alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Tahulah Pian?

Asal Usul Mappanre Ri Tasi

Minggu (22/5) Mei nanti puncak acara pesta pantai Pagatan Mappanre Ri Tasi digelar. Pesta adat Bugis yang selalu menyedot wisatawan itu punya beragam versi asal-usulnya.

Di masa silam, seorang tua bernama M Saleng konon bermimpi bertemu penguasa laut Pagatan. Si penguasa menawarkan ikan melimpah untuk Saleng, asal nanti nelayan itu memberi sesembahan di laut. Saleng setuju.

Esok harinya, nelayan itu melaut. Dia dapat lebih banyak dari biasanya. Begitu seterusnya selama beberapa bulan.

Favehotel Banjarmasin

Akhirnya, sesuai kesepakatan, Saleng lalu melarung makanan dan darah binatang ke laut. Seperti petunjuk dalam mimpi. Ritual itu terus dia lakukan.

Ritual yang kemudian diteruskan keluarga dan warganya di Pagatan.

“Tapi sebenarnya, ritual ini sudah tua. Sudah ada sejak zaman kerajaan Pagatan,” ujar Ketua Lembaga Ade Ogi Pagatan, Fawahisah Mahabatan.

Juga ada versi. Bahwa tradisi itu sebenarnya hanya dilakukan sekelompok nelayan secara terbatas. Ada yang di Pagatan, Sungai Lembu, dan sekitarnya.

Baca Juga :  Lokasi Favorit Hunting Foto di Tanah Bumbu

Tapi menjadi besar ketika pemerintah melihat peluang wisata di sana. Ritual lalu dijadikan salah satu rangkaian kegiatan pemerintah daerah, menyusul perayaan Hari Jadi Tanah Bumbu, di bulan April.

“April itu waktu istirahatnya nelayan. Peralihan musim dari Barat ke Tenggara. Ketika istirahat itu, meraka mengungkapkan rasa syukur di laut,” beber Fawa.

Ttradisi sesembahan itu diperkirakan hampir setua masyarakat Bugis sendiri. Laut bagi Bugis adalah rumah ke dua.

Di zaman Islam belum memberikan pengaruhnya, ritual itu serupa dengan berbagai ritual suku lainnya, saat berharap kemurahan alam. Biasanya ada korban yang diberikan: daging hewan.

Nelayan meminta kepada penguasa laut, agar meraka diberi limpahan ikan. Dijauhkan dari bencana gelombang dan badai. Sama dengan ritual warga yang mencari penghasilan dari suburnya tanah di lereng pegunungan Merapi.

Seiring zaman ritual memuja penguasa laut terus berkembang. Konon di masa Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan, selain kepala kerbau, warga juga melarutkan banyak makanan. Makanan itu kemudian dijadikan tanda kepada suku Bajau bahwa Bugis sedang ada acara.

Baca Juga :  Tanglong Ramadan Ditiadakan, Ibnu: Yang Penting Masih Bisa Tarawih

Walau sama-sama bergantung dengan laut, Bugis masih berumah di daratan. Tapi suku Bajau, saat itu mereka berumah di perahu, hidup nomaden. Makanan yang dilarutkan dengan perahu mini itu lalu dijadikan santapan warga Bajau di laut.

Fakta bahwa tradisi itu diwariskan turun-temurun adalah, hampir di semua wilayah, Bugis rutin menggelarnya. Ada yang berbalut wisata, ada juga yang memang untuk ritual semata.

Ketika Islam masuk, mulailah ritual adat itu sedikit demi sedikit mengalami pergeseran. Di Tanah Bumbu misalnya, awalnya namanya dikenal dengan Mappanretasi, artinya memberi makan laut.

