level senior, Peseban adalah kampiun Liga 3 Zona Kalsel pada 2016 (waktu itu namanya masih Liga Nusantara) dan 2017. Sedangkan di level junior, Peseban menjuarai Piala Soeratin U15 (2017,2018,2019) dan U17 (2016,2017,2018,2019).

Jebolan Peseban juga telah diakui. Sebut saja Norhalid dan Sofyan Morhan. Kiper dan kapten Peseban yang sekarang masuk staf pelatih Barito Putera.

Lalu ada Rafly Ariyanto yang sekarang bermain di Liga 1 dengan mengenakan jersey Laskar Antasari.
“Selain mereka, banyak pemain muda kami yang akhirnya bergabung dengan Barito Putera Junior,” beber Herman.

Herman percaya, asalkan diberi kesempatan, banyak pemain Peseban yang bisa bermain di Liga 1. Tak kalah kualitasnya dengan pemain asal Jawa.

“Kami akan memberikan kesempatan kepada pemain untuk mengembangkan karirnya, asalkan dia mau bekerja keras,” jaminnya.

Meski tim seniornya belum banyak bisa bicara, tim juniornya pernah mencapai puncak prestasi pada 2019
silam.

Dilatih Bambang Hermawan, Peseban menembus zona nasional. Mencapai babak perempat final. Itu prestasi yang mengkilap untuk ukuran sepak bola Kalsel.

Tua tapi Masih Bertaji Bambang kemudian diganjar promosi melatih tim senior. Musim lalu, sayangnya, mereka gagal lolos dari fase grup.

“Waktu itu, kami mengandalkan materi pemain-pemain asli Kalsel. Produk kami sendiri. Ternyata mampu bersaing dengan tim-tim luar Kalimantan,” kenang Bambang.

“Mereka menunjukkan daya juang luar biasa. Membuat bangga Kota Seribu Sungai,” imbuhnya. (bir/gr/fud)

PERSETALA
Kuncinya adalah Regenerasi

NAMA panjangnya Persatuan Sepak Bola Tanah Laut. Oleh suporter, Persetala menyandang julukan Laskar Kijang Hamuk.

Sang pelatih, Edy Purwanto mengatakan, timnya sedang fokus menatap Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) yang digelar Juli nanti.

Beberapa pemain juga akan diturunkan pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Kandangan pada November mendatang.

“Nanti, pemain-pemain yang berlaga di Popda dan Porprov akan menjadi pilar skuat yang mengarungi Liga 3. Ditambah lima pemain senior,” jelasnya.

Itu fokus jangka pendek. Untuk jangka panjang, Persetala punya pembinaan usia dini. Bekerja sama dengan Unit Pelayanan Pelabuhan Kelas III Kintap (UPP Kintap).

Baca Juga :  Seru Nih, Festival Olahraga Tradisional Bakal Hadir di Kalsel

Tujuannya, agar regenerasi skuat tidak terputus. Dan hasilnya sudah bisa dinikmati.

“Kemarin di Piala Soeratin, semua kelompok umur masuk final. Dua meraih trofi. Jadi kiblat kami adalah pembinaan usia dini,” beber Edy.

Saat ini, Stadion Pertasi Kencana di Pelaihari sedang direnovasi. Timnya terpaksa berpindah-pindah lokasi untuk berlatih.

Tapi Edy tak kehabisan akal. Lapangan milik klub lain bisa dipakainya lewat laga-laga persahabatan.

Dia berharap, renovasi stadion oleh Pemkab Tanah Laut itu bisa menambah semangat pemainnya. “Target kami tahun ini menjadi juara kembali,” tegasnya.

Salah seorang pemain senior, Ridho Darma sedang membantu tim juniornya. “Saya menjadi asisten pelatih untuk persiapan Popda,” ujarnya.

Secara pribadi, dia masih ingin bermain. “Namun persaingan pemain senior cukup ketat. Karena cuma dipilih lima orang dari 30 pemain,” bebernya.

Ridho juga bekerja di Dinas Satpol PP dan Damkar Tala. Selain itu, membela klub UPP Kintap di kompetisi pramusim Askab Tala.

