alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Hanya Perbolehkan Sapi dari NTT, PMK Belum Terdeteksi di Banjarbaru

BANJARBARU – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat. Pasalnya, penyakit ini begitu cepat menular dan menjangkiti hewan ternak tersebut dan berisiko kematian.

Di Kalsel sendir, PMK disebut sudah mulai terdeteksi. Kabar ini cepat menyebar dan membuat masyarakat kian was-was. Terlebih beberapa waktu lagi masyarakat muslim akan memasuki momen hari raya Idul Adha atau hari raya kurban.
Pemko Banjarbaru melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarbaru memastikan bahwa di Kota Idaman belum terdeteksi PMK tersebut.

Hal ini dipastikan usai pihaknya telah melakukan sejumlah pemantauan langsung di beberapa tempat pemotongan yang ada di Banjarbaru.

Favehotel Banjarmasin

“Kalau Kota Banjarbaru sejauh ini tidak ada terdeteksi, kita sudah keliling ke beberapa tempat pemotongan, semua sudah diperiksa dan hasilnya aman saja, tidak terindikasi penyakit,” kata Kabid Peternakan DKP3 Banjarbaru, Yohana Kriswinantu kemarin petang.

Baca Juga :  Dampak Wabah PMK, Kurang Yakin Bisa Berkurban

Kendati secara lokal belum didapati, namun saat ini DKP3 Banjarbaru kata Yohana turut melakukan langkah antisipasi. Yang mana sapi kiriman dari Jatim katanya belum diperbolehkan masuk.

“Jadi sementara yang datang hanya dari NTT atau kupang, karena disana kan belum ditemukan kasus PMK. Kita tetap mengikuti acuan atau instruksi dari Provinsi,” tambahnya.

Kemudian, sapi-sapi yang didatangkan dari luar pulau tersebut kata Yohana juga harus dikarantina selama dua pekan. Proses karantina katanya dilakukan oleh tiap-tiap tempat pemotongan.

“Jika dari balai karantina belum mengeluarkan surat terkait boleh dilepas atau bebas dari karantina, sapi itu tak boleh dilepas atau dijual ke publik,” ujarnya.

Di Banjarbaru kata Yohana diperkirakan terdapat sekitar 2000 ekor sapi. Ini terbagi dari beberapa tempat pemotongan. Angka itu katanya bisa saja bertambah mengingat akan menjelang momen hari raya kurban.

Baca Juga :  Kasus Sapi Sakit Menyebar, Sapi di Desa Bumi Jaya Di-Lockdown

“Misalnya di satu tempat pemotongan itu ada ready 400 ekor dan akan mendatangkan lagi 300 ekor, jadi permintaan sedang tinggi-tingginya,” ungkapnya.

Terkait pengawasan intens terhadap potensi PMK, selain memeriksa kondisi kesehatan sapi, pihaknya klaim Yohana juga rutin melakukan penyemprotan atau disinfeksi di kandang-kandang.

“Jadi apabila ada ditemukan kasus, kita akan segera lakukan karantina di wilayah tersebut, semua sapi diperiksa, termasuk ternak-ternak di sekelilingnya, karena PMK ini kan menyebar lewat udara dan radiusnya cukup luas,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat. Pasalnya, penyakit ini begitu cepat menular dan menjangkiti hewan ternak tersebut dan berisiko kematian.

Di Kalsel sendir, PMK disebut sudah mulai terdeteksi. Kabar ini cepat menyebar dan membuat masyarakat kian was-was. Terlebih beberapa waktu lagi masyarakat muslim akan memasuki momen hari raya Idul Adha atau hari raya kurban.
Pemko Banjarbaru melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarbaru memastikan bahwa di Kota Idaman belum terdeteksi PMK tersebut.

Hal ini dipastikan usai pihaknya telah melakukan sejumlah pemantauan langsung di beberapa tempat pemotongan yang ada di Banjarbaru.

Favehotel Banjarmasin

“Kalau Kota Banjarbaru sejauh ini tidak ada terdeteksi, kita sudah keliling ke beberapa tempat pemotongan, semua sudah diperiksa dan hasilnya aman saja, tidak terindikasi penyakit,” kata Kabid Peternakan DKP3 Banjarbaru, Yohana Kriswinantu kemarin petang.

Baca Juga :  Angka Kesembuhan Ternak Terduga PMK Terus Meningkat

Kendati secara lokal belum didapati, namun saat ini DKP3 Banjarbaru kata Yohana turut melakukan langkah antisipasi. Yang mana sapi kiriman dari Jatim katanya belum diperbolehkan masuk.

“Jadi sementara yang datang hanya dari NTT atau kupang, karena disana kan belum ditemukan kasus PMK. Kita tetap mengikuti acuan atau instruksi dari Provinsi,” tambahnya.

Kemudian, sapi-sapi yang didatangkan dari luar pulau tersebut kata Yohana juga harus dikarantina selama dua pekan. Proses karantina katanya dilakukan oleh tiap-tiap tempat pemotongan.

“Jika dari balai karantina belum mengeluarkan surat terkait boleh dilepas atau bebas dari karantina, sapi itu tak boleh dilepas atau dijual ke publik,” ujarnya.

Di Banjarbaru kata Yohana diperkirakan terdapat sekitar 2000 ekor sapi. Ini terbagi dari beberapa tempat pemotongan. Angka itu katanya bisa saja bertambah mengingat akan menjelang momen hari raya kurban.

Baca Juga :  Konsumen Tetap Minat Beli Daging

“Misalnya di satu tempat pemotongan itu ada ready 400 ekor dan akan mendatangkan lagi 300 ekor, jadi permintaan sedang tinggi-tingginya,” ungkapnya.

Terkait pengawasan intens terhadap potensi PMK, selain memeriksa kondisi kesehatan sapi, pihaknya klaim Yohana juga rutin melakukan penyemprotan atau disinfeksi di kandang-kandang.

“Jadi apabila ada ditemukan kasus, kita akan segera lakukan karantina di wilayah tersebut, semua sapi diperiksa, termasuk ternak-ternak di sekelilingnya, karena PMK ini kan menyebar lewat udara dan radiusnya cukup luas,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/