alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Inflasi Kotabaru Tertinggi di Kalimantan, ini Penyebabnya..

BANJARBARU – Gara-gara harga serba naik, Mei tadi, Kalsel mengalami inflasi 0,65 persen. Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,16.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, ada tiga kota yang menjadi sampel IHK. Semuanya diterpa inflasi. “Kota Banjarmasin misalkan, terjadi inflasi 0,53 persen dengan IHK sebesar 113,00,” sebutnya.

Kemudian Kotabaru mengalami inflasi 1,23 persen dengan IHK 114,86 dan Tanjung sebesar 1,17 persen dengan IHK 112,87.

Favehotel Banjarmasin

“Di Kalimantan, seluruh kota memang mengalami inflasi. Tapi yang tertinggi terjadi di Kotabaru,” ujarnya.

Inflasi dipicu kenaikan harga dari 10 indeks kelompok pengeluaran. Yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,53 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,97 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,56 persen.

Kemudian, kelompok kesehatan sebesar 0,10 persen; kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,10 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,57 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman dan restoran sebesar 0,01 persen. Terakhir kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,82 persen.

Baca Juga :  Bisnis Pakaian Bekas Kembali Menggeliat

Yos menambahkan, komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi di Kalsel antara lain ikan gabus, bawang merah, ikan patin, ikan papuyu, telur ayam ras, daging ayam ras, ikan asin telang, kacang panjang, pakaian muslimah dan bahkan tiket bioskop.

Sebagai informasi, inflasi adalah peningkatan harga barang dan jasa secara terus-menerus hingga menyebabkan penurunan nilai uang.

Sementara IHK mengukur rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga. IHK kerap dijadikan acuan untuk menyusun perubahan upah dan pensiun. Serta mengetahui tingkat inflasi.
Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani bahkan memperkirakan, pada Juni ini bakal terjadi inflasi lagi.

“Karena ada beberapa komoditi yang masih mendorong inflasi. Yaitu daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah dan semua jenis cabai,” katanya.

Baca Juga :  Awal Pekan, Harga Emas Melemah

Inflasi pada bulan Mei sebesar 0,65 persen, sebenarnya lebih rendah dibandingkan April yang mencapai 1,15 persen.

“Karena awal Mei harga dan biaya lainnya sudah berangsur normal atau turun. Tapi sekarang naik lagi,” ucapnya.

Tingkat kenaikan harga barang di Kalsel terjadi secara tidak merata di semua kabupaten dan kota. “Karena tergantung besaran biaya transportasi dan angkutan dari tempat pembelian ke daerah masing-masing,” ujarnya.

Jadi, apa yang diperbuat Pemprov Kalsel? Dia menjawab menjaga ketersediaan barang dan kelancaran distribusi. “Serta menjalin kerja sama dan koordinasi dengan daerah penghasil, agar suplai bisa terus berjalan,” pungkasnya. (ris/gr/fud)

BANJARBARU – Gara-gara harga serba naik, Mei tadi, Kalsel mengalami inflasi 0,65 persen. Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,16.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, ada tiga kota yang menjadi sampel IHK. Semuanya diterpa inflasi. “Kota Banjarmasin misalkan, terjadi inflasi 0,53 persen dengan IHK sebesar 113,00,” sebutnya.

Kemudian Kotabaru mengalami inflasi 1,23 persen dengan IHK 114,86 dan Tanjung sebesar 1,17 persen dengan IHK 112,87.

Favehotel Banjarmasin

“Di Kalimantan, seluruh kota memang mengalami inflasi. Tapi yang tertinggi terjadi di Kotabaru,” ujarnya.

Inflasi dipicu kenaikan harga dari 10 indeks kelompok pengeluaran. Yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,53 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,97 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,56 persen.

Kemudian, kelompok kesehatan sebesar 0,10 persen; kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,10 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,57 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman dan restoran sebesar 0,01 persen. Terakhir kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,82 persen.

Baca Juga :  Ekspor-Impor Kalsel Naik

Yos menambahkan, komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi di Kalsel antara lain ikan gabus, bawang merah, ikan patin, ikan papuyu, telur ayam ras, daging ayam ras, ikan asin telang, kacang panjang, pakaian muslimah dan bahkan tiket bioskop.

Sebagai informasi, inflasi adalah peningkatan harga barang dan jasa secara terus-menerus hingga menyebabkan penurunan nilai uang.

Sementara IHK mengukur rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga. IHK kerap dijadikan acuan untuk menyusun perubahan upah dan pensiun. Serta mengetahui tingkat inflasi.
Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani bahkan memperkirakan, pada Juni ini bakal terjadi inflasi lagi.

“Karena ada beberapa komoditi yang masih mendorong inflasi. Yaitu daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah dan semua jenis cabai,” katanya.

Baca Juga :  Pasokan Turun Ratusan Ton, Harga Bawang Merah Melambung

Inflasi pada bulan Mei sebesar 0,65 persen, sebenarnya lebih rendah dibandingkan April yang mencapai 1,15 persen.

“Karena awal Mei harga dan biaya lainnya sudah berangsur normal atau turun. Tapi sekarang naik lagi,” ucapnya.

Tingkat kenaikan harga barang di Kalsel terjadi secara tidak merata di semua kabupaten dan kota. “Karena tergantung besaran biaya transportasi dan angkutan dari tempat pembelian ke daerah masing-masing,” ujarnya.

Jadi, apa yang diperbuat Pemprov Kalsel? Dia menjawab menjaga ketersediaan barang dan kelancaran distribusi. “Serta menjalin kerja sama dan koordinasi dengan daerah penghasil, agar suplai bisa terus berjalan,” pungkasnya. (ris/gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/