Di grup A Liga 3 Zona Kalsel, Persetala mengakhiri musim lalu di peringkat tiga. Di bawah Batulicin Putera 69 dan Perseam Amuntai. (sal/gr/fud)

KOTABARU FC
Tanpa Cinta, Mustahil

BAGI Sayed Andi Makmur Al Idrus, modal terpenting untuk mendirikan sebuah klub sepak bola adalah cinta. Kalau tidak mencintai olahraga ini, bakal berat.

Sayed adalah pendiri sekaligus pemilik Kotabaru FC. “Bukan hanya berkorban uang dan tenaga. Memang harus dengan cinta,” ungkapnya.

Dia bukan orang baru di dunia ini. Sudah kenyang pengalaman. Dari akhir tahun 1980-an sampai akhir 1990-an, Sayed menjadi pengurus Persiba. Klub kebanggaan masyarakat Balikpapan, Kaltim.

Pulang ke Kabupaten Kotabaru, dia melihat sepak bola di Bumi Saijaan mundur lantaran tak memiliki wadah. Itu membuatnya sedih.

Maka, pada tahun 2017 dia mendirikan Kotabaru FC. “Saya tanamkan mental, kalau ikut turnamen, targetnya harus juara satu,” tegasnya.

Untuk operasional klub, pada mulanya ia harus memakai dana sendiri. Tanpa bantuan dari siapapun.

Tapi di tengah keterbatasan itu Sayed sudah berani bermimpi. Suatu hari Kotabaru FC bakal menjadi klub besar di Kalsel.

Klub ini mulai menarik perhatian di level junior. Awal 2022, menjuarai Piala Soeratin U17. Di final, Kotabaru FC bertemu Persetala.

“Bagaimana caranya menjadi klub besar? Kami membina bibitnya sejak junior dulu,” jelasnya.
Sementara untuk level senior, pernah menjuarai Liga 3 Asprov PSSI Kalsel pada 2018. Mendapat tiket untuk berlaga di Regional Kalimantan.

Sempat mulus di awal, sayang langkah mereka terhenti di babak 32 besar. Sekarang, Sayed sedang menatap dimulainya Liga 3 pada bulan Agustus mendatang. “Kami rutin latihan. Dua kali sampai empat kali dalam sepekan,” tutupnya. (jum/gr/fud)

BATULICIN PUTERA
Bayi Ajaib

BARU masuk Liga 3 pada musim 2021 kemarin, klub asal Kabupaten Tanah Bumbu ini menjadi satu-satunya wakil Kalsel yang lolos 32 besar zona nasional.

Manajer Batulicin Putera 69 FC, Chandra Kusairi mengaku diminta sang pemilik Mardani H Maming untuk langsung tancap gas.

Dalam waktu singkat, klub ini membeli dan menyewa banyak pemain. Jor-joran di bursa transfer. “Waktu itu, komposisi pemain lokalnya 30 persen. Sisanya dari luar Tanbu,” ungkapnya.

Apakah pemain lokal tidak cukup bagus? Dia menjawab dengan tegas tidak. “Hanya jam terbangnya saja yang kurang. Ketika bermain di laga besar masih grogi. Sementara mesti berkibar cepat,” jelasnya.

Oke, dana tidak masalah, tapi waktunya terbatas. Dan waktu tidak bisa dibeli. Sebagus apapun skuatnya, perlu latihan, adaptasi dan komitmen. “Pernah kami cuma membawa 15 pemain saja. Beberapa tidak bisa hadir, alasan inilah itulah. Terus ada juga yang kena covid,” kenangnya.

Baca Juga :  Barito Tergabung di Grup Neraka

Pesan pemilik untuk membawa nama Banua pun membuat mereka bertempur habis-habisan.

“Kekeluargaan di sini luar biasa. Semua bisa menyampingkan ego, demi satu tujuan, menang,” timpal kapten tim, Husain Mugni.

Mantan pemain Kalteng Putra itu membenarkan, persiapan mereka kurang matang. “Tapi masuk 32 besar, saya kira sudah hebat.

Bayangkan, beberapa kali kami harus turun hanya dengan empat pemain cadangan. Bahkan saya harus merangkap jadi pelatih,” ujarnya.

Saking inginnya menang, semua orang di klub ini merangkap banyak tugas. Bahkan striker harus bisa menjadi bek. Tim medis juga nyambi mengurusi hal lain.

“Melihat semangat ini, saya optimis kami bisa masuk Liga 2 tahun depan. Tahun ini kami jadikan pelajaran,” bebernya.

