alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Puluhan Sapi di Kintap Mati Mendadak

PELAIHARI – Belasan sapi milik warga di Desa Mekar Sari Kecamatan Kintap mati mendadak diduga karena penyakit mulut dan kuku (PMK).

Witono, tokoh masyarakat setempat mengatakan jumlah sapi warga yang mati sekitar 18 ekor, termasuk dua ekor milik mertuanya.”Terakhir ada yang mati kemarin dua ekor milik Pak Sudarsono,” sebutnya, Senin (16/5).

Dia menceritakan, matinya hewan ternak milik warga tersebut terjadi pada malam hari.”Biasanya matinya sekitar pukul tiga subuh,” sebut Witono.

Favehotel Banjarmasin

Para peternak yang khawatir mulai mengembalikan ternaknya kepada pemiliknya karena takut disalahkan.”Rata-rata warga di sana memelihara sapi milik orang lain,” ujarnya.

Mendengar kabar tersebut, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Tanah Laut (Tala) bergerak cepat dengan turun langsung ke lokasi dan melakukan pengambilan sampel terhadap hewan ternak di sana.

“Dari klinis yang muncul dan tanda yang terlihat, sapi warga yang mati itu diduga terkena penyakit jembrana,” sebut Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pasca Panen dan Pengolahan Hasil pada Disnakeswan Tala, Muhammad Taufik.

Taufik meragukan itu karena PMK. Pasalnya sapi yang mati tanpa tanda melepuh di mulut atau kaki.”Kebetulan sapi yang mati di sana hanya sapi bali saja,” bebernya.

Meski demikian, untuk memastikan sampel yang diambil akan diperiksa di Balai Veteriner Banjarbaru.”Sapi yang tersisa di sana juga sudah kita tangani dengan melakukan penyuntikan dan diberikan obat untuk sapi terlihat sakit,” ungkap Taufik.

Baca Juga :  Konsumen Tetap Minat Beli Daging

Selain itu, pihaknya juga meminta para peternak untuk memberikan terapi sporting kepada ternaknya, seperti pemberian gula merah dan asam untuk meningkatkan stamina dan nafsu makan.”Kemarin juga kita berikan desinfektan untuk disemprotkan ke kandang-kandang milik peternak,” sebutnya.

Di Batola, untuk mewaspadai PMK, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) setempat melakukan monitoring dan penyemprotan disinfektan.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Batola, Suwartono Susanto mengatakan sejauh ini belum ada laporan sapi warga yang mati. “Mudah-mudahan tidak ada sapi yang terjangkit ataupun mati,” harapnya.

Terkait PMK, peternak sapi di Batola juga mengatakan hal yang senada. Belum ada sapi mereka yang mati.”Alhamdulillah sudah dilakukan pengecekan oleh dinas setempat. Sapi kami sehat semua,” ujar Suhidi, peternak sapi di Desa Puntik Mandastana.

PERIKSA: Distan HSU saat mengambil sampel hewan kambing dan sapi.

Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara juga melakukan antisipasi penyebaran PMK dengan melakukan uji sampel. Uji sampel ini tidak hanya menyasar ternak sapi, tapi juga kerbau dan kambing.

Kepala Distan Kabupaten HSU Masrai S.Nejar melalui Kabid Kesmavet drh Gusti Putu Susila mengatakan uji sampel melibatkan Balai Veteriner Kota Banjarbaru.

Untuk hasil belum dapat disampaikan. “Hubungi Kadistan saja, untuk hal tersebut,” sampainya.

Berita baiknya, semenjak adanya isu PMK, peternak sapi lokal mengalami kenaikan pesanan. Fadil peternak asal Kecamatan Tapin Tengah mengaku sudah ada delapan sapi yang dipesan darinya.

Baca Juga :  Sudah Puluhan Ternak di Kalsel Diduga Terinfeksi PMK

“Dari segi harga juga mengalami kenaikan. Untuk jenis limusin yang biasanya dijual 15 juta sampai 18 juta, sekarang bisa 20 juta,” ucapnya.

Untuk sekarang ini stok sapinya ada 18 ekor. Ia memprediksi sampai idul adha nanti permintaan sapinya tidak akan cukup. Pasalnya sejak ada isu PMK, sapi luar diperketat untuk masuk.

“Alhamdulillah sementara ini sapi saya tidak ada yang terkena penyakit tersebut,” syukurnya, seraya menambahkan bahwa sejak adanya isu tersebut ia sudah melakukan langkah antisipasi, salah satunya dengan cara memisahkan sapi-sapi tersebut. “Kita juga sementara ini tidak menerima yang menitipkan sapi di sini,” tambahnya.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Tapin, Wagimin menjelaskan bahwa sejak adanya PMK, timnya sudah melakukan pemantauan ke peternak sapi. Hasilnya belum ada yang terkena penyakit tersebut.

“Monitoring ini akan terus dilakukan, terutama di wilayah kantong sapi yang berada di Kecamatan Tapin Tengah dan Tapin Selatan. Kalau ada ditemukan gejala penyakit PMK, akan diisolasi ke tempat berbeda,” pungkasnya.

Ketua Komisi II DPRD Tapin, Wahyu Nugroho Ranoro minta Dinas Pertanian memperketat sapi yang masuk dari luar Kabupaten Tapin. Apalagi informasi terakhir kasusnya ditemukan di Pelaihari, jadi perlu pemeriksaan ketat.“Kami juga meminta Dinas terkait aktif memberikan informasi ke peternak maupun pedagang sapi terkait perkembangan PMK,” mintanya. (sal/bar/mar/dly/by/ran)

PELAIHARI – Belasan sapi milik warga di Desa Mekar Sari Kecamatan Kintap mati mendadak diduga karena penyakit mulut dan kuku (PMK).

