alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Awal Mula Tradisi Menyajikan 41 Macam Wadai di Kalsel

ADA beragam tradisi unik yang patut diulik dari Kalimantan Selatan. Satu di antaranya tradisi menyajikan 41 macam wadai. Terdengar tidak asing, tapi belum tentu paham betul.

Menyajikan wadai 41 macam adalah tradisinya Urang Banjar. Diturunkan sejak zaman Kesultanan Banjar pada abad ke-16.
“Tradisi menyajikan 41 macam wadai sudah ada sejak lama, bahkan dari zaman kerajaan Banjar,” tutur Masni, guru Tata Boga SMKN 4 Banjarmasin.

Wadai 41 merupakan sebutan untuk 41 macam kue basah khas Kalsel. Disajikan sekaligus dalam satu waktu. “Wadai 41 macam biasanya disajikan saat momen-momen khusus,” tambah Masni. Bukan sekadar urusan mengisi perut, 41 macam wadai ini mengandung makna khusus. Makanya disajikan pada momen-momen spesial.

Favehotel Banjarmasin

Sebagai wujud syukur dalam merayakan momen tertentu, juga sebagai pelengkap ritual budaya. Seperti upacara adat, pernikahan, tujuh bulanan dan mandi-mandi. Angka 41 dalam penamaan tradisi ini sendiri memiliki beragam versi penjelasan. Dalam keseharian orang Banjar, 41 merupakan angka yang sakral, sama halnya seperti hari ke-41.

Baca Juga :  Kota Yang Hilang di Sebelimbingan

Selain itu, ada pula yang menafsirkan bahwa jumlah wadai yang lazim disajikan dalam perayaan orang Banjar memang berjumlah 41 jenis. “Dan tradisi itu yang turun-temurun dilakukan hingga sekarang,” tambah Masni.
Jenis 41 macam wadai tersebut meliputi bingka, bingka berandam, kararaban, kikicak, bulungan hayam, kelalapon, cingkarok batu, wajik, apam, undi undi, untuk untuk, sarimuka, wadai balapis, cincin, cucur, lamang, gagatas, gaguduh, dan ronde.

Lalu ilat sapi, garigit, sasagun, lupis, pais pisang, hintalu karuang, wadai satu, gincil, katupat balamak, bubur sagu, serabi, putri selat, patah, pais sagu, pais waluh, dadar gulung, agar agar habang, wadai gayam, amparan tatak, pundut dan ipau.

Banyak di antara jenis kue basah tersebut masih bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional. Namun, sekali lagi penyajian komplet untuk 41 jenis kue ini hanya ada pada momen tertentu saja.
Keanekaragaraman jenis wadai ini juga menggambarkan kekayaan tradisi kuliner masyarakat Banjar. Adapun bahan dan pengolahan kue tersebut tidak sekadarnya.

Baca Juga :  Rimbun Tulang, Nama Desa di Batola yang Masih Jadi Misteri

“Selain mengenalkan ragam kuliner Banjar, 41 macam wadai ini juga tidak diolah sembarangan, biasanya ada aturan khusus atau pantangannya,” ujar Masni.

Salah satu yang paling melekat yakni pantangan mengolah kue jika sedang masa haid. Karena pembuatan wadai 41 adalah momen yang sakral dan harus dibuat dalam keadaan yang prima.

“Jadi yang sedang datang bulan atau berpuasa tidak boleh ikut memegang atau mengolah,” tambahnya.
Selain itu, wadai 41 macam juga terdiri dari berbagai varian warna. Masing-masing disebut mengandung makna filosofis yang erat dengan kehidupan orang Banjar.

Wadai berwarna putih seperti getas dan kentan menggambarkan kebaikan, sementara merah menggambarkan keberanian. Kemudian hijau melambangkan kemakmuran dan kuning merupakan lambang kejayaan atau kemuliaan. (tia/gr/fud)

ADA beragam tradisi unik yang patut diulik dari Kalimantan Selatan. Satu di antaranya tradisi menyajikan 41 macam wadai. Terdengar tidak asing, tapi belum tentu paham betul.

Menyajikan wadai 41 macam adalah tradisinya Urang Banjar. Diturunkan sejak zaman Kesultanan Banjar pada abad ke-16.
“Tradisi menyajikan 41 macam wadai sudah ada sejak lama, bahkan dari zaman kerajaan Banjar,” tutur Masni, guru Tata Boga SMKN 4 Banjarmasin.

Wadai 41 merupakan sebutan untuk 41 macam kue basah khas Kalsel. Disajikan sekaligus dalam satu waktu. “Wadai 41 macam biasanya disajikan saat momen-momen khusus,” tambah Masni. Bukan sekadar urusan mengisi perut, 41 macam wadai ini mengandung makna khusus. Makanya disajikan pada momen-momen spesial.

Favehotel Banjarmasin

Sebagai wujud syukur dalam merayakan momen tertentu, juga sebagai pelengkap ritual budaya. Seperti upacara adat, pernikahan, tujuh bulanan dan mandi-mandi. Angka 41 dalam penamaan tradisi ini sendiri memiliki beragam versi penjelasan. Dalam keseharian orang Banjar, 41 merupakan angka yang sakral, sama halnya seperti hari ke-41.

Baca Juga :  Sejarah Kelam Hotel Tengah Kota

Selain itu, ada pula yang menafsirkan bahwa jumlah wadai yang lazim disajikan dalam perayaan orang Banjar memang berjumlah 41 jenis. “Dan tradisi itu yang turun-temurun dilakukan hingga sekarang,” tambah Masni.
Jenis 41 macam wadai tersebut meliputi bingka, bingka berandam, kararaban, kikicak, bulungan hayam, kelalapon, cingkarok batu, wajik, apam, undi undi, untuk untuk, sarimuka, wadai balapis, cincin, cucur, lamang, gagatas, gaguduh, dan ronde.

Lalu ilat sapi, garigit, sasagun, lupis, pais pisang, hintalu karuang, wadai satu, gincil, katupat balamak, bubur sagu, serabi, putri selat, patah, pais sagu, pais waluh, dadar gulung, agar agar habang, wadai gayam, amparan tatak, pundut dan ipau.

Banyak di antara jenis kue basah tersebut masih bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional. Namun, sekali lagi penyajian komplet untuk 41 jenis kue ini hanya ada pada momen tertentu saja.
Keanekaragaraman jenis wadai ini juga menggambarkan kekayaan tradisi kuliner masyarakat Banjar. Adapun bahan dan pengolahan kue tersebut tidak sekadarnya.

Baca Juga :  Kota Yang Hilang di Sebelimbingan

“Selain mengenalkan ragam kuliner Banjar, 41 macam wadai ini juga tidak diolah sembarangan, biasanya ada aturan khusus atau pantangannya,” ujar Masni.

Salah satu yang paling melekat yakni pantangan mengolah kue jika sedang masa haid. Karena pembuatan wadai 41 adalah momen yang sakral dan harus dibuat dalam keadaan yang prima.

“Jadi yang sedang datang bulan atau berpuasa tidak boleh ikut memegang atau mengolah,” tambahnya.
Selain itu, wadai 41 macam juga terdiri dari berbagai varian warna. Masing-masing disebut mengandung makna filosofis yang erat dengan kehidupan orang Banjar.

Wadai berwarna putih seperti getas dan kentan menggambarkan kebaikan, sementara merah menggambarkan keberanian. Kemudian hijau melambangkan kemakmuran dan kuning merupakan lambang kejayaan atau kemuliaan. (tia/gr/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/