Menurut Husain, dukungan finansial adalah syarat penting dalam sepak bola. Soal itu, Batulicin Putera 69 tidak masalah.

Harapannya, akan semakin banyak kompetisi lokal di level kabupaten dan provinsi. “Futsal bagus untuk skill, tapi berbeda dengan sepak bola,” bebernya.

Kembali pada Chandra, ia menargetkan pengurangan pemain luar daerah secara bertahap. “Walaupun kehadiran pemain luar turut memotivasi pemain lokal,” ujarnya.

Dia sependapat dengan kapten timnya, promosi ke Liga 2 bukan perkara mustahil. “Pemain muda tidak mau kalah dengan pemain senior yang profesional, tinggal menambah menit bermain,” tekannya.

Soal jam terbang, jangankan pemain, pengurus pun masih baru. “Awalnya klub ini dibentuk 2006, namanya PS Tanbu Putra. Baru 2022 ini berganti nama. Para pengurus pun banyak yang baru,” bebernya.

Karena masih sama-sama hijau, mereka sempat emosi di beberapa laga. “Wasit tidak adil. Hampir terjadi bentrok,” ujarnya.

Pengalaman emosional di lapangan, terasa baru baginya. “Kami sudah merasakan sengitnya atmosfer nasional. Ini modal berharga,” pungkasnya. (zal/gr/fud)

PERSEMAR
Bangkit dari Mati Suri

BELASAN tahun mati suri, Persatuan Sepak bola Martapura (Persemar) bangkit dengan cara berkelas.

Tampil di Liga 3 Zona Kalsel tahun lalu, klub asal Kabupaten Banjar itu langsung juara dan berhak merumput ke babak selanjutnya.

Sayang, di zona nasional Persemar tidak mampu berbuat banyak. Sehingga gagal naik kasta ke Liga 2.
Tapi itu sudah cukup menjadi peringatan kepada penghuni Liga 3. Bahwa Persemar adalah lawan yang patut diperhitungkan.

Kebangkitan Persemar tak lepas dari tokoh pemuda Martapura, Muhammad Rofiqi. Dia sekarang yang memimpin tim yang berdiri tahun 1963 ini.

Sebelum menghidupkan kembali Persemar, Rofiqi sebenarnya ingin membeli Martapura FC (kini menjadi Dewa United).

Tapi setelah berpikir panjang, dia lebih memilih mengurus Persemar. Alasannya, merasa sayang dengan bakat-bakat muda di Martapura.

“Melalui Persemar, menyalurkan prestasi putra daerah ke level nasional,” katanya.

“Sayang, punya atlet hebat dan Stadion Demang Lehman yang bagus kalau tidak dimanfaatkan,” beber Ketua DPRD Banjar ini.

Saat ini, untuk kembali mengarungi Liga 3 Zona Kalsel, Persemar belum memanaskan mesin. Bahkan, Persemar ditinggal pelatih yang membawa mereka juara pada musim lalu, Ronnie Carvalho.

Carvalho meninggalkan Persemar lantaran kontraknya habis. “Kontrak saya selesai April tadi,” ujarnya.

Tapi dia yakin klub berjuluk Intan Martapura ini punya kans menembus zona nasional. “Apalagi jika disiapkan lebih matang lagi,” katanya.

Yang dia maksud, persiapan di semua lini. Didukung kepengurusan dan tim pelatih yang bagus. (ris/gr/fud)

LIGA 1 adalah etalase sepak bola Indonesia. Di mana olahraga ini telah menjadi industri. Tapi piramida sepak bola bakal runtuh tanpa turnamen kasta bawah.

Radar Banjarmasin mengangkat cerita klub-klub lokal yang bermain di Liga 3 Zona Kalsel. Masing-masing punya cerita, tapi punya tujuan yang sama, menjadi juara.

PESEBAN
Tua tapi Masih Bertaji

Favehotel Banjarmasin

PADA 1922, berdiri Bandjarmasinche Voetbal Bond (BVB) di bawah naungan Nederlandsch-Indische Voetbal Unie (NIVU).

Di masa pemerintahan Hindia Belanda, pada 1936, tercatat hanya ada tiga tim sepak bola di luar Pulau Jawa yang menjadi anggota NIVU. Yakni Sumatra Timur (berbasis di Medan), Makassar dan Bandjermasin.

