alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Pernah Menangani Kasus Rebutan Jenazah

Mengenal MCI, Tempat Bernaung Mualaf di Kalsel

Eksis sejak 2016, komunitas ini telah menjadi rumah bagi ribuan mualaf di Kalsel. MCI juga membina mualaf yang bermukim di pedalaman pegunungan Meratus.

MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru

Turunan dari Mualaf Center Indonesia ini, MCI Regional Kalimantan Selatan terus membina mualaf di Banua. Anggota tersebar nyaris di 13 kabupaten dan kota.

Favehotel Banjarmasin

Jumlahnya seribu orang. Tapi mulanya, komunitas yang beralih status menjadi yayasan itu hanya dihuni tujuh orang. Berdiri pada Februari 2016 lalu di Kota Banjarbaru.

“Di Kalsel dirintis sejak 2015 oleh seorang mualafah, Lesa Mara Pepe. Beliau seorang penulis novel. Lalu juga ada beberapa mualaf senior Bu Ukira, Pak Arsono, dan dibina Ustaz Lugiarto dan Ustaz Hasanul Basri,” kata Ketua Umum MCI Kalsel, Akhmad Azhar Basyir.

Latar belakangnya, berawal dari keprihatinan muafal. Mereka memandang perlu ada ruang diskusi antar sesama mualaf yang dibina seorang guru.

Baca Juga :  Kalah Bersaing dengan Jalan Aspal, Motoris Speedboat Menyambut Masa Senja

“Jadi berangkat dari keprihatinan para mualaf. Setelah disyahadatkan sering tidak mendapat pembinaan secara maksimal dari kaum muslimin. Mualaf bingung dan merasa sendirian menghadapi ujian hidup yang datang dari keluarga, lingkungan, dan tempat kerja setelah berpindah agama,” ceritanya.

Mereka kemudian berinisiatif mendirikan komunitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka. “Kegiatannya seperti pembelajaran dasar-dasar Islam. Dari Rukun Islam, Rukun Iman, tata cara salat dan thaharah (wudu, tayamum, mandi junub). Kemudian belajar membaca Al-Qur’an dengan baik,” katanya.

Kian kesini, program MCI terus berkembang. Berupaya menyentuh sektor-sektor yang dinilai dapat membantu para mualaf di Banua.

Semisal pemberdayaan ekonomi, “Menjalin kerja sama untuk memberikan bantuan modal usaha atau pekerjaan untuk mualaf yang membutuhkan.” Yang sedang dikembangkan adalah pendampingan di ranah hukum. Untuk mengatasi persoalan rumah tangga, hukum waris, hingga pemakaman.

Baca Juga :  Cerita Pedagang Kopi Keliling di Kayu Tangi: Menjaga Perasaan Pemilik Warung

“Sempat dapat kasus rebutan jenazah mualaf. Karena keluarganya kukuh menganggap si mayyit belum masuk Islam. tapi dengan bukti dokumen negara (KTP dan buku nikah), akhirnya tim MCI bisa menguburkan si mayyit secara Islam,” ceritanya.

Di Banjarbaru, MCI punya shelter. Sebuah penampungan sementara bagi mualaf yang “kehilangan” tempat tinggal akibat keputusannya memilih Islam. “Shelter ini berada di wilayah Sungai Besar yang diresmikan tahun 2018 lalu,” sebutnya.

Lalu, bagaimana menjangkau mualaf yang berada jauh di kaki pegunungan atau hutan pedalaman Meratus? MCI menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama dan guru agama setempat. “Karena guru agama setempat lebih paham situasi. Medan dan adat istiadat setempat untuk membina mualaf di sana,” pungkasnya. (gr/fud)

Eksis sejak 2016, komunitas ini telah menjadi rumah bagi ribuan mualaf di Kalsel. MCI juga membina mualaf yang bermukim di pedalaman pegunungan Meratus.

MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru

Turunan dari Mualaf Center Indonesia ini, MCI Regional Kalimantan Selatan terus membina mualaf di Banua. Anggota tersebar nyaris di 13 kabupaten dan kota.

Favehotel Banjarmasin

Jumlahnya seribu orang. Tapi mulanya, komunitas yang beralih status menjadi yayasan itu hanya dihuni tujuh orang. Berdiri pada Februari 2016 lalu di Kota Banjarbaru.

“Di Kalsel dirintis sejak 2015 oleh seorang mualafah, Lesa Mara Pepe. Beliau seorang penulis novel. Lalu juga ada beberapa mualaf senior Bu Ukira, Pak Arsono, dan dibina Ustaz Lugiarto dan Ustaz Hasanul Basri,” kata Ketua Umum MCI Kalsel, Akhmad Azhar Basyir.

Latar belakangnya, berawal dari keprihatinan muafal. Mereka memandang perlu ada ruang diskusi antar sesama mualaf yang dibina seorang guru.

Baca Juga :  Cerita Pedagang Kopi Keliling di Kayu Tangi: Menjaga Perasaan Pemilik Warung

“Jadi berangkat dari keprihatinan para mualaf. Setelah disyahadatkan sering tidak mendapat pembinaan secara maksimal dari kaum muslimin. Mualaf bingung dan merasa sendirian menghadapi ujian hidup yang datang dari keluarga, lingkungan, dan tempat kerja setelah berpindah agama,” ceritanya.

Mereka kemudian berinisiatif mendirikan komunitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka. “Kegiatannya seperti pembelajaran dasar-dasar Islam. Dari Rukun Islam, Rukun Iman, tata cara salat dan thaharah (wudu, tayamum, mandi junub). Kemudian belajar membaca Al-Qur’an dengan baik,” katanya.

Kian kesini, program MCI terus berkembang. Berupaya menyentuh sektor-sektor yang dinilai dapat membantu para mualaf di Banua.

Semisal pemberdayaan ekonomi, “Menjalin kerja sama untuk memberikan bantuan modal usaha atau pekerjaan untuk mualaf yang membutuhkan.” Yang sedang dikembangkan adalah pendampingan di ranah hukum. Untuk mengatasi persoalan rumah tangga, hukum waris, hingga pemakaman.

Baca Juga :  Kalah Bersaing dengan Jalan Aspal, Motoris Speedboat Menyambut Masa Senja

“Sempat dapat kasus rebutan jenazah mualaf. Karena keluarganya kukuh menganggap si mayyit belum masuk Islam. tapi dengan bukti dokumen negara (KTP dan buku nikah), akhirnya tim MCI bisa menguburkan si mayyit secara Islam,” ceritanya.

Di Banjarbaru, MCI punya shelter. Sebuah penampungan sementara bagi mualaf yang “kehilangan” tempat tinggal akibat keputusannya memilih Islam. “Shelter ini berada di wilayah Sungai Besar yang diresmikan tahun 2018 lalu,” sebutnya.

Lalu, bagaimana menjangkau mualaf yang berada jauh di kaki pegunungan atau hutan pedalaman Meratus? MCI menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama dan guru agama setempat. “Karena guru agama setempat lebih paham situasi. Medan dan adat istiadat setempat untuk membina mualaf di sana,” pungkasnya. (gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/