Dari maknanya, mappanretasi dianggap perbuatan mubazir. Saat masih ada orang kelaparan, malah buang-buang makanan ke laut. Namanya lalu diganti dengan Mappanre Ri Tasi, artinya memberi makan di laut, atau makan-makan di atas kapal. (zal/by/ran)

Minggu (22/5) Mei nanti puncak acara pesta pantai Pagatan Mappanre Ri Tasi digelar. Pesta adat Bugis yang selalu menyedot wisatawan itu punya beragam versi asal-usulnya.

Di masa silam, seorang tua bernama M Saleng konon bermimpi bertemu penguasa laut Pagatan. Si penguasa menawarkan ikan melimpah untuk Saleng, asal nanti nelayan itu memberi sesembahan di laut. Saleng setuju.

Esok harinya, nelayan itu melaut. Dia dapat lebih banyak dari biasanya. Begitu seterusnya selama beberapa bulan.

Favehotel Banjarmasin

Akhirnya, sesuai kesepakatan, Saleng lalu melarung makanan dan darah binatang ke laut. Seperti petunjuk dalam mimpi. Ritual itu terus dia lakukan.

Ritual yang kemudian diteruskan keluarga dan warganya di Pagatan.

“Tapi sebenarnya, ritual ini sudah tua. Sudah ada sejak zaman kerajaan Pagatan,” ujar Ketua Lembaga Ade Ogi Pagatan, Fawahisah Mahabatan.

Juga ada versi. Bahwa tradisi itu sebenarnya hanya dilakukan sekelompok nelayan secara terbatas. Ada yang di Pagatan, Sungai Lembu, dan sekitarnya.

Baca Juga :  Wisata Siring Laut Kotabaru

Tapi menjadi besar ketika pemerintah melihat peluang wisata di sana. Ritual lalu dijadikan salah satu rangkaian kegiatan pemerintah daerah, menyusul perayaan Hari Jadi Tanah Bumbu, di bulan April.

“April itu waktu istirahatnya nelayan. Peralihan musim dari Barat ke Tenggara. Ketika istirahat itu, meraka mengungkapkan rasa syukur di laut,” beber Fawa.

Ttradisi sesembahan itu diperkirakan hampir setua masyarakat Bugis sendiri. Laut bagi Bugis adalah rumah ke dua.

Di zaman Islam belum memberikan pengaruhnya, ritual itu serupa dengan berbagai ritual suku lainnya, saat berharap kemurahan alam. Biasanya ada korban yang diberikan: daging hewan.

Nelayan meminta kepada penguasa laut, agar meraka diberi limpahan ikan. Dijauhkan dari bencana gelombang dan badai. Sama dengan ritual warga yang mencari penghasilan dari suburnya tanah di lereng pegunungan Merapi.

Seiring zaman ritual memuja penguasa laut terus berkembang. Konon di masa Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan, selain kepala kerbau, warga juga melarutkan banyak makanan. Makanan itu kemudian dijadikan tanda kepada suku Bajau bahwa Bugis sedang ada acara.

Baca Juga :  Lokasi Favorit Hunting Foto di Tanah Bumbu

Walau sama-sama bergantung dengan laut, Bugis masih berumah di daratan. Tapi suku Bajau, saat itu mereka berumah di perahu, hidup nomaden. Makanan yang dilarutkan dengan perahu mini itu lalu dijadikan santapan warga Bajau di laut.

Fakta bahwa tradisi itu diwariskan turun-temurun adalah, hampir di semua wilayah, Bugis rutin menggelarnya. Ada yang berbalut wisata, ada juga yang memang untuk ritual semata.

Ketika Islam masuk, mulailah ritual adat itu sedikit demi sedikit mengalami pergeseran. Di Tanah Bumbu misalnya, awalnya namanya dikenal dengan Mappanretasi, artinya memberi makan laut.

Dari maknanya, mappanretasi dianggap perbuatan mubazir. Saat masih ada orang kelaparan, malah buang-buang makanan ke laut. Namanya lalu diganti dengan Mappanre Ri Tasi, artinya memberi makan di laut, atau makan-makan di atas kapal. (zal/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/