alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Pandemi Melandai, Wisata Sungai Biuku Malah Ditutup

BANJARMASIN – Pandemi melandai, bukannya dibuka, Selanjung Sungai Biuku justru ditutup.

Objek wisata di Kelurahan Sungai Andai itu ditutup karena banyaknya fasilitas yang rusak.

Ditutup sejak Kamis (19/5) sampai waktu yang tidak ditentukan.

Favehotel Banjarmasin

“Kami sendiri yang mengajukan penutupan. Karena kami belum siap untuk membukanya,” ucap Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Biuku, Didi Wahyudi pada Kamis (19/5) malam.

“Kami perlu berbenah. Tapi kalau ada pelancong hendak jalan-jalan kemari, tentu kami persilakan,” tambahnya.

Sungai Biuku tidak terurus sejak corona mewabah. Apalagi setelah diterjang banjir besar pada awal 2021.

Banyak wahana bermain yang rusak. Ilalang juga tumbuh di mana-mana.

Tanpa pemasukan dari wisatawan, pokdarwis terpaksa merogoh dana pribadi. Setidaknya untuk membeli pakan biuku, satwa maskotnya.

Baca Juga :  Banjarmasin Tembus 500 ADWI

Kondisi ini sudah dilaporkan ke Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin. Namun hanya direspons dengan pendataan ke lapangan.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina membantah telah membiarkan Sungai Biuku terbengkalai.

Diingatkannya, selama masa covid, semua objek wisata terdampak. “Jangan anggap itu pembiaran. Karena mau diperbaiki pun, siapa yang mau datang,” ujarnya.

Dia mengklaim, pemko mulai membenahi 10 destinasi wisata yang diluncurkan sejak 2018 lalu. Termasuk Sungai Biuku.

“Intinya direvitalisasi. Memakai APBD atau dana CSR. Agar pariwisata bisa dihidupkan lagi,” janjinya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar, Fitriah membenarkan kerusakan banyak fasilitas di Sungai Biuku.

Jika belum diperbaiki, alasannya karena terganjal aturan. Mengingat fasilitas di sana berasal dari bantuan perusahaan. Bukan dari pemko.

Baca Juga :  Tanpa Tes di Bandara, Saatnya Wisata Kalsel Bangkit Lagi

“Tidak bisa sembarangan menghilangkan bantuan CSR. Harus ada berita acaranya,” ujarnya kemarin (20/5). “Kalau main bongkar saja, takutnya kami yang salah,” tambahnya.

Saat ini, Disbudporapar meminta pokdarwis untuk membersihkan ilalang yang meninggi dan menyingkirkan puing-puing fasilitas yang rusak.

“Paling tidak wisata alamnya bisa ditonjolkan. Misalkan menjual susur sungainya,” tukasnya.

Sebab, Disbudporapar tidak memiliki anggaran untuk perawatannya. Dalam bahasa berbeda, pokdarwis diminta lebih mandiri.

“Kami selalu ingin membantu, tapi kan harus sesuai aturan,” tegasnya. “Pemko sudah mendukung, lalu dibantu CSR. Selanjutnya, kami berharap pokdarwis yang mengembangkannya,” pungkasnya. (war/az/fud)

BANJARMASIN – Pandemi melandai, bukannya dibuka, Selanjung Sungai Biuku justru ditutup.

Objek wisata di Kelurahan Sungai Andai itu ditutup karena banyaknya fasilitas yang rusak.

Ditutup sejak Kamis (19/5) sampai waktu yang tidak ditentukan.

Favehotel Banjarmasin

“Kami sendiri yang mengajukan penutupan. Karena kami belum siap untuk membukanya,” ucap Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Biuku, Didi Wahyudi pada Kamis (19/5) malam.

“Kami perlu berbenah. Tapi kalau ada pelancong hendak jalan-jalan kemari, tentu kami persilakan,” tambahnya.

Sungai Biuku tidak terurus sejak corona mewabah. Apalagi setelah diterjang banjir besar pada awal 2021.

Banyak wahana bermain yang rusak. Ilalang juga tumbuh di mana-mana.

Tanpa pemasukan dari wisatawan, pokdarwis terpaksa merogoh dana pribadi. Setidaknya untuk membeli pakan biuku, satwa maskotnya.

Baca Juga :  Pengunjung Pantai Takisung Tembus 10 Ribu

Kondisi ini sudah dilaporkan ke Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin. Namun hanya direspons dengan pendataan ke lapangan.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina membantah telah membiarkan Sungai Biuku terbengkalai.

Diingatkannya, selama masa covid, semua objek wisata terdampak. “Jangan anggap itu pembiaran. Karena mau diperbaiki pun, siapa yang mau datang,” ujarnya.

Dia mengklaim, pemko mulai membenahi 10 destinasi wisata yang diluncurkan sejak 2018 lalu. Termasuk Sungai Biuku.

“Intinya direvitalisasi. Memakai APBD atau dana CSR. Agar pariwisata bisa dihidupkan lagi,” janjinya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar, Fitriah membenarkan kerusakan banyak fasilitas di Sungai Biuku.

Jika belum diperbaiki, alasannya karena terganjal aturan. Mengingat fasilitas di sana berasal dari bantuan perusahaan. Bukan dari pemko.

Baca Juga :  Banjarmasin Tembus 500 ADWI

“Tidak bisa sembarangan menghilangkan bantuan CSR. Harus ada berita acaranya,” ujarnya kemarin (20/5). “Kalau main bongkar saja, takutnya kami yang salah,” tambahnya.

Saat ini, Disbudporapar meminta pokdarwis untuk membersihkan ilalang yang meninggi dan menyingkirkan puing-puing fasilitas yang rusak.

“Paling tidak wisata alamnya bisa ditonjolkan. Misalkan menjual susur sungainya,” tukasnya.

Sebab, Disbudporapar tidak memiliki anggaran untuk perawatannya. Dalam bahasa berbeda, pokdarwis diminta lebih mandiri.

“Kami selalu ingin membantu, tapi kan harus sesuai aturan,” tegasnya. “Pemko sudah mendukung, lalu dibantu CSR. Selanjutnya, kami berharap pokdarwis yang mengembangkannya,” pungkasnya. (war/az/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/