alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 26 June 2022

Berkenalan dengan Akaracita, Kelompok Musik di Banjarbaru

Kumpulan Seniman yang Ingin Populerkan Gamalan

Musik sudah tak bisa terpisahkan dari kehidupan sekarang. Di balik alunan nada nan indah, tentunya di balik itu tak lepas dari kepiawaian para pemain musik mengolahnya.

– Oleh: MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru

Di Kota Banjarbaru yang dikenal sebagai kota yang heterogen. Sekelompok pemusik membentuk sebuah wadah atau kelompok. Namanya adalah Akaracita, kelompok pemusik yang sudah cukup lama eksis di dunia panggung.

Favehotel Banjarmasin

Novyandi Saputra, salah satu pentolan di Akaracita menceritakan ihwal kelompok tersebut. Diurainya, secara historis kelompok ini sudah berdiri sekitar tahun 2015 lalu.

“Jadi memang berdiri sejak 2015, namun terhitung tanggal 30 Oktober 2021, kelompok musik yang selama ini menggunakan nama NSAPM resmi memisahkan diri, lalu Akaracita pun mengkhususkan diri sebagai sebuah kelompok musik,” katanya.

Novyandi yang juga seorang komposer dan Konseptor musik di Akaracita ini mengatakan bahwa pada utamanya kelompok mereka bergerak pada proses berkarya bermusik itu sendiri.

Baca Juga :  Ajak Masyarakat Membudayakan Lari, Ada Sesi Rutin Yoga Hingga Renang

“Selain itu juga jadi laboratorium musik dan konservatori musik tradisional di Kalimantan Selatan. Karena memang, fokus kegiatan kami adalah melakukan riset artistik dan menciptakan karya musik baru yang berbasis pada instrumen tradisional Kalsel,” ujarmya.

Embrio Akaracita kata Novyandi berawal dari eksplorasi di dunia musik. Khususnya musik dengan media instrumen-instrumen tradisional di Kalsel, terutama Gamalan Banjar.

Ia juga mengakui, bahwa awalnya Akaracita adalah proyek pribadinya. Yang mana saat itu ia sangat berkeinginan untuk mengeksplorasi instrument tradisional untuk bisa hadir dalam banyak ruang.

“Berawal dari situ kemudian kami mulai membuat karya-karya yang keluar dari kebiasaan kebanyakan orang dalam membuat karya musik. Konsep musik kami memang dari awal adalah musik yang diskursus,” tambahnya.

Dilanjutnya, Akaracita juga terdiri dari beberapa orang yang merupakan seniman musik multi instrumentalis. “Mereka bergagasan pada esensi musik-musik tradisi kalimantan Selatan secara lebih khusus pada gamalan Banjar.”

Baca Juga :  Berkenalan dengan Baleno Club Indonesia (BCI) Chapter Banjar

Selama eksis, Akaracita kata Novyandi sudah menelurkan beberapa karya. Yang mana beberapanya sudah dirilis yang antara lain Discourse Of Musical Banjar (2016), Tiada Kuriding Yang Lain feat Julak Larau (2017), KALA “Musik Baru untuk Gamalan” (2019), Derana (2021).

“Secara prestasi mungkin kami memang tidak mengkhususkan diri pada perlombaan yang memperoleh predikat juara. Kami lebih fokus pada berkarya dan menampilkan karya pada festival-festival seni budaya baik lokal, nasional hingga internasional,” katanya.

Dalam perjalanannya, Akaracita catat Novyandi pernah mementaskan karyanya di event-event luar daerah bahkan negeri. Semisal di Solo International Performing Art (Solo), Festival Payung Indonesia (Magelang, Borubudur, Jawa Tengah), Bukan Musik Biasa (Solo), noise in Silence “Indonesian World Music Series” (Bengkulu),Festival Kampung Buntoi, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, hingga Malay Culture Fest di Singapura. (ij/bin)

Musik sudah tak bisa terpisahkan dari kehidupan sekarang. Di balik alunan nada nan indah, tentunya di balik itu tak lepas dari kepiawaian para pemain musik mengolahnya.

– Oleh: MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru

Di Kota Banjarbaru yang dikenal sebagai kota yang heterogen. Sekelompok pemusik membentuk sebuah wadah atau kelompok. Namanya adalah Akaracita, kelompok pemusik yang sudah cukup lama eksis di dunia panggung.

Favehotel Banjarmasin

Novyandi Saputra, salah satu pentolan di Akaracita menceritakan ihwal kelompok tersebut. Diurainya, secara historis kelompok ini sudah berdiri sekitar tahun 2015 lalu.

“Jadi memang berdiri sejak 2015, namun terhitung tanggal 30 Oktober 2021, kelompok musik yang selama ini menggunakan nama NSAPM resmi memisahkan diri, lalu Akaracita pun mengkhususkan diri sebagai sebuah kelompok musik,” katanya.

Novyandi yang juga seorang komposer dan Konseptor musik di Akaracita ini mengatakan bahwa pada utamanya kelompok mereka bergerak pada proses berkarya bermusik itu sendiri.

Baca Juga :  Berkenalan dengan Baleno Club Indonesia (BCI) Chapter Banjar

“Selain itu juga jadi laboratorium musik dan konservatori musik tradisional di Kalimantan Selatan. Karena memang, fokus kegiatan kami adalah melakukan riset artistik dan menciptakan karya musik baru yang berbasis pada instrumen tradisional Kalsel,” ujarmya.

Embrio Akaracita kata Novyandi berawal dari eksplorasi di dunia musik. Khususnya musik dengan media instrumen-instrumen tradisional di Kalsel, terutama Gamalan Banjar.

Ia juga mengakui, bahwa awalnya Akaracita adalah proyek pribadinya. Yang mana saat itu ia sangat berkeinginan untuk mengeksplorasi instrument tradisional untuk bisa hadir dalam banyak ruang.

“Berawal dari situ kemudian kami mulai membuat karya-karya yang keluar dari kebiasaan kebanyakan orang dalam membuat karya musik. Konsep musik kami memang dari awal adalah musik yang diskursus,” tambahnya.

Dilanjutnya, Akaracita juga terdiri dari beberapa orang yang merupakan seniman musik multi instrumentalis. “Mereka bergagasan pada esensi musik-musik tradisi kalimantan Selatan secara lebih khusus pada gamalan Banjar.”

Baca Juga :  Ajak Masyarakat Membudayakan Lari, Ada Sesi Rutin Yoga Hingga Renang

Selama eksis, Akaracita kata Novyandi sudah menelurkan beberapa karya. Yang mana beberapanya sudah dirilis yang antara lain Discourse Of Musical Banjar (2016), Tiada Kuriding Yang Lain feat Julak Larau (2017), KALA “Musik Baru untuk Gamalan” (2019), Derana (2021).

“Secara prestasi mungkin kami memang tidak mengkhususkan diri pada perlombaan yang memperoleh predikat juara. Kami lebih fokus pada berkarya dan menampilkan karya pada festival-festival seni budaya baik lokal, nasional hingga internasional,” katanya.

Dalam perjalanannya, Akaracita catat Novyandi pernah mementaskan karyanya di event-event luar daerah bahkan negeri. Semisal di Solo International Performing Art (Solo), Festival Payung Indonesia (Magelang, Borubudur, Jawa Tengah), Bukan Musik Biasa (Solo), noise in Silence “Indonesian World Music Series” (Bengkulu),Festival Kampung Buntoi, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, hingga Malay Culture Fest di Singapura. (ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/