Witono, tokoh masyarakat setempat mengatakan jumlah sapi warga yang mati sekitar 18 ekor, termasuk dua ekor milik mertuanya.”Terakhir ada yang mati kemarin dua ekor milik Pak Sudarsono,” sebutnya, Senin (16/5).

Dia menceritakan, matinya hewan ternak milik warga tersebut terjadi pada malam hari.”Biasanya matinya sekitar pukul tiga subuh,” sebut Witono.

Favehotel Banjarmasin

Para peternak yang khawatir mulai mengembalikan ternaknya kepada pemiliknya karena takut disalahkan.”Rata-rata warga di sana memelihara sapi milik orang lain,” ujarnya.

Mendengar kabar tersebut, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Tanah Laut (Tala) bergerak cepat dengan turun langsung ke lokasi dan melakukan pengambilan sampel terhadap hewan ternak di sana.

“Dari klinis yang muncul dan tanda yang terlihat, sapi warga yang mati itu diduga terkena penyakit jembrana,” sebut Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pasca Panen dan Pengolahan Hasil pada Disnakeswan Tala, Muhammad Taufik.

Taufik meragukan itu karena PMK. Pasalnya sapi yang mati tanpa tanda melepuh di mulut atau kaki.”Kebetulan sapi yang mati di sana hanya sapi bali saja,” bebernya.

Meski demikian, untuk memastikan sampel yang diambil akan diperiksa di Balai Veteriner Banjarbaru.”Sapi yang tersisa di sana juga sudah kita tangani dengan melakukan penyuntikan dan diberikan obat untuk sapi terlihat sakit,” ungkap Taufik.

Baca Juga :  Imbas Pengetatan, Harga Sapi Kurban Merangkak Naik

Selain itu, pihaknya juga meminta para peternak untuk memberikan terapi sporting kepada ternaknya, seperti pemberian gula merah dan asam untuk meningkatkan stamina dan nafsu makan.”Kemarin juga kita berikan desinfektan untuk disemprotkan ke kandang-kandang milik peternak,” sebutnya.

Di Batola, untuk mewaspadai PMK, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) setempat melakukan monitoring dan penyemprotan disinfektan.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Batola, Suwartono Susanto mengatakan sejauh ini belum ada laporan sapi warga yang mati. “Mudah-mudahan tidak ada sapi yang terjangkit ataupun mati,” harapnya.

Terkait PMK, peternak sapi di Batola juga mengatakan hal yang senada. Belum ada sapi mereka yang mati.”Alhamdulillah sudah dilakukan pengecekan oleh dinas setempat. Sapi kami sehat semua,” ujar Suhidi, peternak sapi di Desa Puntik Mandastana.

PERIKSA: Distan HSU saat mengambil sampel hewan kambing dan sapi.

Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara juga melakukan antisipasi penyebaran PMK dengan melakukan uji sampel. Uji sampel ini tidak hanya menyasar ternak sapi, tapi juga kerbau dan kambing.

Kepala Distan Kabupaten HSU Masrai S.Nejar melalui Kabid Kesmavet drh Gusti Putu Susila mengatakan uji sampel melibatkan Balai Veteriner Kota Banjarbaru.

Untuk hasil belum dapat disampaikan. “Hubungi Kadistan saja, untuk hal tersebut,” sampainya.

Berita baiknya, semenjak adanya isu PMK, peternak sapi lokal mengalami kenaikan pesanan. Fadil peternak asal Kecamatan Tapin Tengah mengaku sudah ada delapan sapi yang dipesan darinya.

Baca Juga :  Terdeteksi di Tala, Masih Dugaan di HSU, di Banjarmasin Belum Diketemukan PMK

“Dari segi harga juga mengalami kenaikan. Untuk jenis limusin yang biasanya dijual 15 juta sampai 18 juta, sekarang bisa 20 juta,” ucapnya.

Untuk sekarang ini stok sapinya ada 18 ekor. Ia memprediksi sampai idul adha nanti permintaan sapinya tidak akan cukup. Pasalnya sejak ada isu PMK, sapi luar diperketat untuk masuk.

“Alhamdulillah sementara ini sapi saya tidak ada yang terkena penyakit tersebut,” syukurnya, seraya menambahkan bahwa sejak adanya isu tersebut ia sudah melakukan langkah antisipasi, salah satunya dengan cara memisahkan sapi-sapi tersebut. “Kita juga sementara ini tidak menerima yang menitipkan sapi di sini,” tambahnya.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Tapin, Wagimin menjelaskan bahwa sejak adanya PMK, timnya sudah melakukan pemantauan ke peternak sapi. Hasilnya belum ada yang terkena penyakit tersebut.

“Monitoring ini akan terus dilakukan, terutama di wilayah kantong sapi yang berada di Kecamatan Tapin Tengah dan Tapin Selatan. Kalau ada ditemukan gejala penyakit PMK, akan diisolasi ke tempat berbeda,” pungkasnya.

Ketua Komisi II DPRD Tapin, Wahyu Nugroho Ranoro minta Dinas Pertanian memperketat sapi yang masuk dari luar Kabupaten Tapin. Apalagi informasi terakhir kasusnya ditemukan di Pelaihari, jadi perlu pemeriksaan ketat.“Kami juga meminta Dinas terkait aktif memberikan informasi ke peternak maupun pedagang sapi terkait perkembangan PMK,” mintanya. (sal/bar/mar/dly/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/