alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Sumbatan Sampah di Sungai Gagalkan Pertanian

KANDANGAN – Penyumbatan aliran sungai karena tumpukan sampah terjadi di Wawaran, Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Akibatnya, para petani mengeluhkan lahan pertaniannya tergenang air. Tidak bisa bercocok tanam.

Petani setempat, Salehuddin mengatakan meluapnya air sungai ketika hujan sekaligus menggenangi lahan pertanian sudah beberapa tahun terakhir terjadi. “Sampah menumpuk datang dari daerah hilir, ditambah rerumputan yang tinggi hingga terjadi pendangkalan. Apabila hujan maka akan meluap dan menggenangi lahan pertanian,” katanya.

Padahal sebelumnya, para petani bisa bercocok tanam dua sampai tiga kali dalam setahun. “Tapi, sekarang sudah susah bercocok tanam,” tuturnya. Para petani, khususnya ibu-ibu, akhirnya ada yang memilih pindah profesi sebagai buruh pembibitan tanaman sayur-sayuran.

Baca Juga :  Lahan Pertanian Warga di Matang Hambawang Masih Tertimbun Lumpur
Favehotel Banjarmasin

Camat Angkinang, Sabilarrasad mengakui penyumbatan sungai karena sampah atau raba sudah terjadi beberapa tahun terakhir. “Warga sering diimbau supaya tidak membuang sampah ke sungai. Karena sungai ini hulunya di Kecamatan Telaga Langsat,” ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) HSS, Tedy Soetedjo mengatakan pihaknya selalu membersihkan tumpukan raba saat musim penghujan. “Setiap ada keluhan, kami akan langsung tangani,” ujarnya.

Supaya tidak terus terulang, rencananya dilakukan normalisasi sungai Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang sepanjang 11.970 meter pada tahun ini. Bahkan ada pembuatan satu pintu air. “Dengan normalisasi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air lahan pertanian seluas 192 hektare,” katanya.(shn/az/dye)

Baca Juga :  Olah Ampas Sawit Jadi Pakan Ternak

KANDANGAN – Penyumbatan aliran sungai karena tumpukan sampah terjadi di Wawaran, Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Akibatnya, para petani mengeluhkan lahan pertaniannya tergenang air. Tidak bisa bercocok tanam.

Petani setempat, Salehuddin mengatakan meluapnya air sungai ketika hujan sekaligus menggenangi lahan pertanian sudah beberapa tahun terakhir terjadi. “Sampah menumpuk datang dari daerah hilir, ditambah rerumputan yang tinggi hingga terjadi pendangkalan. Apabila hujan maka akan meluap dan menggenangi lahan pertanian,” katanya.

Padahal sebelumnya, para petani bisa bercocok tanam dua sampai tiga kali dalam setahun. “Tapi, sekarang sudah susah bercocok tanam,” tuturnya. Para petani, khususnya ibu-ibu, akhirnya ada yang memilih pindah profesi sebagai buruh pembibitan tanaman sayur-sayuran.

Baca Juga :  Olah Ampas Sawit Jadi Pakan Ternak
Favehotel Banjarmasin

Camat Angkinang, Sabilarrasad mengakui penyumbatan sungai karena sampah atau raba sudah terjadi beberapa tahun terakhir. “Warga sering diimbau supaya tidak membuang sampah ke sungai. Karena sungai ini hulunya di Kecamatan Telaga Langsat,” ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) HSS, Tedy Soetedjo mengatakan pihaknya selalu membersihkan tumpukan raba saat musim penghujan. “Setiap ada keluhan, kami akan langsung tangani,” ujarnya.

Supaya tidak terus terulang, rencananya dilakukan normalisasi sungai Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang sepanjang 11.970 meter pada tahun ini. Bahkan ada pembuatan satu pintu air. “Dengan normalisasi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air lahan pertanian seluas 192 hektare,” katanya.(shn/az/dye)

Baca Juga :  Peran Generasi Milenial Bantu Wujudkan Pertanian Modern

Most Read

Artikel Terbaru

/