alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Kyai Hasbullah dari Sungai Pandan

AMUNTAI – Bangsa yang besar, bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Nah, tahulah pian, di Alabio Kecamatan Sungai Pandan HSU, ada sosok ulama nasionalis yang membangkitkan semangat juang pemuda Alabio dalam mempertahankan tanah air.

Adalah KH Hasbullah Yasin, konseptor perlawanan terhadap organisasi semi militer yang dibentuk Belanda, Netherlands-Indies Civiele Administration (NICA) pada 27 November 1945.

Pemerhati Sejarah Lokal HSU Ahdiyat Gazali Rahman, mengatakan usai proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, saat itu Kyai Hasbullah Yasin, ikut mempelopori upacara bendera dan pawai kemerdekaan. Saat itu tanggal 5 Oktober 1945, atau dua bulan setelah kemerdekaan diumumkan.

Favehotel Banjarmasin

Upacara itu diawali dengan menaikkan bendera merah putih. Kyai Hasbullah menyampaikan pidato. Pada pidatonya dia menyerukan, masyarakat agar berjuang dan berkorban untuk merebut kemerdekaan.

“Beliau dikenal sebagai pemersatu warga Alabio, saat itu. Dan juga dikenal sebagai motor penggerak terbentuk ‘Pasukan Berani Mati’, untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda dan sekutu yang membonceng pasca kemerdekaan,” sampainya.

Baca Juga :  Warga Rindu Ziarah di Kubah Guru Sekumpul

Karena aksinya NICA saat itu, mengeluarkan pengumuman yang melarang masyarakat berkumpul bila tidak mendapatkan izin otoritas pada saat itu.

Tapi, larangan Belanda tersebut tidak membuat Kyai Hasbullah kapok. Pada tanggal 27 Oktober 1945, bersama Bastami Jantera, H Juhri Mahfuz, Dachlan Sa’al, dan beberapa tokoh muda Alabio saat itu, mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi di rumah H Anang Busyra di Kampung Sungai Pandan.

Saat ini lokasi tersebut sebut Ahdiyat, berada di Desa Sungai Pandan Tengah Kecamatan Sungai Pandan, monumen kecil ada di depan salah satu rumah warga dimana rapat rahasia tersebut berlangsung.

Naha pada rapat itu, kemudian dibentuklah ‘Pasukan Berani Mati’. Sekali lagi sayangnya ungkap Kepsek SMA 1 Amuntai ini, rencana tersangka bocor ke tangan NICA. Alhasil Kyai Hasbullah menjadi target operasi Belanda.

Dari cerita dan referensi sejarah, Kyai Hasbullah, diminta menyerah oleh tentara NICA. Namun, dia menolak dan melakukan perlawanan walau tanpa senjata saat itu.

NICA kemudian melakukan pencarian terhadap sang kyai. Dia disergap oleh tentara Belanda atas penghianatan pribumi atau londo Ireng saat akan mengambil air wudhu di tepi Sungai Pandan untuk melaksanakan salat. “Jika tidak salah saat itu, salat Zuhur,” kata Ahdiyat yang mengatakan prasasti tertembaknya Kyai Hasbullah masih bisa dilihat di salah satu masjid di Tepi Sungai Pandan

Baca Juga :  Asal Usul Pulau Datu

Kyai Hasbullah, gugur sebagai syuhada pada 27 Oktober 1945, dan dimakamkan di Desa Sungai Pandan Tengah. Lokasi pemakaman saat ini, dijadikan cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

Karena jasanya yang begitu besar dalam mempertahankan kemerdekaan RI, Presiden Soekarno saat itu, menganugerahkan Tanda Jasa Pahlawan dan Bintang Gerilya, serta pangkat Letnan I Anumerta pada Kyai Hasbullah pada 12 Agustus 1959 dengan surat No 175 Tahun 1955.

Untuk diketahui dari berbagai sumber di website, selama hidup, Kyai Hasbullah Yasin menikah dengan Hj Sabariah dan Hj Syarifah. Dari pernikahannya itu, beliau dikaruniai dua orang anak laki-laki, yaitu H Subki dan Muhammad Husni Abdullah. (mar/by/ran)

AMUNTAI – Bangsa yang besar, bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Nah, tahulah pian, di Alabio Kecamatan Sungai Pandan HSU, ada sosok ulama nasionalis yang membangkitkan semangat juang pemuda Alabio dalam mempertahankan tanah air.

