alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Tahulah Pian?

Legenda Pantai Batu Lima

Pantai Batu Lima adalah salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Tanah laut. Terletak di Desa Kuala Tambangan, Kecamatan Takisung dan diapit oleh dua pantai lain, yaitu Pantai Batakan yang berada di Kecamatan Panyipatan dan Pantai Takisung yang berada di Kecamatan Takisung. Dari pusat Kota Pelaihari, pantai ini berjarak kurang lebih 35 kilometer.

Sama halnya seperti beberapa pantai di Indonesia yang memiliki legenda atau peristiwa-peristiwa yang konon pernah terjadi di pantai tersebut, seperti cerita Malin Kundang di Pantai Air Manis di Sumatera Barat dan Nyi Roro Kidul di Pantai Selatan Jawa, Pantai Batu Lima juga memiliki cerita.

Pada zaman dahulu di Pantai Batu Lima hiduplah lima orang laki-laki bersaudara, yang paling tua bernama Datu Cau, kedua bernama Datu Ajang, ketiga bernama Datu Lampiji, keempat bernama Datu Senjai dan yang paling muda bernama Datu Malin Kabau.

Baca Juga :  Ngabuburit Di Jembatan Rumpiang
Favehotel Banjarmasin

Pada waktu itu saudara paling tua mereka, yakni Datu Cau sudah berkeluarga dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Malin Cali. Kelima bersaudara ini berasal dari Suku Bugis, sebagaimana layaknya orang Bugis mereka menghidupi keluarganya dengan mencari ikan di laut.

Masyarakat di sekitar wilayah Pantai Batu Lima mempercayai bahwa di pantai Batu Lima ada sejenis ikan Pari yang berwarna putih, jika para nelayan melihat ikan tersebut dilarang untuk menangkap, apalagi sampai membunuh ikan tersebut. Apabila ada masyarakat yang melanggar pantangan tersebut maka akan mendapat bala atau kutukan.

Suatu hari, lima orang bersaudara ini berangkat bekerja untuk mencari ikan di laut, hari itu mereka mendapat hasil yang sangat banyak. Saking banyaknya tumpukan ikan yang mereka dapat, mereka tidak menyadari ikan pari putih yang dilarang juga ikut tertangkap dan terbunuh oleh mereka.

Baca Juga :  Matahari Tenggelam di Muara Sungai Barito, Susur Sungai yang Naik Kelas

Dalam sekejap, langit di Pantai Batu Lima itu berubah mendung, awan menjadi gelap dan datanglah badai yang menerjang lima bersaudara tersebut. Di dalam perahu itu kelima bersaudara ini kebingungan dan takut. Kemudian mereka teringat akan mitos tentang ikan pari putih dan tiba-tiba mereka berubah menjadi batu yang sekarang bersusun lima buah di pantai tersebut.

Kejadian tersebut membuat keluarga kelima nelayan akhirnya memutuskan untuk melakukan ritual bersih-bersih diri dengan melakukan ritual adat Banjar, yaitu mandi badudus. Hingga saat ini keturunan dari Datu Malin Cali (anak Datu Cau) melakukan ritual mandi badudus (mandi-mandi) di waktu yang ditentukan agar tidak terjadi bencana atau penyakit bagi keturunan mereka. (sal/by/ran)

Pantai Batu Lima adalah salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Tanah laut. Terletak di Desa Kuala Tambangan, Kecamatan Takisung dan diapit oleh dua pantai lain, yaitu Pantai Batakan yang berada di Kecamatan Panyipatan dan Pantai Takisung yang berada di Kecamatan Takisung. Dari pusat Kota Pelaihari, pantai ini berjarak kurang lebih 35 kilometer.

Sama halnya seperti beberapa pantai di Indonesia yang memiliki legenda atau peristiwa-peristiwa yang konon pernah terjadi di pantai tersebut, seperti cerita Malin Kundang di Pantai Air Manis di Sumatera Barat dan Nyi Roro Kidul di Pantai Selatan Jawa, Pantai Batu Lima juga memiliki cerita.

Pada zaman dahulu di Pantai Batu Lima hiduplah lima orang laki-laki bersaudara, yang paling tua bernama Datu Cau, kedua bernama Datu Ajang, ketiga bernama Datu Lampiji, keempat bernama Datu Senjai dan yang paling muda bernama Datu Malin Kabau.

Baca Juga :  Matahari Tenggelam di Muara Sungai Barito, Susur Sungai yang Naik Kelas
Favehotel Banjarmasin

Pada waktu itu saudara paling tua mereka, yakni Datu Cau sudah berkeluarga dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Malin Cali. Kelima bersaudara ini berasal dari Suku Bugis, sebagaimana layaknya orang Bugis mereka menghidupi keluarganya dengan mencari ikan di laut.

Masyarakat di sekitar wilayah Pantai Batu Lima mempercayai bahwa di pantai Batu Lima ada sejenis ikan Pari yang berwarna putih, jika para nelayan melihat ikan tersebut dilarang untuk menangkap, apalagi sampai membunuh ikan tersebut. Apabila ada masyarakat yang melanggar pantangan tersebut maka akan mendapat bala atau kutukan.

Suatu hari, lima orang bersaudara ini berangkat bekerja untuk mencari ikan di laut, hari itu mereka mendapat hasil yang sangat banyak. Saking banyaknya tumpukan ikan yang mereka dapat, mereka tidak menyadari ikan pari putih yang dilarang juga ikut tertangkap dan terbunuh oleh mereka.

Baca Juga :  Ngabuburit Di Jembatan Rumpiang

Dalam sekejap, langit di Pantai Batu Lima itu berubah mendung, awan menjadi gelap dan datanglah badai yang menerjang lima bersaudara tersebut. Di dalam perahu itu kelima bersaudara ini kebingungan dan takut. Kemudian mereka teringat akan mitos tentang ikan pari putih dan tiba-tiba mereka berubah menjadi batu yang sekarang bersusun lima buah di pantai tersebut.

Kejadian tersebut membuat keluarga kelima nelayan akhirnya memutuskan untuk melakukan ritual bersih-bersih diri dengan melakukan ritual adat Banjar, yaitu mandi badudus. Hingga saat ini keturunan dari Datu Malin Cali (anak Datu Cau) melakukan ritual mandi badudus (mandi-mandi) di waktu yang ditentukan agar tidak terjadi bencana atau penyakit bagi keturunan mereka. (sal/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/