alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Kisah Nanda Bestari KKN di Desa Magalau Hulu Kotabaru

Beragam cara dilakukan mahasiswi dalam menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Nanda Bestari memilih mengabdi menjadi guru ngaji anak-anak desa.

Jumain, Kotabaru

Melakukan pengabdian di tempat baru memang tidak mudah. Apalagi beradaptasi dengan masyarakat yang baru saja dikenal.

Favehotel Banjarmasin

Pastinya dengan penuh kehati-hatian, khawatir tak bisa membawa diri. Itulah yang dirasakan Nanda Bestari (21).

Gadis cantik asal ibu kota Kotabaru ini harus mengabdi di Desa Magalau Hulu, Kecamatan Kelumpang Barat selama dua bulan untuk memenuhi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampusnya.

Dari kota ke tempatnya mengabdi perjalanan ditempuh sekitar empat jam menaiki motor. Bahkan terlebih dahulu harus menyeberang dengan kapal feri.

Nanda awalnya enggan mengikuti KKN karena tidak pernah terpisah lama dengan ibunya sejak kecil. Namun, keharusan pergi mengabdi tak bisa dihindari demi mendapatkan gelar sarjana dari STIT Darul Ulum Kotabaru.

Baca Juga :  Kopdar Usai Subuh Berjemaah, Sering Ziarah ke Makam Ulama

Nanda hanya ingat pesan kakeknya, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Artinya, kalau berada di kampung orang harus menghormati adat istiadatnya.

“Pesan di mana bumi dipijak langit dijunjung baru terasa saat saya sudah jauh dari orang tua dan rumah,” ungkapnya.
Setelah dua hari berkenalan mengelilingi desa, Nanda memilih memfokuskan diri menjadi seorang guru mengaji.

Menurutnya, menjadi guru mengaji ini menuntunnya untuk belajar keikhlasan. “Lagi-lagi saya ingat pesan kakek di rumah. Bukan hanya guru di sekolah, guru ngaji juga berperan besar dalam membentuk akhlak dan pribadi yang baik sejak dini,” ungkapnya.

Nanda tentu tanpa meminta imbalan ke muridnya. “Menurut saya, kalau menerima imbalan memang agak sulit bisa dikatakan ikhlas,” bandingnya.

Baca Juga :  Mengenal Sugiannor Pembuat Kapal Penghancur Gulma

Selain mengaji, Nanda juga juga mengajarkan doa sehari-hari. “Alhamdulillah anak-anak di sini sudah lumayan dalam membaca Al-Qur’an. Tinggal dipoles sedikit saja,” nilainya.

Nanda memiliki cara khusus agar muridnya kikuk belajar mengaji. Mengajak murid bercerita terlebih dahulu, dan menanyakan terkait cita-citanya. Setelah muridnya sudah mulai akrab, baru mengaji dimulai.

“Menjadi seorang guru mengaji bukan hanya sebagai profesi. Namun sudah menjadi kewajiban bagi kita yang sudah bisa dan lancar mengaji. Supaya ilmu yang kita miliki bisa menjadi lebih bermanfaat,” jelasnya.

Apalagi antara pengajar dan yang diajarkan sama-sama dijanjikan mendapatkan pahala. “Ini yang juga saya ungkapkan ke murid. Supaya setelah lancar nanti, mereka juga termotivasi mengajarkan kembali keilmuannya tentang mengaji,” tuntasnya.(az/dye)

Beragam cara dilakukan mahasiswi dalam menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Nanda Bestari memilih mengabdi menjadi guru ngaji anak-anak desa.

Jumain, Kotabaru

Melakukan pengabdian di tempat baru memang tidak mudah. Apalagi beradaptasi dengan masyarakat yang baru saja dikenal.

Favehotel Banjarmasin

Pastinya dengan penuh kehati-hatian, khawatir tak bisa membawa diri. Itulah yang dirasakan Nanda Bestari (21).

Gadis cantik asal ibu kota Kotabaru ini harus mengabdi di Desa Magalau Hulu, Kecamatan Kelumpang Barat selama dua bulan untuk memenuhi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampusnya.

Dari kota ke tempatnya mengabdi perjalanan ditempuh sekitar empat jam menaiki motor. Bahkan terlebih dahulu harus menyeberang dengan kapal feri.

Nanda awalnya enggan mengikuti KKN karena tidak pernah terpisah lama dengan ibunya sejak kecil. Namun, keharusan pergi mengabdi tak bisa dihindari demi mendapatkan gelar sarjana dari STIT Darul Ulum Kotabaru.

Baca Juga :  Mengenal Sugiannor Pembuat Kapal Penghancur Gulma

Nanda hanya ingat pesan kakeknya, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Artinya, kalau berada di kampung orang harus menghormati adat istiadatnya.

“Pesan di mana bumi dipijak langit dijunjung baru terasa saat saya sudah jauh dari orang tua dan rumah,” ungkapnya.
Setelah dua hari berkenalan mengelilingi desa, Nanda memilih memfokuskan diri menjadi seorang guru mengaji.

Menurutnya, menjadi guru mengaji ini menuntunnya untuk belajar keikhlasan. “Lagi-lagi saya ingat pesan kakek di rumah. Bukan hanya guru di sekolah, guru ngaji juga berperan besar dalam membentuk akhlak dan pribadi yang baik sejak dini,” ungkapnya.

Nanda tentu tanpa meminta imbalan ke muridnya. “Menurut saya, kalau menerima imbalan memang agak sulit bisa dikatakan ikhlas,” bandingnya.

Baca Juga :  Kopdar Usai Subuh Berjemaah, Sering Ziarah ke Makam Ulama

Selain mengaji, Nanda juga juga mengajarkan doa sehari-hari. “Alhamdulillah anak-anak di sini sudah lumayan dalam membaca Al-Qur’an. Tinggal dipoles sedikit saja,” nilainya.

Nanda memiliki cara khusus agar muridnya kikuk belajar mengaji. Mengajak murid bercerita terlebih dahulu, dan menanyakan terkait cita-citanya. Setelah muridnya sudah mulai akrab, baru mengaji dimulai.

“Menjadi seorang guru mengaji bukan hanya sebagai profesi. Namun sudah menjadi kewajiban bagi kita yang sudah bisa dan lancar mengaji. Supaya ilmu yang kita miliki bisa menjadi lebih bermanfaat,” jelasnya.

Apalagi antara pengajar dan yang diajarkan sama-sama dijanjikan mendapatkan pahala. “Ini yang juga saya ungkapkan ke murid. Supaya setelah lancar nanti, mereka juga termotivasi mengajarkan kembali keilmuannya tentang mengaji,” tuntasnya.(az/dye)

Most Read

Artikel Terbaru

/