Dosen sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengacu pada catatan pengamat olahraga M Hatta. Yang menyebut Peseban berdiri di atas puing-puing BVB.

“Tanggal 15 April 1942, resmi terbentuk Persiban (Persatuan Sepakbola Indonesia Banjarmasin) yang kemudian berganti nama menjadi Peseban pada tanggal 30 Juni 1942,” tulisnya.

Namun, Peseban baru terjun ke kompetisi yang diakui PSSI pada tahun 1953. Artinya, Peseban sudah berumur hampir satu abad.

Jadi, boleh dikata, Peseban adalah tim tertua di Pulau Kalimantan.

Sekarang, kita maju ke masa sekarang. Saat ini Peseban dipimpin Hermansyah. Dia Ketua KONI Banjarmasin yang juga mantan Wakil Wali Kota Banjarmasin.

“Tak masalah kategori junior atau senior, setiap ada peluang juara, harus kami tuntaskan,” ujarnya bersemangat.

Di level senior, Peseban adalah kampiun Liga 3 Zona Kalsel pada 2016 (waktu itu namanya masih Liga Nusantara) dan 2017. Sedangkan di level junior, Peseban menjuarai Piala Soeratin U15 (2017,2018,2019) dan U17 (2016,2017,2018,2019).

Jebolan Peseban juga telah diakui. Sebut saja Norhalid dan Sofyan Morhan. Kiper dan kapten Peseban yang sekarang masuk staf pelatih Barito Putera.

Lalu ada Rafly Ariyanto yang sekarang bermain di Liga 1 dengan mengenakan jersey Laskar Antasari.
“Selain mereka, banyak pemain muda kami yang akhirnya bergabung dengan Barito Putera Junior,” beber Herman.

Herman percaya, asalkan diberi kesempatan, banyak pemain Peseban yang bisa bermain di Liga 1. Tak kalah kualitasnya dengan pemain asal Jawa.

“Kami akan memberikan kesempatan kepada pemain untuk mengembangkan karirnya, asalkan dia mau bekerja keras,” jaminnya.

Meski tim seniornya belum banyak bisa bicara, tim juniornya pernah mencapai puncak prestasi pada 2019
silam.

Dilatih Bambang Hermawan, Peseban menembus zona nasional. Mencapai babak perempat final. Itu prestasi yang mengkilap untuk ukuran sepak bola Kalsel.

Tua tapi Masih Bertaji Bambang kemudian diganjar promosi melatih tim senior. Musim lalu, sayangnya, mereka gagal lolos dari fase grup.

“Waktu itu, kami mengandalkan materi pemain-pemain asli Kalsel. Produk kami sendiri. Ternyata mampu bersaing dengan tim-tim luar Kalimantan,” kenang Bambang.

“Mereka menunjukkan daya juang luar biasa. Membuat bangga Kota Seribu Sungai,” imbuhnya. (bir/gr/fud)

PERSETALA
Kuncinya adalah Regenerasi

NAMA panjangnya Persatuan Sepak Bola Tanah Laut. Oleh suporter, Persetala menyandang julukan Laskar Kijang Hamuk.

Sang pelatih, Edy Purwanto mengatakan, timnya sedang fokus menatap Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) yang digelar Juli nanti.

Beberapa pemain juga akan diturunkan pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Kandangan pada November mendatang.

“Nanti, pemain-pemain yang berlaga di Popda dan Porprov akan menjadi pilar skuat yang mengarungi Liga 3. Ditambah lima pemain senior,” jelasnya.

Itu fokus jangka pendek. Untuk jangka panjang, Persetala punya pembinaan usia dini. Bekerja sama dengan Unit Pelayanan Pelabuhan Kelas III Kintap (UPP Kintap).

Baca Juga :  Barito Putera Ditahan Pendatang Baru

Tujuannya, agar regenerasi skuat tidak terputus. Dan hasilnya sudah bisa dinikmati.

“Kemarin di Piala Soeratin, semua kelompok umur masuk final. Dua meraih trofi. Jadi kiblat kami adalah pembinaan usia dini,” beber Edy.

Saat ini, Stadion Pertasi Kencana di Pelaihari sedang direnovasi. Timnya terpaksa berpindah-pindah lokasi untuk berlatih.

Tapi Edy tak kehabisan akal. Lapangan milik klub lain bisa dipakainya lewat laga-laga persahabatan.

