alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Tahulah Pian?

Tradisi Batumbang Apam di HST

Batumbang Apam adalah sebuah tradisi bagi anak-anak suku Banjar yang ada di Desa Pajukungan, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST).

Batumbang apam biasanya dilaksanakan dalam dua waktu. Yakni setiap bulan 10 Dzulhijjah dan setelah salat idulfitri. Batumbang apam dilaksanakan sebagai hajat dari para orang tua kepada sang anak untuk mendapat berkah dari Allah SWT. Harapannya menjadi anak yang baik, soleh atau solehah.

Proses pelaksanaan tradisi ini dibagi jadi beberapa tahapan. Diawali dengan persiapan, pembukaan, inti dan penutup kegiatan tradisi.

Favehotel Banjarmasin

Sebelum tradisi dimulai warga, kaum masjid dan orang tua gotong royong membersihkan masjid untuk digunakan salat idulfitri. Di Pajukungan masjid yang sering digunakan yakni Masjid Al-Munawwarah.

Baca Juga :  Kaligrafi Gerbang Sekumpul Tak Sesuai Kaidah, Baru Dipasang Langsung Dilepas

Para orang tua yang ikut tradisi ini harus menyiapkan syarat. Yaitu kue apam dan uang logam. Para orang tua pun harus dalam keadaan suci sebab tradisi ini dilaksanakan di dalam masjid.

Pada kegiatan inti, orang tua membawa anaknya yang berusia 1-5 tahun ke dalam masjid. Kemudian sang anak dibacakan doa dengan meletakkan kue apam di atas kepala.

Cara penyajian kue apam ada yang diletakkan di atas nampan, ada pula yang ditusukan pada pelepah kelapa atau bilah lidi. Ukurannya juga disesuaikan, yakni tinggi pelepah kelapa itu diukur setinggi anak-anak yang bakal mengikuti prosesi batumbang apam.

“Lantaran membawa kue apam pada saat prosesi acara inilah mengapa tradisi ini biasa disebut dengan nama Batumbang Apam,” kata Wakil Ketua Dewan Kesenian HST, Masruswian.

Baca Juga :  Malam Nuzulul dan Haul di Sabilal Muhtadin

Setelah itu anak diserahkan kepada kaum masjid. Kaum masjid menggendong sang anak lalu dibawa ke mimbar khatib. Di sini kaum masjid menginjakkan kaki sang anak di tangga mimbar sampai ke atas. Proses ini sambil diiringi doa dan selawat nabi.

Kemudian anak dikembalikan kepada orang tuanya. Untuk menutup tradisi ini terlebih dulu membaca doa-doa. Setelah itu uang logam yang disiapkan tadi dibagi-bagikan kepada warga yang hadir.

“Tujuannya, agar sang anak diharapkan selalu mendengarkan hal-hal yang baik saja, sekaligus tentu mengenalkannya tentang agama Islam,” pungkasnya. (mal/by/ran)

Batumbang Apam adalah sebuah tradisi bagi anak-anak suku Banjar yang ada di Desa Pajukungan, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST).

Batumbang apam biasanya dilaksanakan dalam dua waktu. Yakni setiap bulan 10 Dzulhijjah dan setelah salat idulfitri. Batumbang apam dilaksanakan sebagai hajat dari para orang tua kepada sang anak untuk mendapat berkah dari Allah SWT. Harapannya menjadi anak yang baik, soleh atau solehah.

Proses pelaksanaan tradisi ini dibagi jadi beberapa tahapan. Diawali dengan persiapan, pembukaan, inti dan penutup kegiatan tradisi.

Favehotel Banjarmasin

Sebelum tradisi dimulai warga, kaum masjid dan orang tua gotong royong membersihkan masjid untuk digunakan salat idulfitri. Di Pajukungan masjid yang sering digunakan yakni Masjid Al-Munawwarah.

Baca Juga :  Budaya dalam Sketsa: Susur Sungai Mempromosikan Budaya Kalsel

Para orang tua yang ikut tradisi ini harus menyiapkan syarat. Yaitu kue apam dan uang logam. Para orang tua pun harus dalam keadaan suci sebab tradisi ini dilaksanakan di dalam masjid.

Pada kegiatan inti, orang tua membawa anaknya yang berusia 1-5 tahun ke dalam masjid. Kemudian sang anak dibacakan doa dengan meletakkan kue apam di atas kepala.

Cara penyajian kue apam ada yang diletakkan di atas nampan, ada pula yang ditusukan pada pelepah kelapa atau bilah lidi. Ukurannya juga disesuaikan, yakni tinggi pelepah kelapa itu diukur setinggi anak-anak yang bakal mengikuti prosesi batumbang apam.

“Lantaran membawa kue apam pada saat prosesi acara inilah mengapa tradisi ini biasa disebut dengan nama Batumbang Apam,” kata Wakil Ketua Dewan Kesenian HST, Masruswian.

Baca Juga :  Berharap Gelar Pahlawan Nasional Untuk Datu Kelampayan

Setelah itu anak diserahkan kepada kaum masjid. Kaum masjid menggendong sang anak lalu dibawa ke mimbar khatib. Di sini kaum masjid menginjakkan kaki sang anak di tangga mimbar sampai ke atas. Proses ini sambil diiringi doa dan selawat nabi.

Kemudian anak dikembalikan kepada orang tuanya. Untuk menutup tradisi ini terlebih dulu membaca doa-doa. Setelah itu uang logam yang disiapkan tadi dibagi-bagikan kepada warga yang hadir.

“Tujuannya, agar sang anak diharapkan selalu mendengarkan hal-hal yang baik saja, sekaligus tentu mengenalkannya tentang agama Islam,” pungkasnya. (mal/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/