alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Ini Komitmen BWS Kalimantan III Tangani Banjir Barabai

BARABAI-Sungai Barabai memiliki peran yang sangat vital bagi masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), khususnya Kota Barabai. Sungai ini melintasi Kota Barabai yang merupakan bagian dari Wilayah Sungai Barito dan anak dari Sungai Nagara. Saat ini, Sungai Barabai mengalami perubahan dan penurunan fungsi seiring dengan perkembangan Kota Barabai.

Sehingga, ruang sungai mengalami penyempitan karena banyak bangunan pemukiman dan penunjang ekonomi lainnya yang berdiri di wilayah ruang sungai.
Perubahan juga terjadi di kawasan hulu sungai Barabai. Sehingga berpengaruh besar terhadap debit sungai Barabai, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas yang cukup besar. “Perubahan-perubahan ini mengakibatkan fungsi sungai Barabai mengalirkan air ke hilir turun drastis. Sehingga, Sungai Barabai tak mampu menampung luapan air. Akibatnya, terjadi genangan dan banjir. Kondisi yang sangat parah terjadi pada Januari 2021. Ketika terjadi hujan yang intensitasnya sangat besar dan lama, sehingga menyebabkan terjadinya banjir yang melumpuhkan Kota Barabai,” sebut Andi Sofyan ST MPSDA Kepala SNVT PJSA Kalimantan III.


Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III komitmen melakukan penanganan terhadap banjir di Kota Barabai. Yakni, lewat Kegiatan Pengendalian Banjir Sungai Barabai yang dimulai Juli 2021 dengan Kontrak Tahun Jamak hingga 2023. “Kegiatan ini dilaksanakan oleh PT ADHI-CIPTA, KSO dengan Konsultan Supervisi PT Innako Internasional Konsulindo, KSO PT Ciriajasa Engineering Consultans, dan KSO PT Bumi Kahuripan Jaya,” sebut Andi.
Pekerjaan utama yang dilakukan berupa Normalisasi Sungai Barabai, Normalisasi Kanal Banjir, dan Pembangunan Kolam Regulasi. Ada juga beberapa item pekerjaan penunjang yang bukan merupakan pekerjaan utama.

“Sejak 2021 telah dilakukan normalisasi sungai pada beberapa titik lokasi dan juga normalisasi kanal banjir sepanjang 16 km pada bagian kiri dan kanan kanal. Normalisasi ini telah dirasakan oleh masyarakat. Yakni, pada saat terjadi intensitas hujan yang cukup tinggi, banyak lokasi yang tadinya terjadi genangan, sekarang menjadi semakin berkurang, bahkan di beberapa titik lokasi saat ini aman terhadap genangan,” sambungnya.

Tahun ini, dilanjutkan dengan membangun kolam regulasi seluas 46 Ha dengan kapasitas tampung kurang lebih 2,4 juta meter kubik. Kolam regulasi berfungsi sebagai tempat parkir air sementara ketika terjadi banjir dan kemudian nantinya akan dilepas lagi ke sungai setelah debit air sungai menurun.
Pemprov Kalsel dan Pemkab HST melakukan kolaborasi dengan menyiapkan lahan untuk pembangunan Kolam Regulasi tersebut. Saat ini, pembangunan Kolam Regulasi sudah mulai dikerjakan pada tahap land clearing dan penggalian saluran drainase samping.

“Progress pekerjaan sudah mencapai 27 persen dengan deviasi positif terhadap rencana. Fokus utama untuk pekerjaan di 2022 dan 2023 adalah penyelesaian kolam regulasi. Nantinya, jika kegiatan ini tuntas pada 2023, diharapkan konsep pengendalian banjir ini dapat mereduksi atau mengurangi dampak banjir. Namun, selain penanggulangan secara fisik yang sedang dikerjakan oleh BWS Kalimantan III, peran masyarakat dan pemerintah daerah juga sangat diperlukan terhadap suksesnya pengendalian banjir ini. Terutama keikutsertaan masyarakat dalam menjaga hutan di kawasan di hulu sungai Barabai. Sehingga, dapat menahan air masuk ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang masuk ke permukaan sungai pada saat hujan,” tambahnya.