Dia berharap, renovasi stadion oleh Pemkab Tanah Laut itu bisa menambah semangat pemainnya. “Target kami tahun ini menjadi juara kembali,” tegasnya.

Salah seorang pemain senior, Ridho Darma sedang membantu tim juniornya. “Saya menjadi asisten pelatih untuk persiapan Popda,” ujarnya.

Secara pribadi, dia masih ingin bermain. “Namun persaingan pemain senior cukup ketat. Karena cuma dipilih lima orang dari 30 pemain,” bebernya.

Ridho juga bekerja di Dinas Satpol PP dan Damkar Tala. Selain itu, membela klub UPP Kintap di kompetisi pramusim Askab Tala.

Di grup A Liga 3 Zona Kalsel, Persetala mengakhiri musim lalu di peringkat tiga. Di bawah Batulicin Putera 69 dan Perseam Amuntai. (sal/gr/fud)

KOTABARU FC
Tanpa Cinta, Mustahil

BAGI Sayed Andi Makmur Al Idrus, modal terpenting untuk mendirikan sebuah klub sepak bola adalah cinta. Kalau tidak mencintai olahraga ini, bakal berat.

Sayed adalah pendiri sekaligus pemilik Kotabaru FC. “Bukan hanya berkorban uang dan tenaga. Memang harus dengan cinta,” ungkapnya.

Dia bukan orang baru di dunia ini. Sudah kenyang pengalaman. Dari akhir tahun 1980-an sampai akhir 1990-an, Sayed menjadi pengurus Persiba. Klub kebanggaan masyarakat Balikpapan, Kaltim.

Pulang ke Kabupaten Kotabaru, dia melihat sepak bola di Bumi Saijaan mundur lantaran tak memiliki wadah. Itu membuatnya sedih.

Maka, pada tahun 2017 dia mendirikan Kotabaru FC. “Saya tanamkan mental, kalau ikut turnamen, targetnya harus juara satu,” tegasnya.

Untuk operasional klub, pada mulanya ia harus memakai dana sendiri. Tanpa bantuan dari siapapun.

Tapi di tengah keterbatasan itu Sayed sudah berani bermimpi. Suatu hari Kotabaru FC bakal menjadi klub besar di Kalsel.

Klub ini mulai menarik perhatian di level junior. Awal 2022, menjuarai Piala Soeratin U17. Di final, Kotabaru FC bertemu Persetala.

“Bagaimana caranya menjadi klub besar? Kami membina bibitnya sejak junior dulu,” jelasnya.
Sementara untuk level senior, pernah menjuarai Liga 3 Asprov PSSI Kalsel pada 2018. Mendapat tiket untuk berlaga di Regional Kalimantan.

Sempat mulus di awal, sayang langkah mereka terhenti di babak 32 besar. Sekarang, Sayed sedang menatap dimulainya Liga 3 pada bulan Agustus mendatang. “Kami rutin latihan. Dua kali sampai empat kali dalam sepekan,” tutupnya. (jum/gr/fud)

BATULICIN PUTERA
Bayi Ajaib

BARU masuk Liga 3 pada musim 2021 kemarin, klub asal Kabupaten Tanah Bumbu ini menjadi satu-satunya wakil Kalsel yang lolos 32 besar zona nasional.

Manajer Batulicin Putera 69 FC, Chandra Kusairi mengaku diminta sang pemilik Mardani H Maming untuk langsung tancap gas.

Dalam waktu singkat, klub ini membeli dan menyewa banyak pemain. Jor-joran di bursa transfer. “Waktu itu, komposisi pemain lokalnya 30 persen. Sisanya dari luar Tanbu,” ungkapnya.

Apakah pemain lokal tidak cukup bagus? Dia menjawab dengan tegas tidak. “Hanya jam terbangnya saja yang kurang. Ketika bermain di laga besar masih grogi. Sementara mesti berkibar cepat,” jelasnya.

Oke, dana tidak masalah, tapi waktunya terbatas. Dan waktu tidak bisa dibeli. Sebagus apapun skuatnya, perlu latihan, adaptasi dan komitmen. “Pernah kami cuma membawa 15 pemain saja. Beberapa tidak bisa hadir, alasan inilah itulah. Terus ada juga yang kena covid,” kenangnya.

