alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Penyebar Islam Pertama di Balangan

SURYA SAKTI MANGKUALAM, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Kabupaten Balangan dengan sebutan Datu Kandang Haji, diketahui merupakan penyiar Islam pertama di tanah Bumi Sanggam.

Menurut keturunan Datu Kandang Haji, Asmaran, yang selalu membacakan manaqib Datu yang makamnya sepanjang 2,5 meter ini, bahwa pada zaman dahulu di wilayah Balangan para penduduknya masih menganut agama Hindu.

Datuk Kandang Haji sendiri memiliki delapan saudara, diantaranya Datu Limpai Susu, Ayamah, Gragampa Alam, Surya Tadung Wani, Satia Karsa, Palumbaran, Tamiyang, dan Dayang Marak.

Favehotel Banjarmasin

Kehidupan sembilan bersaudara ini mulanya berjalan harmonis, hingga pada suatu hari terjadi perselisihan yang berakibat dikucilkannya Datu Kandang Haji.

“Perselisihan itu rupanya membawa berkah bagi Datu yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT untuk memeluk agama Islam. Pasca mendapatkan hidayah, Datu Kandang Haji kemudian pergi ke Mekah guna menuntut ilmu,” ujarnya dalam manaqib.

Baca Juga :  Jejak Bahasa Penjajah di HSS

Selama tinggal di Makkah, diriwatkan bahwa selain menuntut ilmu ke beberapa ulama yang terkenal pada zamannya, Surya Sakti Mangkualam juga menunaikan ibadah haji setiap tahunnya selama bermukim di tanah suci.

Dari kebiasaannya yang selalu menunaikan ibadah haji itulah, kemudian salah seorang gurunya memberikannya gelar Datu Kandang Haji.

Sepulang dari Mekah ke kampung halamannya, Datu kemudian menyebarkan ilmu yang sudah didapatkan untuk menyiarkan agama Islam di dataran tinggi Balangan sampai ke Tanah Luruh di sebelah utara.

“Beliau tanpa pernah lelah dan selalu giat mendakwahkan Islam,” kata Asmaran dalam membacakan manaqibnya.

Disebutkan juga dalam manaqibnya, tak seorang pun yang tau tanggal lahir dan wafatnya Datu Kandang Haji. Namun diyakini Datu meninggal pada 6 Jumadi Awal, sehingga pada tanggal itu selalu digelar haulan Datu Kandang Haji yang didatangi ribuan jemaah bukan hanya dari Kalsel namun juga Provinsi lainnya.

Baca Juga :  Kyai Hasbullah dari Sungai Pandan

Bukti bisu terkait keberadaan sosok Datu Kandang Haji sendiri masih bisa ditemui saat ini, mulai dari kitab suci Alquran yang ditulis tangan oleh Datu Kandang Haji, serta beberapa buah bangunan masjid yang pernah dibangunnya bersama warga masyarakat.

Masjid Al-Mukarramah, Masjid Jannatul Ma’wa, dan Masjid Siraajul Huda yang tertua di Balangan merupakan peninggalan Datu Kandang Haji yang bermakam di Desa Teluk Bayur Kecamatan Juai. (why/by/ran)

SURYA SAKTI MANGKUALAM, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Kabupaten Balangan dengan sebutan Datu Kandang Haji, diketahui merupakan penyiar Islam pertama di tanah Bumi Sanggam.

Menurut keturunan Datu Kandang Haji, Asmaran, yang selalu membacakan manaqib Datu yang makamnya sepanjang 2,5 meter ini, bahwa pada zaman dahulu di wilayah Balangan para penduduknya masih menganut agama Hindu.

Datuk Kandang Haji sendiri memiliki delapan saudara, diantaranya Datu Limpai Susu, Ayamah, Gragampa Alam, Surya Tadung Wani, Satia Karsa, Palumbaran, Tamiyang, dan Dayang Marak.

Favehotel Banjarmasin

Kehidupan sembilan bersaudara ini mulanya berjalan harmonis, hingga pada suatu hari terjadi perselisihan yang berakibat dikucilkannya Datu Kandang Haji.

“Perselisihan itu rupanya membawa berkah bagi Datu yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT untuk memeluk agama Islam. Pasca mendapatkan hidayah, Datu Kandang Haji kemudian pergi ke Mekah guna menuntut ilmu,” ujarnya dalam manaqib.

Baca Juga :  Makam Sultan Bergabung ke UPT Kawasan Wisata

Selama tinggal di Makkah, diriwatkan bahwa selain menuntut ilmu ke beberapa ulama yang terkenal pada zamannya, Surya Sakti Mangkualam juga menunaikan ibadah haji setiap tahunnya selama bermukim di tanah suci.

Dari kebiasaannya yang selalu menunaikan ibadah haji itulah, kemudian salah seorang gurunya memberikannya gelar Datu Kandang Haji.

Sepulang dari Mekah ke kampung halamannya, Datu kemudian menyebarkan ilmu yang sudah didapatkan untuk menyiarkan agama Islam di dataran tinggi Balangan sampai ke Tanah Luruh di sebelah utara.

“Beliau tanpa pernah lelah dan selalu giat mendakwahkan Islam,” kata Asmaran dalam membacakan manaqibnya.

Disebutkan juga dalam manaqibnya, tak seorang pun yang tau tanggal lahir dan wafatnya Datu Kandang Haji. Namun diyakini Datu meninggal pada 6 Jumadi Awal, sehingga pada tanggal itu selalu digelar haulan Datu Kandang Haji yang didatangi ribuan jemaah bukan hanya dari Kalsel namun juga Provinsi lainnya.

Baca Juga :  Tumenggung Jalil, Panglima yang Terlupakan

Bukti bisu terkait keberadaan sosok Datu Kandang Haji sendiri masih bisa ditemui saat ini, mulai dari kitab suci Alquran yang ditulis tangan oleh Datu Kandang Haji, serta beberapa buah bangunan masjid yang pernah dibangunnya bersama warga masyarakat.

Masjid Al-Mukarramah, Masjid Jannatul Ma’wa, dan Masjid Siraajul Huda yang tertua di Balangan merupakan peninggalan Datu Kandang Haji yang bermakam di Desa Teluk Bayur Kecamatan Juai. (why/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/