alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Retak yang Bikin Khawatir, Pelayanan IGD RSUD Tak Terganggu

BANJARMASIN – Tembok gedung Instalagi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Sultan Suriansyah retak-retak.

Terlihat di lantai tiga dan empat. Paling parah di lantai empat. Dari delapan ruangan, ada tujuh ruangan yang dindingnya retak. Tiga ruang bedah dan empat ruang penyakit dalam.

Pantauan Radar Banjarmasin, retakannya miring memanjang sepanjang satu meter.

Favehotel Banjarmasin

Ditemui Sabtu (21/5) lalu, Direktur RSUD Sultan Suriansyah, dr M Syaukani mengaku tidak mengetahui dengan pasti kapan retakan itu muncul. Alasannya, ia tergolong pejabat baru di sana.

Namun, ia sudah melaporkannya ke Bidang Pengawas Bangunan (Wasbang) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

“Kami sudah bersurat ke PUPR. Tim mereka sudah datang untuk memantau dan memeriksa,” jelasnya.

Hasilnya, PUPR menyatakan, keretakan itu tidak berpotensi memicu keruntuhan gedung.

“Setidaknya, itu jawaban lisan mereka. Saat ini, kami menunggu jawaban resmi. Untuk dijadikan acuan, apa yang mesti kami lakukan nanti. Semoga ada balasan cepat,” lanjutnya.

“Apapun jawabannya, kami ikuti. Karena mereka ahlinya. Kami tidak menguasai secara teknis masalah gedung itu,” tambahnya.

Dia menjamin, kerusakan itu tidak sampai mengganggu pelayanan kesehatan. “Pelayanan berjalan seperti biasa. Cuma tidak enak dilihat saja. Kan bisa membuat khawatir pasien dan pegawai,” sambungnya.

Keretakan bangunan rumah sakit di Jalan Rantauan Darat Kecamatan Banjarmasin Selatan itu juga disorot Dinas Kesehatan.

Baca Juga :  Diperkirakan Masih Banyak Korban Tertimbun Belum Ditemukan

Kepala Dinkes Banjarmasin, Muhammad Ramadhan mengaku sudah turun memantau. “Ditunggu saja rekomendasi dari PUPR seperti apa. Setelah itu, kami buat rencana tindak lanjut,” tukasnya.

Dia juga menegaskan, pasien tetap akan dilayani seperti biasa. “Dari hasil diskusi internal, diputuskan untuk memberikan pelayanan seperti biasa,” tutupnya.

Perlu diketahui, IGD ini rampung dibangun tahun 2016 lalu. (war/az/fud)

DEKAT JENDELA: Tembok retak di kamar pasien (foto utama). Keretakan di fasilitas IGD ini sudah diperiksa Dinas PUPR. Rekomendasinya menyatakan bangunan masih aman digunakan (insert).

Sebaiknya Dikosongkan Dulu

AKADEMISI Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrudin menyarankan agar bagian rumah sakit yang retak tidak difungsikan dulu.

“Sebaiknya dikosongkan sementara. Dikaji dahulu betul-betul. Hingga ada analisis geoteknik dari tim ahli,” kata dosen geografi itu melalui sambungan telepon kemarin (22/5).

“Saya rasa perlu ada evaluasi bangunan, karena retakannya terletak di lantai atas. Bentuknya diagonal dan muncul dalam proses pembangunan. Ada kemungkinan terjadi gangguan terhadap pondasi,” jelasnya.

“Perlu dilihat, apakah retakannya semakin memanjang atau melebar. Saran saya, kosongkan saja. Ketimbang mengambil risiko,” lanjutnya.

“Keretakan bangunan, baik vertikal, horizontal maupun diagonal patut diwaspadai agar tidak menimbulkan korban jiwa,” tambahnya.

Nasrudin juga menyarankan agar Pemko Banjarmasin dan Pemprov Kalsel membuat aturan yang jelas terkait batasan berapa lantai yang boleh didirikan.