Adalah KH Hasbullah Yasin, konseptor perlawanan terhadap organisasi semi militer yang dibentuk Belanda, Netherlands-Indies Civiele Administration (NICA) pada 27 November 1945.

Pemerhati Sejarah Lokal HSU Ahdiyat Gazali Rahman, mengatakan usai proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, saat itu Kyai Hasbullah Yasin, ikut mempelopori upacara bendera dan pawai kemerdekaan. Saat itu tanggal 5 Oktober 1945, atau dua bulan setelah kemerdekaan diumumkan.

Favehotel Banjarmasin

Upacara itu diawali dengan menaikkan bendera merah putih. Kyai Hasbullah menyampaikan pidato. Pada pidatonya dia menyerukan, masyarakat agar berjuang dan berkorban untuk merebut kemerdekaan.

“Beliau dikenal sebagai pemersatu warga Alabio, saat itu. Dan juga dikenal sebagai motor penggerak terbentuk ‘Pasukan Berani Mati’, untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda dan sekutu yang membonceng pasca kemerdekaan,” sampainya.

Baca Juga :  Warga Rindu Ziarah di Kubah Guru Sekumpul

Karena aksinya NICA saat itu, mengeluarkan pengumuman yang melarang masyarakat berkumpul bila tidak mendapatkan izin otoritas pada saat itu.

Tapi, larangan Belanda tersebut tidak membuat Kyai Hasbullah kapok. Pada tanggal 27 Oktober 1945, bersama Bastami Jantera, H Juhri Mahfuz, Dachlan Sa’al, dan beberapa tokoh muda Alabio saat itu, mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi di rumah H Anang Busyra di Kampung Sungai Pandan.

Saat ini lokasi tersebut sebut Ahdiyat, berada di Desa Sungai Pandan Tengah Kecamatan Sungai Pandan, monumen kecil ada di depan salah satu rumah warga dimana rapat rahasia tersebut berlangsung.

Naha pada rapat itu, kemudian dibentuklah ‘Pasukan Berani Mati’. Sekali lagi sayangnya ungkap Kepsek SMA 1 Amuntai ini, rencana tersangka bocor ke tangan NICA. Alhasil Kyai Hasbullah menjadi target operasi Belanda.

Dari cerita dan referensi sejarah, Kyai Hasbullah, diminta menyerah oleh tentara NICA. Namun, dia menolak dan melakukan perlawanan walau tanpa senjata saat itu.

NICA kemudian melakukan pencarian terhadap sang kyai. Dia disergap oleh tentara Belanda atas penghianatan pribumi atau londo Ireng saat akan mengambil air wudhu di tepi Sungai Pandan untuk melaksanakan salat. “Jika tidak salah saat itu, salat Zuhur,” kata Ahdiyat yang mengatakan prasasti tertembaknya Kyai Hasbullah masih bisa dilihat di salah satu masjid di Tepi Sungai Pandan

Baca Juga :  Mastora yang Dilupakan

Kyai Hasbullah, gugur sebagai syuhada pada 27 Oktober 1945, dan dimakamkan di Desa Sungai Pandan Tengah. Lokasi pemakaman saat ini, dijadikan cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

Karena jasanya yang begitu besar dalam mempertahankan kemerdekaan RI, Presiden Soekarno saat itu, menganugerahkan Tanda Jasa Pahlawan dan Bintang Gerilya, serta pangkat Letnan I Anumerta pada Kyai Hasbullah pada 12 Agustus 1959 dengan surat No 175 Tahun 1955.

Untuk diketahui dari berbagai sumber di website, selama hidup, Kyai Hasbullah Yasin menikah dengan Hj Sabariah dan Hj Syarifah. Dari pernikahannya itu, beliau dikaruniai dua orang anak laki-laki, yaitu H Subki dan Muhammad Husni Abdullah. (mar/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/