“Semoga semua pihak dapat berkolaborasi dan bekerjasama agar banjir yang terjadi di Kota Barabai dan sekitarnya dapat berkurang secara signifikan setelah sistem pengendalian banjir telah selesai dikerjakan pada tahun 2023,” tandasnya.(adv/oza)
Baca Juga :  Dapat Bantuan Bank Dunia, Sungai di Banjarmasin Bisa Seindah di Belanda
BARABAI-Sungai Barabai memiliki peran yang sangat vital bagi masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), khususnya Kota Barabai. Sungai ini melintasi Kota Barabai yang merupakan bagian dari Wilayah Sungai Barito dan anak dari Sungai Nagara. Saat ini, Sungai Barabai mengalami perubahan dan penurunan fungsi seiring dengan perkembangan Kota Barabai.

Sehingga, ruang sungai mengalami penyempitan karena banyak bangunan pemukiman dan penunjang ekonomi lainnya yang berdiri di wilayah ruang sungai.
Perubahan juga terjadi di kawasan hulu sungai Barabai. Sehingga berpengaruh besar terhadap debit sungai Barabai, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas yang cukup besar. “Perubahan-perubahan ini mengakibatkan fungsi sungai Barabai mengalirkan air ke hilir turun drastis. Sehingga, Sungai Barabai tak mampu menampung luapan air. Akibatnya, terjadi genangan dan banjir. Kondisi yang sangat parah terjadi pada Januari 2021. Ketika terjadi hujan yang intensitasnya sangat besar dan lama, sehingga menyebabkan terjadinya banjir yang melumpuhkan Kota Barabai,” sebut Andi Sofyan ST MPSDA Kepala SNVT PJSA Kalimantan III.


Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III komitmen melakukan penanganan terhadap banjir di Kota Barabai. Yakni, lewat Kegiatan Pengendalian Banjir Sungai Barabai yang dimulai Juli 2021 dengan Kontrak Tahun Jamak hingga 2023. “Kegiatan ini dilaksanakan oleh PT ADHI-CIPTA, KSO dengan Konsultan Supervisi PT Innako Internasional Konsulindo, KSO PT Ciriajasa Engineering Consultans, dan KSO PT Bumi Kahuripan Jaya,” sebut Andi.
Pekerjaan utama yang dilakukan berupa Normalisasi Sungai Barabai, Normalisasi Kanal Banjir, dan Pembangunan Kolam Regulasi. Ada juga beberapa item pekerjaan penunjang yang bukan merupakan pekerjaan utama.

“Sejak 2021 telah dilakukan normalisasi sungai pada beberapa titik lokasi dan juga normalisasi kanal banjir sepanjang 16 km pada bagian kiri dan kanan kanal. Normalisasi ini telah dirasakan oleh masyarakat. Yakni, pada saat terjadi intensitas hujan yang cukup tinggi, banyak lokasi yang tadinya terjadi genangan, sekarang menjadi semakin berkurang, bahkan di beberapa titik lokasi saat ini aman terhadap genangan,” sambungnya.

Tahun ini, dilanjutkan dengan membangun kolam regulasi seluas 46 Ha dengan kapasitas tampung kurang lebih 2,4 juta meter kubik. Kolam regulasi berfungsi sebagai tempat parkir air sementara ketika terjadi banjir dan kemudian nantinya akan dilepas lagi ke sungai setelah debit air sungai menurun.
Pemprov Kalsel dan Pemkab HST melakukan kolaborasi dengan menyiapkan lahan untuk pembangunan Kolam Regulasi tersebut. Saat ini, pembangunan Kolam Regulasi sudah mulai dikerjakan pada tahap land clearing dan penggalian saluran drainase samping.

“Progress pekerjaan sudah mencapai 27 persen dengan deviasi positif terhadap rencana. Fokus utama untuk pekerjaan di 2022 dan 2023 adalah penyelesaian kolam regulasi. Nantinya, jika kegiatan ini tuntas pada 2023, diharapkan konsep pengendalian banjir ini dapat mereduksi atau mengurangi dampak banjir. Namun, selain penanggulangan secara fisik yang sedang dikerjakan oleh BWS Kalimantan III, peran masyarakat dan pemerintah daerah juga sangat diperlukan terhadap suksesnya pengendalian banjir ini. Terutama keikutsertaan masyarakat dalam menjaga hutan di kawasan di hulu sungai Barabai. Sehingga, dapat menahan air masuk ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang masuk ke permukaan sungai pada saat hujan,” tambahnya.

“Semoga semua pihak dapat berkolaborasi dan bekerjasama agar banjir yang terjadi di Kota Barabai dan sekitarnya dapat berkurang secara signifikan setelah sistem pengendalian banjir telah selesai dikerjakan pada tahun 2023,” tandasnya.(adv/oza)
Baca Juga :  Dapat Bantuan Bank Dunia, Sungai di Banjarmasin Bisa Seindah di Belanda

Most Read

Artikel Terbaru

/