Sebab, lahan di Banjarmasin terbilang labil. Dalam artian, geologinya dominan dibentuk oleh sungai dan rawa.

Baca Juga :  Bangunan Alfamart yang Ambruk Diduga Langgar IMB

Aktivitas di sekitar atau sepanjang alur sungai dengan pondasi dangkal, menurutnya akan berdampak buruk pada kestabilan bangunan. Belum lagi ancaman abrasi atau pengikisan karena air sungai.

“Berkembangnya bangunan permanen, seyogyanya tetap mengusung nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Banjar. Yaitu arsitektur panggung berbahan kayu atau kombinasi material permanen berbahan ringan,” jelasnya.

“Tinggi bangunan juga memiliki pengaruh pada beban bangunan. Sehingga perlu kebijakan pemerintah yang mengatur ketinggian maksimum bangunan pada wilayah rawa,” sarannya.

Sementara itu, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Banjarmasin, Agus Suyatno mengaku mengecek ke lokasi. Kesimpulan timnya, gedung rumah sakit masih aman digunakan.

Dijelaskannya, retakan dipicu sejumlah faktor. Baik getaran dari aktivitas pemancangan maupun pembangunan gedung pendukung di sekitarnya.

“Mungkin saja saat membangun gedung utama. Bisa pula karena pemancangan pondasi pembangunan siring menggunakan metode hammer,” jelasnya kemarin.

“Kemudian, retak hanya terjadi pada aksesori atau pembungkus tiang kanopi IGD. Karena kegiatan konstruksi dahulu, sengaja ditutup seperti membantuk tiang pancang. Padahal di dalamnya besi baja,” tukasnya.

Lantas, apa saran timnya? PUPR sudah melayangkan rekomendasi, bahwa cukup perbaikan saja.

“Surat rekomendasi sudah kami sampaikan sepekan yang lalu. Entah sudah diterima atau belum,” pungkasnya. (war/az/fud)

BANJARMASIN – Tembok gedung Instalagi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Sultan Suriansyah retak-retak.

Terlihat di lantai tiga dan empat. Paling parah di lantai empat. Dari delapan ruangan, ada tujuh ruangan yang dindingnya retak. Tiga ruang bedah dan empat ruang penyakit dalam.

Pantauan Radar Banjarmasin, retakannya miring memanjang sepanjang satu meter.

Favehotel Banjarmasin

Ditemui Sabtu (21/5) lalu, Direktur RSUD Sultan Suriansyah, dr M Syaukani mengaku tidak mengetahui dengan pasti kapan retakan itu muncul. Alasannya, ia tergolong pejabat baru di sana.

Namun, ia sudah melaporkannya ke Bidang Pengawas Bangunan (Wasbang) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

“Kami sudah bersurat ke PUPR. Tim mereka sudah datang untuk memantau dan memeriksa,” jelasnya.

Hasilnya, PUPR menyatakan, keretakan itu tidak berpotensi memicu keruntuhan gedung.

“Setidaknya, itu jawaban lisan mereka. Saat ini, kami menunggu jawaban resmi. Untuk dijadikan acuan, apa yang mesti kami lakukan nanti. Semoga ada balasan cepat,” lanjutnya.

“Apapun jawabannya, kami ikuti. Karena mereka ahlinya. Kami tidak menguasai secara teknis masalah gedung itu,” tambahnya.

Dia menjamin, kerusakan itu tidak sampai mengganggu pelayanan kesehatan. “Pelayanan berjalan seperti biasa. Cuma tidak enak dilihat saja. Kan bisa membuat khawatir pasien dan pegawai,” sambungnya.

Keretakan bangunan rumah sakit di Jalan Rantauan Darat Kecamatan Banjarmasin Selatan itu juga disorot Dinas Kesehatan.