Baca Juga :  Paman Birin Dilantik Malam Ini, Cetak Sejarah Pimpin KORMI Provinsi

Pesan pemilik untuk membawa nama Banua pun membuat mereka bertempur habis-habisan.

“Kekeluargaan di sini luar biasa. Semua bisa menyampingkan ego, demi satu tujuan, menang,” timpal kapten tim, Husain Mugni.

Mantan pemain Kalteng Putra itu membenarkan, persiapan mereka kurang matang. “Tapi masuk 32 besar, saya kira sudah hebat.

Bayangkan, beberapa kali kami harus turun hanya dengan empat pemain cadangan. Bahkan saya harus merangkap jadi pelatih,” ujarnya.

Saking inginnya menang, semua orang di klub ini merangkap banyak tugas. Bahkan striker harus bisa menjadi bek. Tim medis juga nyambi mengurusi hal lain.

“Melihat semangat ini, saya optimis kami bisa masuk Liga 2 tahun depan. Tahun ini kami jadikan pelajaran,” bebernya.

Menurut Husain, dukungan finansial adalah syarat penting dalam sepak bola. Soal itu, Batulicin Putera 69 tidak masalah.

Harapannya, akan semakin banyak kompetisi lokal di level kabupaten dan provinsi. “Futsal bagus untuk skill, tapi berbeda dengan sepak bola,” bebernya.

Kembali pada Chandra, ia menargetkan pengurangan pemain luar daerah secara bertahap. “Walaupun kehadiran pemain luar turut memotivasi pemain lokal,” ujarnya.

Dia sependapat dengan kapten timnya, promosi ke Liga 2 bukan perkara mustahil. “Pemain muda tidak mau kalah dengan pemain senior yang profesional, tinggal menambah menit bermain,” tekannya.

Soal jam terbang, jangankan pemain, pengurus pun masih baru. “Awalnya klub ini dibentuk 2006, namanya PS Tanbu Putra. Baru 2022 ini berganti nama. Para pengurus pun banyak yang baru,” bebernya.

Karena masih sama-sama hijau, mereka sempat emosi di beberapa laga. “Wasit tidak adil. Hampir terjadi bentrok,” ujarnya.

Pengalaman emosional di lapangan, terasa baru baginya. “Kami sudah merasakan sengitnya atmosfer nasional. Ini modal berharga,” pungkasnya. (zal/gr/fud)

PERSEMAR
Bangkit dari Mati Suri

BELASAN tahun mati suri, Persatuan Sepak bola Martapura (Persemar) bangkit dengan cara berkelas.

Tampil di Liga 3 Zona Kalsel tahun lalu, klub asal Kabupaten Banjar itu langsung juara dan berhak merumput ke babak selanjutnya.

Sayang, di zona nasional Persemar tidak mampu berbuat banyak. Sehingga gagal naik kasta ke Liga 2.
Tapi itu sudah cukup menjadi peringatan kepada penghuni Liga 3. Bahwa Persemar adalah lawan yang patut diperhitungkan.

Kebangkitan Persemar tak lepas dari tokoh pemuda Martapura, Muhammad Rofiqi. Dia sekarang yang memimpin tim yang berdiri tahun 1963 ini.

Sebelum menghidupkan kembali Persemar, Rofiqi sebenarnya ingin membeli Martapura FC (kini menjadi Dewa United).

Tapi setelah berpikir panjang, dia lebih memilih mengurus Persemar. Alasannya, merasa sayang dengan bakat-bakat muda di Martapura.

“Melalui Persemar, menyalurkan prestasi putra daerah ke level nasional,” katanya.

“Sayang, punya atlet hebat dan Stadion Demang Lehman yang bagus kalau tidak dimanfaatkan,” beber Ketua DPRD Banjar ini.

Saat ini, untuk kembali mengarungi Liga 3 Zona Kalsel, Persemar belum memanaskan mesin. Bahkan, Persemar ditinggal pelatih yang membawa mereka juara pada musim lalu, Ronnie Carvalho.

Carvalho meninggalkan Persemar lantaran kontraknya habis. “Kontrak saya selesai April tadi,” ujarnya.

Tapi dia yakin klub berjuluk Intan Martapura ini punya kans menembus zona nasional. “Apalagi jika disiapkan lebih matang lagi,” katanya.

Yang dia maksud, persiapan di semua lini. Didukung kepengurusan dan tim pelatih yang bagus. (ris/gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/