alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Kasus Sapi Sakit Menyebar, Sapi di Desa Bumi Jaya Di-Lockdown

PELAIHARI -Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tanah Laut terpaksa harus melockdown hewan ternak milik warga Desa Bumi Jaya, Kecamatan Pelaihari. Seluruh hewan tidak boleh keluar dari desa.

Kepala Desa Bumi Jaya, Mulyono membenarkan perihal tidak diperbolehkannya keluar ternak milik warganya, imbas dari ditemukannya gejala penyakit mulut dan kuku (PMK).”Sementara kita di lockdown dulu, jadi kita tidak boleh mengeluarkan sapi begitupun sebaliknya,” terangnya, Senin (23/5) di Kantornya.

Dia mengungkapkan, ternak sapi di desanya saat ini sudah ditangani oleh Disnakeswan Tala dengan memberikan vitamin dan juga obat-obatan, baik hewan yang terindikasi PMK maupun tidak.

Favehotel Banjarmasin

Menurutnya, kasus gejala PMK di desanya sudah ada 60 kasus. “Kemarin ada 43 kasus, hari ini ada penambahan 17 kasus,” sebutnya.

Baca Juga :  Isu PMK, Pasar Hewan Ditutup

Awal ditemukannya ternak diduga PMK ada di RT 4 pada tanggal 12 Mei lalu dan terus bertambah hingga ke RT yang lain.”Kini ada di RT 10, RT 3 dan RT 1B,” ujar Mulyono.

Sementara itu, drh Herwanto dari Balai Veteriner Banjarbaru mengatakan pihaknya sudah melakukan penanganan terhadap ternak-ternak milik warga Bumi Jaya sejak Jumat kemarin.

“Disini kami melakukan pengobatan, pencegahan dengan memberikan vitamin dan antibiotik. Karena saat ini belum ada vaksin untuk mengendalikan penyakit PMK,” bebernya.

Pemberian vitamin dan antibiotik hanya untuk menghilangkan infeksi-infeksi sekunder yang bisa menyebabkan kematian.”Hal itu kita cegah dengan pemberian multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan antibiotik untuk mencegah infeksi,” jelasnya.

Baca Juga :  Angka Kesembuhan Ternak Terduga PMK Terus Meningkat

Lebih lanjut Herwanto mengatakan, kecepatan sembuh ternak yang telah disuntik bervariasi, ada setelah disuntik langsung membaik dan ada juga yang perlu disuntik ulang.

“Karena kalau setelah tiga hari belum membaik maka akan dilakukan kembali penyuntikan. Makanya kita selalu melakukan pemantauan kepada ternak tersebut,” ujarnya.”Tetapi rata-rata penanganan yang kita lakukan hewan ternaknya menuju arah sembuh,” tambahnya.

Dikatakannya, ternak sapi yang paling rawan mati apabila terkena PMK adalah ketika usia pedet atau anak sapi.

“kemarin ada disini pedet yang mati, usianya sekitar dua minggu hal itu dikarenakan kurangnya asupan nutrisi. Sedangkan yang dewasa tidak ada karena tingkat kematiannya sangat rendah,” tutup Herwanto. (sal/by/ran)

PELAIHARI -Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tanah Laut terpaksa harus melockdown hewan ternak milik warga Desa Bumi Jaya, Kecamatan Pelaihari. Seluruh hewan tidak boleh keluar dari desa.

Kepala Desa Bumi Jaya, Mulyono membenarkan perihal tidak diperbolehkannya keluar ternak milik warganya, imbas dari ditemukannya gejala penyakit mulut dan kuku (PMK).”Sementara kita di lockdown dulu, jadi kita tidak boleh mengeluarkan sapi begitupun sebaliknya,” terangnya, Senin (23/5) di Kantornya.

Dia mengungkapkan, ternak sapi di desanya saat ini sudah ditangani oleh Disnakeswan Tala dengan memberikan vitamin dan juga obat-obatan, baik hewan yang terindikasi PMK maupun tidak.

Favehotel Banjarmasin

Menurutnya, kasus gejala PMK di desanya sudah ada 60 kasus. “Kemarin ada 43 kasus, hari ini ada penambahan 17 kasus,” sebutnya.

Baca Juga :  Isu PMK, Pasar Hewan Ditutup

Awal ditemukannya ternak diduga PMK ada di RT 4 pada tanggal 12 Mei lalu dan terus bertambah hingga ke RT yang lain.”Kini ada di RT 10, RT 3 dan RT 1B,” ujar Mulyono.

Sementara itu, drh Herwanto dari Balai Veteriner Banjarbaru mengatakan pihaknya sudah melakukan penanganan terhadap ternak-ternak milik warga Bumi Jaya sejak Jumat kemarin.

“Disini kami melakukan pengobatan, pencegahan dengan memberikan vitamin dan antibiotik. Karena saat ini belum ada vaksin untuk mengendalikan penyakit PMK,” bebernya.

Pemberian vitamin dan antibiotik hanya untuk menghilangkan infeksi-infeksi sekunder yang bisa menyebabkan kematian.”Hal itu kita cegah dengan pemberian multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan antibiotik untuk mencegah infeksi,” jelasnya.

Baca Juga :  3 Sapi di Tala Terindikasi Penyakit Mulut dan Kuku

Lebih lanjut Herwanto mengatakan, kecepatan sembuh ternak yang telah disuntik bervariasi, ada setelah disuntik langsung membaik dan ada juga yang perlu disuntik ulang.

“Karena kalau setelah tiga hari belum membaik maka akan dilakukan kembali penyuntikan. Makanya kita selalu melakukan pemantauan kepada ternak tersebut,” ujarnya.”Tetapi rata-rata penanganan yang kita lakukan hewan ternaknya menuju arah sembuh,” tambahnya.

Dikatakannya, ternak sapi yang paling rawan mati apabila terkena PMK adalah ketika usia pedet atau anak sapi.

“kemarin ada disini pedet yang mati, usianya sekitar dua minggu hal itu dikarenakan kurangnya asupan nutrisi. Sedangkan yang dewasa tidak ada karena tingkat kematiannya sangat rendah,” tutup Herwanto. (sal/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/