Baca Juga :  Satu Bayi Dirawat Karena Covid-19, Ruang Isolasi RSDI Terisi Lagi

Kepala Dinkes Banjarmasin, Muhammad Ramadhan mengaku sudah turun memantau. “Ditunggu saja rekomendasi dari PUPR seperti apa. Setelah itu, kami buat rencana tindak lanjut,” tukasnya.

Dia juga menegaskan, pasien tetap akan dilayani seperti biasa. “Dari hasil diskusi internal, diputuskan untuk memberikan pelayanan seperti biasa,” tutupnya.

Perlu diketahui, IGD ini rampung dibangun tahun 2016 lalu. (war/az/fud)

DEKAT JENDELA: Tembok retak di kamar pasien (foto utama). Keretakan di fasilitas IGD ini sudah diperiksa Dinas PUPR. Rekomendasinya menyatakan bangunan masih aman digunakan (insert).

Sebaiknya Dikosongkan Dulu

AKADEMISI Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrudin menyarankan agar bagian rumah sakit yang retak tidak difungsikan dulu.

“Sebaiknya dikosongkan sementara. Dikaji dahulu betul-betul. Hingga ada analisis geoteknik dari tim ahli,” kata dosen geografi itu melalui sambungan telepon kemarin (22/5).

“Saya rasa perlu ada evaluasi bangunan, karena retakannya terletak di lantai atas. Bentuknya diagonal dan muncul dalam proses pembangunan. Ada kemungkinan terjadi gangguan terhadap pondasi,” jelasnya.

“Perlu dilihat, apakah retakannya semakin memanjang atau melebar. Saran saya, kosongkan saja. Ketimbang mengambil risiko,” lanjutnya.

“Keretakan bangunan, baik vertikal, horizontal maupun diagonal patut diwaspadai agar tidak menimbulkan korban jiwa,” tambahnya.

Nasrudin juga menyarankan agar Pemko Banjarmasin dan Pemprov Kalsel membuat aturan yang jelas terkait batasan berapa lantai yang boleh didirikan.

Sebab, lahan di Banjarmasin terbilang labil. Dalam artian, geologinya dominan dibentuk oleh sungai dan rawa.

Baca Juga :  Bangunan Alfamart yang Ambruk Diduga Langgar IMB

Aktivitas di sekitar atau sepanjang alur sungai dengan pondasi dangkal, menurutnya akan berdampak buruk pada kestabilan bangunan. Belum lagi ancaman abrasi atau pengikisan karena air sungai.

“Berkembangnya bangunan permanen, seyogyanya tetap mengusung nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Banjar. Yaitu arsitektur panggung berbahan kayu atau kombinasi material permanen berbahan ringan,” jelasnya.

“Tinggi bangunan juga memiliki pengaruh pada beban bangunan. Sehingga perlu kebijakan pemerintah yang mengatur ketinggian maksimum bangunan pada wilayah rawa,” sarannya.

Sementara itu, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Banjarmasin, Agus Suyatno mengaku mengecek ke lokasi. Kesimpulan timnya, gedung rumah sakit masih aman digunakan.

Dijelaskannya, retakan dipicu sejumlah faktor. Baik getaran dari aktivitas pemancangan maupun pembangunan gedung pendukung di sekitarnya.

“Mungkin saja saat membangun gedung utama. Bisa pula karena pemancangan pondasi pembangunan siring menggunakan metode hammer,” jelasnya kemarin.

“Kemudian, retak hanya terjadi pada aksesori atau pembungkus tiang kanopi IGD. Karena kegiatan konstruksi dahulu, sengaja ditutup seperti membantuk tiang pancang. Padahal di dalamnya besi baja,” tukasnya.

Lantas, apa saran timnya? PUPR sudah melayangkan rekomendasi, bahwa cukup perbaikan saja.

“Surat rekomendasi sudah kami sampaikan sepekan yang lalu. Entah sudah diterima atau belum,” pungkasnya. (war/az/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/