alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Terdeteksi di Tala, Masih Dugaan di HSU, di Banjarmasin Belum Diketemukan PMK

BANJARMASIN – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang sapi sudah terdeteksi di Kabupaten Tanah Laut (Tala). Sedangkan di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) masih dugaan.

Diungkap oleh Kepala Balai Veteriener Banjarbaru, Putut Eko Wibowo seusai memeriksa kesehatan hewan ternak di Rumah Potong Hewan (RPH) Basirih, kemarin (20/5).

“Sebanyak 22 ekor sapi di Desa Bumi Jaya, Tala,” sebutnya.

Favehotel Banjarmasin

Sedangkan sembilan ekor di HSU, bergejala mengarah ke PMK. “Dari survei dan uji klinis, inilah temuan sementara di Kalsel,” tambahnya.

Dibantu kepolisian, desanya di-lockdown. Agar sapi asal sana tidak menyebar ke wilayah lain.

Saat ini, diupayakan pengobatan dan pemberian vitamin. “Laporannya, sapi-sapinya sudah mulai sembuh,” tukasnya.

Sampai kapan distribusi sapi dari Tala ditutup? Dia menjawab, sampai keadaan aman. “Jadi tidak ada batas waktu,” tekannya.

Baca Juga :  Soal Wabah PMK, Kalsel Tuding Kementan Salah Data

Dia meminta masyarakat tidak panik. Sebab PMK tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.

Untuk Kota Banjarmasin, belum ditemukan kasus PMK. Khususnya sapi-sapi yang masuk ke RPH di Jalan Tembus Mantuil, Banjarmasin Selatan itu.

“Sampai hari ini, semua sapi di sini sehat,” ungkapnya.

“Gejala yang terlihat kasat mata, mengeluarkan air liur yang banyak. Kemudian ada luka di bagian mulkosa mulutnya. Ada luka lepuh atau ropeng. Dan kukunya ada luka,” urainya.

Dalam kondisi begitu, sapi tidak bisa makan. Kalau tidak segera diobati, sapi akan lemas dan mati.
Bukan berarti tak bisa disembuhkan. “Diberi obat-obatan, vitamin dan antibiotik, maka PMK akan sembuh dengan cepat,” jelasnya.

Selain itu, kekebalan atau mortalitas dari virus pembawa PMK juga termasuk rendah, hanya satu hingga lima persen.
“Tapi penularan penyakitnya yang cepat, karena melewati udara. Makanya, satu ekor terpapar, sapi yang lain menjadi rentan,” tutup Eko.

Baca Juga :  Kasus Sapi Sakit Menyebar, Sapi di Desa Bumi Jaya Di-Lockdown

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, M Makhmud menjamin RPH masih aman. “Sapi-sapi di sini sehat. Makannya pun lahap,” jelasnya.

Saat ini ada 171 ekor sapi di RPH. Cukup untuk memenuhi kebutuhan daging Banjarmasin untuk satu pekan.

Sebagai antisipasi, sekarang ada pemeriksaan harian dari dokter hewan. “Sebelum masuk kandang diperiksa,” tekannya.

Senada dengan Kepala UPTD RPH Basirih, Agus Siswandi. Pihaknya mensyaratkan surat keterangan sehat bagi setiap sapi hendak masuk ke sana.

“Setiap sapi harus memiliki surat pengantar. Kalau tidak, kami tidak berani membiarkan sapinya masuk,” tegasnya. (war/az/fud)

BANJARMASIN – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang sapi sudah terdeteksi di Kabupaten Tanah Laut (Tala). Sedangkan di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) masih dugaan.

Diungkap oleh Kepala Balai Veteriener Banjarbaru, Putut Eko Wibowo seusai memeriksa kesehatan hewan ternak di Rumah Potong Hewan (RPH) Basirih, kemarin (20/5).

“Sebanyak 22 ekor sapi di Desa Bumi Jaya, Tala,” sebutnya.

Favehotel Banjarmasin

Sedangkan sembilan ekor di HSU, bergejala mengarah ke PMK. “Dari survei dan uji klinis, inilah temuan sementara di Kalsel,” tambahnya.

Dibantu kepolisian, desanya di-lockdown. Agar sapi asal sana tidak menyebar ke wilayah lain.

Saat ini, diupayakan pengobatan dan pemberian vitamin. “Laporannya, sapi-sapinya sudah mulai sembuh,” tukasnya.

Sampai kapan distribusi sapi dari Tala ditutup? Dia menjawab, sampai keadaan aman. “Jadi tidak ada batas waktu,” tekannya.

Baca Juga :  Waspada, 9 Kambing dan 2 Sapi HST Kena PMK

Dia meminta masyarakat tidak panik. Sebab PMK tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.

Untuk Kota Banjarmasin, belum ditemukan kasus PMK. Khususnya sapi-sapi yang masuk ke RPH di Jalan Tembus Mantuil, Banjarmasin Selatan itu.

“Sampai hari ini, semua sapi di sini sehat,” ungkapnya.

“Gejala yang terlihat kasat mata, mengeluarkan air liur yang banyak. Kemudian ada luka di bagian mulkosa mulutnya. Ada luka lepuh atau ropeng. Dan kukunya ada luka,” urainya.

Dalam kondisi begitu, sapi tidak bisa makan. Kalau tidak segera diobati, sapi akan lemas dan mati.
Bukan berarti tak bisa disembuhkan. “Diberi obat-obatan, vitamin dan antibiotik, maka PMK akan sembuh dengan cepat,” jelasnya.

Selain itu, kekebalan atau mortalitas dari virus pembawa PMK juga termasuk rendah, hanya satu hingga lima persen.
“Tapi penularan penyakitnya yang cepat, karena melewati udara. Makanya, satu ekor terpapar, sapi yang lain menjadi rentan,” tutup Eko.

Baca Juga :  Pasar Hewan Kembali Dibuka

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, M Makhmud menjamin RPH masih aman. “Sapi-sapi di sini sehat. Makannya pun lahap,” jelasnya.

Saat ini ada 171 ekor sapi di RPH. Cukup untuk memenuhi kebutuhan daging Banjarmasin untuk satu pekan.

Sebagai antisipasi, sekarang ada pemeriksaan harian dari dokter hewan. “Sebelum masuk kandang diperiksa,” tekannya.

Senada dengan Kepala UPTD RPH Basirih, Agus Siswandi. Pihaknya mensyaratkan surat keterangan sehat bagi setiap sapi hendak masuk ke sana.

“Setiap sapi harus memiliki surat pengantar. Kalau tidak, kami tidak berani membiarkan sapinya masuk,” tegasnya. (war/az/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/